Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku

Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku
DLHS 66


Aesthetic Bar.


Pukul 22.00.


Karena masih merasa gabut, setelah mengantar Nara, Gandhi pun pergi ke bar untuk menghilangkan penatnya. Bar ini bar yang biasa menjadi tempat nongkrong Gandhi dan teman-temannya.


"Woy... Woy... Woy, kagak salah liat gue nih, tumben-tumbenan si big boss udah nongkrong disini?" ucap Angga, salah satu teman Gandhi saat melihat Gandhi sudah berada di tempat nongkrong mereka dan duduk di meja yang biasa mereka pakai.


"Apaan sih loe!" balas Gandhi sambil menyesap wine-nya.


Angga pun duduk di bangku sebelah kanan Gandhi dan Derel teman Gandhi yang lain yang datang bersama dengan Angga duduk di sebelah kiri Gandhi.


"Tumben Pak bos kesini? Lagi galau Pak bos?" tanya Derel.


"Ya, bisa dibilang gitu lah." jawab Gandhi.


"Ada apa bro, cerita dong sama kita." balas Derel.


"Biasalah soal nyokap gue." jawab Gandhi.


"Kenapa nyokap loe?" tanya Angga.


"Dia jodohin gue sama anak temen sosialitanya, males banget gue!" jawab Gandhi.


"Ya loe coba kenalan aja dulu bro, siapa tau aja cocok." balas Derel.


"Bener tuh, emangnya mau sampe kapan loe nge-jomblo? Udah tua loe Gan!" timpal Angga.


Gandhi tak menjawab, ia hanya menuangkan wine ke gelasnya lalu menenggaknya.


"Eh... ngomong-ngomong loe tau gak si Nara kata mau cerai sama suaminya." ucap Angga yang tiba-tiba teringat akan informasi yang ia dapatkan beberapa hari lalu.


Sontak Gandhi langsung menoleh kearah Angga.


"Nara siapa?" tanya Gandhi memastikan kalau yang Nara yang ada di pikiran Gandhi sama dengan Nara yang sedang Angga bicarakan. Maklum saja, teman mereka banyak yang bernama Nara.


"Kinara, mantan loe itu bro." jawab Angga.


Gandhi malah terkekeh kecil, ia menganggap Angga sedang membuat lelucon sekarang.


"Dih ketawa, gue serius Gan!" ucap Angga.


"Tau darimana loe?" tanya Gandhi. Gandhi tidak bilang kalau tadi ia baru saja mengantar Nara pulang.


Gandhi pun menoleh ke arah Darel dan Darel menjawab dengan anggukkan kepala.


"Anak-anak tau darimana?" tanya Gandhi.


"Ya mana gue tau, tapi katanya Nara pernah hubungi temennya, siapa gitu temennya, lupa gue juga namanya, untuk minta nomor pengacara. Nah, temennya Nara itu ngasih nomornya Bang Tumpal, karena kebetulan sepupunya kerja sama Bang Tumpal. Nah terus sepupunya temennya Nara itu ngadu lah sama temennya Nara kalau Nara mau ngajuin gugatan cerai sama suaminya karena suaminya ketauan selingkuh dan punya anak dari selingkuhannya." jawab Angga.


"Masa sih? Kok gue gak percaya sama omongan loe." balas Gandhi yang menolak percaya.


"Ya elah Pak Bos, terserah loe deh. Minggu lalu heboh kok kita disini ngebahas itu." jawab Angga.


Gandhi terdiam sambil membayangkan wajah Nara saat mengantar Nara pulang tadi.


"Loe tau gak suaminya Nara itu ternyata pemilik Ra.Wi Motocars, bro, makanya anak-anak pada heboh, soalnya rata-rata anak-anak servis mobil sport mereka di bengkelnya dan kita semua gak tau kalau itu showroom punya lakiknya si Nara." ucap Angga lagi.


"Kayaknya loe masih punya harapan deh bro buat bersatu sama Nara lagi." ucap Derel sambil menepuk pundak Gandhi.


"Cih, apaan sih loe, berat lah! Kalian tau sendiri nyokap gue kayak gimana." balas Gandhi.


"Ya mungkin aja nanti setelah nyokap loe ketemu sama Nara lagi, nyokap loe langsung berubah pikiran. Katanya anak-anak sih, Nara yang sekarang beda banget sama Nara yang loe pacarin dulu, bro." jawab Angga.


"Ho'oh, gue pernah tuh ketemu sama dia di Bank ABC, pas gue mau ngajuin kredit, eh... gak taunya dia wakil manajer bagian kredit, lebih glowing dia bro." timpal Derel.


"Iya gue tau. Gue juga tadi ketemu dia kok, malahan gue nganter dia pulang." balas Gandhi.


"Hah, serius loe bro?" kaget Darel dan Angga bersamaan.


"Serius. Tapi gue liat mukanya biasa aja, gak ada sedih-sedihnya sama sekali. Kan biasanya perempuan kalau suaminya ketauan selingkuh langsung kayak depresi gitu mukanya." ucap Gandhi.


"Ya orang loe ngeliat Nara pake cinta, ya mana kelihatan lah muka depresinya si Nara." sahut Angga.


"Coba aja loe tanya langsung ke Nara, apa bener gosip yang beredar." timpal Derel.


Gandhi kembali terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya saran Derel itu ada benarnya, daripada penasaran dengan kebenaran gosip yang beredar di circle-nya yah lebih baik bertanya langsung pada orangnya.


Tapi Gandhi tidak berniat menanyakannya lewat telepon, melainkan ingin menanyakannya secara langsung, agar Gandhi bisa sekalian menghibur Nara kalau memang gosip itu benar adanya.


💋💋💋


Bersambung...