
Dua hari berlalu.
Selama dua hari selagi Nara menunggu kabar dari sang pengacara, sikap Nara ke Rangga masih acuh. Meski Rangga memilih untuk tetap tinggal di rumah mereka, tapi Nara tidak memperdulikan Rangga sama sekali, ia tidak memperdulikan apa yang Rangga lakukan padanya.
Kantor Nara.
Pukul 12.00
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, Nara pun keluar dari kantornya untuk makan siang.
"Nara..." panggil Mama Rena yang sudah menunggu Nara sejak setengah jam yang lalu.
Anaknya tidak berhasil membujuk Nara, maka mamanya lah yang turun tangan membujuk menantu kesayangannya itu.
Nara yang hendak membuka pintu mobil pun menoleh kebelakang.
Melihat Mama Rena, Nara hanya menghela nafasnya kasar, seandainya ini bukan di kantor, ingin sekali rasanya Nara mengacuhkan Mama mertuanya, masalahnya sekarang mereka ada di area kantor dan banyak yang mengantri di mesin ATM dekat mobil Nara terparkir, mau tidak mau Nara tidak bisa mengacuhkan wanita paruh baya yang masih berstatus Mama mertuanya itu. Mama Rena pun berjalan mendekati Nara.
"Mama mau bicara." ucap Mama Rena.
"Kita ngobrol di Maiko Resto aja, kebetulan Nara mau makan siang disana." jawab Nara.
Mama Rena pun menganggukkan kepalanya setuju dan Nara pun membalikkan badannya lalu membuka pintu mobilnya lalu masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari area bank.
Setelah mobil Nara pergi, Mama Rena pun cepat-cepat berjalan menuju mobilnya dan meminta supirnya untuk mengikuti mobil Nara.
Saat dalam perjalanan Mama Rena menghubungi Rangga dan memberitahu Rangga kalau Nara mau bicara dengan Mama dan meminta Rangga tidak perlu menyusul ke Maiko Resto karena takut mood Nara berubah begitu melihat Rangga.
💋💋💋
Maiko Resto
Kini Nara dan Mama Rena sudah berada di Maiko Resto.
Setelah memesan makanan, tanpa basa-basi Nara langsung meminta Mama Rena untuk mengutarakan apa yang ingin Mama Rena katakan.
"Nara, Mama minta maaf sama kamu karena sudah menutupi masalah ini dari kamu. Mama tau Mama salah, tolong maafkan Mama, maafkan Rangga. Mama yakin kalau-"
"Ma, sekarang Nara tanya balik sama Mama. Kalau Mama ada di posisi Nara, apa Mama akan mudah memaafkan mertua Mama dan suami Mama yang sudah membohongi Mama selama berbulan-bulan?" sela Nara.
Mama Rena terdiam dan langsung menundukkan wajahnya karena malu.
"Gak kan Ma? Begitu pun dengan Nara, Ma. Apa karena Nara ini yatim piatu makanya Mama dan Mas Rangga pikir kalau Nara ini perempuan yang gampang di bodohi?" ucap Nara.
"Justru karena Nara ini anak yatim piatu Ma, kalian harusnya berhati-hati kalau mau menutupi sesuatu dari Nara. Karena Nara ini sudah terbiasa menggunakan otak Nara untuk bertahan hidup dan disaat Nara menggunakan hati Nara, Nara akan menjadi orang yang sangat sensitif dan gak mudah memaafkan kalau ada orang yang mengkhianati Nara." kata Nara lagi.
"Seandainya dari awal kalian jujur sama Nara, mungkin Nara gak akan semarah ini dan masih bisa menggunakan logika Nara untuk memaafkan kalian tapi kalian sudah membohongi Nara, jadi hati Nara lah yang bekerja sekarang." Lanjut Nara.
"Maaf Nara, maaf, Mama sudah gak tau harus bilang apalagi, Mama hanya bisa minta maaf. Mama gak mau kamu dan Rangga bercerai, Mama sayang banget sama kamu Nara, tolong berikan Rangga kesempatan sekali lagi." mohon Mama Rena.
"Mama yakin Erika itu perempuan licik dan anak yang ada dalam kandungan Erika itu bukan anak Rangga, tapi memang dasarnya Rangganya saja yang bebal dan tidak pernah mau dengar kata-kata Mama, jadi setiap perempuan itu mengeluh ini itu dengan perutnya, Rangga ketakutan takut terjadi apa-apa dengan kandungan Erika karena Rangga takut kalau anak yang di kandung Erika itu memang anaknya, dia gak mau nyesal kalau sampai terjadi apa-apa sama anaknya." kata Mama Rena lagi.
"Nara, sama seperti kamu menyelamatkan Rangga dulu dari kecanduannya, tolong kali ini selamatkan Rangga lagi dari jerat perempuan licik itu. Kalau kamu berpisah, perempuan licik itu akan merasa menang sudah berhasil menyingkirkan kamu, karena Mama yakin tujuan perempuan licik itu untuk menyingkirkan kamu." mohon Mama Rena.
Nara terdiam. Menurut Nara yang dikatakan Mama Rena ada benarnya.
"Mama mohon Nara, Rangga hanya mencintai kamu dan hanya mau mendengarkan kata-kata kamu. Mama yakin apapun yang kamu katakan pasti akan Rangga lakukan." mohon Mama Rena lagi saat Nara masih berpikir.
TRING. Tiba-tiba ponsel Nara berbunyi. Ada notifikasi pesan masuk di ponsel-nya dari asisten pengacaranya.
Merasa pesan itu adalah kabar yang ditunggu-tunggu Nara, Nara pun membuka pesan itu.
Nara pun membaca laporan yang di berikan asisten pengacaranya. Rahang Nara mengeras, tangannya mencengkram ponselnya kuat-kuat saat membaca pesan itu.
"Baik, Nara akan kasih kesempatan sama Mas Rangga, tapi Nara butuh bantuan Mama sekarang." ucap Nara dengan sorot mata yang sangat tajam.
💋💋💋
Bersambung...