
"Karena belum ada yang seperti kamu." jawab Gandhi.
Nara langsung mematung seketika mendengar jawaban Gandhi.
"Gak kok becanda." kata Gandhi lagi sambil terkekeh kecil.
Mendengar itu Nara pun menghela nafasnya lega.
"Kamu ih, bikin aku syok aja." ucap Nara.
"Bukannya kamu di Jerman yah?" tanya Nara.
"Udah setahun aku disini, ngurus perusahaan Papa yang disini." jawab Gandhi.
"Oh..." balas Nara sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh iya suami kamu mana, kok gak jemput kamu?" tanya Gandhi.
"Um... dia lagi sibuk." jawab Nara berbohong. Ia tidak mau menceritakan masalahnya rumah tangganya dengan orang lain, apalagi Gandhi adalah mantan kekasihnya.
"Oh. Terus kamu tadi dari Resto Music?" tanya Gandhi.
"Mmm... sama temen-temen kantor." jawab Nara.
"Oh. Oh iya kerja dimana kamu?" tanya Gandhi.
"Di bank." jawab Nara.
"Gak mau gitu pindah ke perusahaan aku? Kebetulan aku lagi nyari sekretaris." tanya Gandhi.
Nara langsung memberikan tatapan aneh pada Gandhi.
"Eits jangan salah paham dulu, ini aku bukan modus, aku beneran lagi nyari sekretaris, sekretaris lama aku udah resign karena anak terakhirnya ada yang autis jadi dia mau full ngurus anaknya. Makanya sekarang aku lagi nyari orang yang bener kompeten buat jadi sekretaris aku. Harus bisa sat set sat set kalau kerja." cepat-cepat Gandhi memberi penjelasan pada Nara karena melihat tatapan aneh Nara.
"Oh." Nara hanya membulatkan mulutnya.
Sebenarnya Nara juga ingin mencari pekerjaan baru, ia sudah lumayan lelah bekerja di bank bagian kredit. Tapi mengingat umurnya yang sudah tiga puluh tahun, pasti sangat sulit mencari pekerjaan di umur segitu. Walau begitu Nara sama sekali tidak berniat bekerja sebagai sekretaris Gandhi, bukan karena tidak mau atau merasa tidak kompeten, melainkan takut kalau sampai orangtua Gandhi mendengar Nara bekerja sebagai sekretaris Gandhi, bisa-bisa nanti orangtua Gandhi melabrak Nara seperti dulu lagi.
"Gimana mau gak?" tanya Gandhi sekali lagi.
"Gak deh Gan, aku takut sama Mama kamu. Kalau dia tahu aku kerja sama kamu, habis aku nanti. Aku gak mau ada keributan." jawab Nara terus terang.
"Kamu masih inget aja masalah dulu." balas Gandhi.
"Ya gimana bisa lupa, kalau Mama kamu labrak aku di depan orang banyak." balas Nara.
"Maaf yah soal itu." ucap Gandhi tidak enak hati.
"Iya gak pa-pa. Lagian itu kan udah lama banget. Aku juga udah gak sakit hati lagi kok. Cuma yah menghindar aja lah dari hal-hal yang gak diinginkan." balas Nara.
"Tapi kalau kamu berubah pikiran, hubungi aku aja, aku pasti tempatkan kamu di posisi yang layak di perusahaan aku." balas Gandhi.
Tak terasa setelah kurang lebih dua puluh menit perjalanan akhirnya mobil yang di bawa Gandhi sampai juga di depan rumah Nara.
Nara pun mengeluarkan uang untuk membayar ongkos taksi-nya.
"Ini Gan." ucap Nara seraya menyodorkan uang itu.
Gandhi pun tertawa terbahak-bahak melihat Nara menyodorkan uang itu padanya.
"Kok ketawa, ini ambil." ucap Nara.
"Kamu becanda ngasih ongkos sama aku??" tanya Gandhi.
"Kan aku mesen taksi online, yah berarti aku harus bayar dong." jawab Nara.
"Gak usah Ra, simpen aja uangnya, anggap supir taksi onlinenya lagi sedekah anter orang gratisan." balas Gandhi.
Nara tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala.
"Kamu tuh. Lain kali kalau gabut jangan jadi supir taksi online, sana nguras Danau Toba sekalian." ucap Nara.
Gandhi kembali tertawa terbahak-bahak.
"Kamu tuh bisa aja." balas Gandhi.
"Aku turun yah. Makasih banyak loh udah sedekah nganterin penumpang secara gratis." ucap Nara.
"Sama-sama." balas Gandhi.
"Ra..." panggil Gandhi saat Nara hendak membuka pintu.
"Kenapa?"
"Aku boleh save nomor kamu kan?" tanya Gandhi.
Nara terdiam beberapa detik.
"Boleh simpen aja." jawab Nara.
"Kamu juga simpen nomor aku yah." balas Gandhi dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Nara.
"Ya udah yah, sekali lagi makasih loh." ucap Nara dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Gandhi.
Nara pun keluar dari mobil Gandhi lalu masuk kedalam rumah.
"Yang aku omongin tadi serius Ra, belum ada yang seperti kamu. Sampai detik ini pun masih kamu yang bertahta dalam hati aku." lirih Gandhi sambil melihat Nara yang sedang memasuki halaman rumahnya.
💋💋💋
Bersambung...