Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku

Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku
DLHS 75


Satu Minggu kemudian.


Rangga masih berada dirumahnya bersama Nara, karena Mama Rena belum pulang dari Sukabumi.


Selama cidera Rangga tidak pergi ke kantor sedangkan Nara tetap melakukan aktifitas seperti biasanya. Sebenarnya sih sama saja mau di rumah Mama Rena atau di rumah mereka, Rangga tetap tidak ada yang mengurus kalau Nara pergi bekerja. Tapi setidaknya saat malam hari ada yang menjaga Rangga.


Pukul 20.00


Setelah makan malam, Rangga pindah ke ruang tengah. Tidak pergi ke kantor bukan berarti Rangga menganggur. Rangga tetap bekerja dari rumah. Seperti saat ini, ia memeriksa laporan keuangan yang masuk selama seminggu dari bengkel-bengkel miliknya.


"Ini Mas salad buah-nya." ucap Nara sambil meletakkan mangkok salad buah di atas meja.


Setelah meletakkan salad buah, niatnya Nara ingin langsung masuk ke kamar, tapi baru juga Nara memutar tubuhnya, Rangga langsung memanggil Nara.


"Tunggu Ra." cegah Rangga.


Sontak Nara pun memutar balik tubuhnya.


"Butuh apa lagi?" tanya Nara ketus.


"Sini duduk dulu, ada yang mau aku omongin." jawab Rangga.


"Ngomongin apa? Kalau soal permasalahan diantara kita, aku masih belum bisa jawab, aku masih butuh waktu untuk mikir." jawab Nara.


"Bukan soal itu. Ini soal pekerjaan." jawab Rangga.


Nara mengernyitkan keningnya.


"Pekerjaan apa? Aku kan gak nganggur!" balas Nara.


"Makanya duduk dulu." balas Rangga.


Nara pun menurut dan duduk di single sofa.


"Apa? Cepetan bilang!" desak Nara.


"Mmm... kamu mau gak kerja di tempat aku. Jadi wakil aku." tanya Rangga.


Lagi lagi Nara mengernyitkan keningnya.


"Kenapa tiba-tiba kamu nawarin itu? Punya rencana busuk apa kamu?" curiga Nara.


"Astaga Nara, kok rencana busuk sih. Ini rencana baik loh Ra. Aku mau kamu selalu bareng sama aku kemanapun aku pergi. Aku gak mau kejadian yang kemaren terulang lagi." jawab Rangga.


"Kalau hanya itu alasannya, itu semua tergantung sama kamu! Kalau memang pada dasarnya kamu tukang selingkuh, sekalipun aku ada di samping kamu dua puluh empat jam tetap aja kamu masih bisa selingkuh." balas Nara.


"Tapi aku kan bukan tukang selingkuh, Ra. Kejadian kemaren kan bisa di bilang kecelakaan." balas Rangga membela diri.


"Ya sama aja kan!" balas Nara.


"Iya... iya..." jawab Rangga mengalah.


"Gimana Ra, kamu mau gak resign dari kerjaan kamu dan kerja sama aku?" tanya Rangga sekali lagi.


"Terus siapa dong yang ngawas showroom dan bengkel kalau aku gak ada?" lirih Rangga.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Nara.


"Aku mau ke Singapura. Rencananya aku mau terapi di rumah sakit tempat kita pemeriksaan kemaren." jawab Rangga.


Wajah ketus Nara langsung berubah drastis mendengar jawaban Rangga.


"Beberapa waktu lalu, aku udah hubungi pihak rumah sakit dan sebenarnya Minggu depan harusnya aku udah mulai terapi tapi karena bahu aku masih cidera, jadi di undur sampe bahu aku sembuh." lanjut Rangga.


"Ka-kamu serius Mas mau terapi?" tanya Nara.


"Mmm..." jawab Rangga sambil menganggukkan kepalanya.


"Aku tau kamu pengen banget punya anak kan, aku mau ngelakuin apa aja untuk kasih kamu anak." ucap Rangga.


"Memangnya aku udah setuju balikan sama kamu." balas Nara sambil memalingkan wajahnya.


"Yah mungkin sekarang kamu belum setuju tapi aku yakin besok-besok kamu pasti setuju balikan sama aku." jawab Rangga.


"Gimana, kamu mau yah jadi wakil aku." tanya Rangga sekali lagi.


"Kamu kan punya asisten, kenapa malah nawarin aku jadi wakil kamu?" tanya Nara.


"Ya karena kamu istri aku, orang yang paling aku percaya untuk gantiin aku." jawab Rangga.


"Kalau perlu aku akan balik nama semua aset aku atas nama kamu, showroom, bengkel, apartemen, mobil-mobil, tanah, semua hanya atas nama kamu, gak usah ada nama aku disana." Kata Rangga lagi.


"Kamu gak takut setelah itu kamu aku tendang?" tanya Nara.


"Gak! Sekalipun kamu tendang aku, aku akan bangkit lagi dan kejar kamu lagi. Gak perduli berapa kali kamu mau nendang aku pergi dari hidup kamu, aku akan kejar kamu. Sekalipun kamu sembunyi di lubang semut sekalipun, aku pasti bisa nemuin kamu." jawab Rangga.


"Cih." decih Nara sambil memutar bola matanya malas. Gombalan Rangga terlalu klise di telinganya.


"Gimana, mau yah? Kalau kamu mau, aku telepon pengacara sekarang biar langsung urus surat balik nama. Jadi saat aku di Singapura nanti aku bisa tenang ninggalin kerjaan di tangan kamu." tanya Rangga lagi.


"Nanti lah, aku pikir-pikir dulu. Masalahnya aku gak tau apa-apa soal dunia otomotif." jawab Nara.


"Kamu gak harus tau tentang dunia otomotif Ra, kamu kan boss jadi cukup pinter marketing aja. Selebihnya nanti urusan aku. Kamu urus pemasaran dan aku urus masalah teknisnya." balas Rangga.


Nara terdiam.


Ingin menerima tawaran Rangga tapi gengsi. Tapi ia juga sudah bosan kerja di bank, apalagi kalau ada nasabah yang menunggak pembayaran kredit, Nara selalu di buat sport jantung karena kena marah oleh kepala cabang.


Apa memang sebaiknya aku menerima tawaran Mas Rangga yah untuk membuka lembaran baru hubungan kami?


Gumam Nara menimbang-nimbang dalam hati.


💋💋💋


Bersambung...