
Hotel.
Sesampainya di kamar hotel, Nara langsung membaringkan Rangga di ranjang. Setelah itu ia pun cepat-cepat mengambil air hangat untuk Rangga.
"Ini Mas, diminum dulu." ucap Nara sambil membantu mengangkat kepala Rangga lalu membantu Rangga minum.
Setelah segelas air hangat tandas, Nara meletakkan gelas itu di nakas kemudian mencarikan Rangga jaket dan kaos kaki untuk lebih menghangatkan tubuh Rangga tak lupa Nara menaikkan suhu ruangan.
Jaket dan kaos kaki sudah Rangga pakai, selimut juga sudah menutupi tubuh Rangga.
Nara pun menemani Rangga sampai Rangga tertidur, persis emak-emak yang sedang mengeloni anaknya. Melihat Rangga sudah tidur, pelan-pelan Nara turun dari atas ranjang agar Rangga tidak terbangun, tapi baru saja Nara menggeser tubuhnya tiba-tiba tangan Rangga melingkar di pinggang Nara dan menahan Nara agar tidak kemana-mana.
"Jangan kemana-mana, aku mau kamu tetep disamping aku Ra." ucap Rangga dengan mata yang sayu antara ngantuk dan menggigil.
Mau tidak mau Nara pun tetap berada di sisi Rangga. Nara juga ikutan berbaring di sebelah Rangga, sementara Rangga, dia terus memeluk tubuh Nara untuk memastikan Nara tidak kemana-mana.
"Tidur lah." ucap Nara.
"Elus kepala aku Ra, aku kangen kamu elus seperti dulu." ucap Rangga.
Nara menuruti permintaan Rangga. Ia mengelus kepala Rangga seperti yang sering Nara lakukan sebelum si ja.lang gatal merusak rumah tangga mereka.
Nara sudah mengelus kepala Rangga tapi Rangga tidak juga menutup matanya. Matanya terus memandang Nara.
"Tidur dong Mas." ucap Nara.
"Biarkan mata ini terpejam sendiri Ra dan sebelum mata ini terpejam, aku ingin terus melihat wajah kamu, biar yang ada dalam mimpi aku hanya kamu seorang." jawab Rangga.
"Jadi selama ini ada orang lain yang masuk ke dalam mimpi kamu, iya?" Sindir Nara.
"Iya, ada." jawab Rangga.
Sontak mata Nara langsung membulat.
"Becanda Sayang. Ya gak ada dong Sayang, kan cuma kamu yang ada di hati dan pikiran aku saat ini dan selamanya." jawab Rangga.
"Cih..." decih Nara sambil memutar bola matanya malas.
"Udah ah kalau kamu gak mau tidur, aku males ngelus-ngelus kepala kamu!" Nara pun berhenti mengelus kepala Rangga lalu menggeser tubuhnya hendak beranjak dari ranjang tapi lagi-lagi Rangga langsung menarik pinggang Nara dan memeluk tubuh Nara erat-erat. Mata Nara dan mata Rangga saling menatap, untuk beberapa detik mata mereka hanya saling menatap tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Tak lama kemudian perlahan Rangga mendekatkan wajahnya ke wajah Nara. Nara yang merasakan wajah Rangga semakin mendekat dan menyadari kalau Rangga mau mencium dirinya hanya bisa menelan salivanya susah payah bukan menjauhkan kepalanya. Entah kenapa Nara merasa dari ujung kaki sampai ujung kepalanya susah sekali di gerakkan.
Cup. Sampai akhirnya bibir Rangga pun mendarat di bibir Nara.
Spontan Nara langsung memejamkan matanya. Melihat Nara memejamkan matanya, Rangga pun ikut memejamkan matanya dan mulai melu.mat bibir Nara dengan lembut dan luma.tan bibir Rangga mendapat respon dari Nara yang juga ikut melu.mat bibir Rangga.
Luma.tan-luma.tan yang tadinya lembut lama kelamaan semakin kasar dan penuh gairah. Bukan hanya bibir yang saling melu.mat tapi lidah juga ikut saling membelit. Bunyi decapan adalah bukti jika ciuman mereka sudah semakin panas.
Merasa Nara perlu mengisi oksigen dalam paru-parunya, Rangga melepas sejenak pungutan bibir mereka, tapi bibirnya tidak menganggur begitu saja, bibir Rangga terus bekerja menciumi titik-titik sensitif Nara yang bisa membangkitkan api gairah dalam tubuh Nara berkobar-kobar.
Nara yang sudah lama tidak mendapat sengatan kenikmatan di tubuhnya begitu menikmati sengatan-sengatan kenikmatan yang Rangga berikan.
Pertama Rangga menciumi telinga Nara, salah satu titik sensitif wanita.
"Sssh... Ah..." suara seksi nan erotis pun keluar begitu saja dari mulut Nara.
Mendengar suara seksi itu tubuh Rangga pun makin bergejolak dan makin menggila memberikan sengatan kenikmatan di tubuh Nara.
Tangan Rangga yang tadinya melingkar di pinggang Nara, kini sudah perlahan mendaki menuju gunung syusyu
Tubuh Nara makin menggelinjang seperti ular yang sedang ganti kulit begitu tangan Rangga bermain di gunung syusyu-nya.
Puas memberi sengatan kenikmatan di telinga Nara, Rangga pun menurunkan ciumannya di titik kedua, yaitu leher Nara. Rangga yang sudah lama tidak menyentuh tubuh istrinya sampai gemas menciumi leher istrinya dan alhasil Rangga meninggalkan cap bibirnya di leher Nara.
Rangga terus menurunkan ciumannya ke dada Nara sambil tubuhnya perlahan menindih tubuh Nara.
Tangan Rangga yang sangat profesional juga sudah berhasil menaikkan blouse yang Nara pakai sampai sebatas dada-nya bahkan tangan Rangga juga sudah berhasil membuka kancing b.ra Nara yang ada di depan.
Sampai disini Nara masih terbuai dengan cumbuan yang Rangga berikan. Namun, saat Rangga baru saja menyusu dan memainkan puncak gunung syusyunya dengan lidah, tiba-tiba saja otak Nara kembali memutar rekaman video percintaan Rangga dan Erika.
Sontak Nara langsung mendorong tubuh Rangga.
"Maaf Mas, aku belum bisa." ucap Nara lalu cepat-cepat beranjak dari atas ranjang dan berlari ke kamar mandi.
"Shiiiit!!!!!" geram Rangga sambil memukul bantal lalu membenamkan wajahnya di bantal sambil mengelus si walet yang sudah mengeras.
💋💋💋
Bersambung...