
Setelah keluar dari rumah sakit, Nara dan Rangga pun pergi ke restoran untuk mengisi perut mereka.
Setelah makan siang, Nara pun lanjut berbelanja.
Sudah satu jam mereka memasuki satu toko ke toko yang lainnya tapi belum ada satu pun barang yang Nara beli.
"Kamu gak capek Ra? Kita dari nyampe sampe sekarang belum ada istirahat loh." ucap Rangga.
"Kalau kamu udah capek pulang duluan aja ke hotel, aku bisa pulang sendiri kok nanti." jawab Nara sambil matanya melihat-lihat sepatu. Kini mereka ada di salah satu toko sepatu. Entah toko sepatu yang ke berapa mereka masukin.
"Aku sih gak capek, aku masih kuat kok. Yang aku khawatiran tuh kamu, badan kamu kan-"
"Apa? Kamu mau bilang badan aku ringkih?! Kamu pikir aku ini nenek-nenek apa!" potong Nara.
"Gak kok, aku gak bilang gitu. Aku mau bilang badan kamu berharga banget Ra, kamu kan CEO sekarang jadi badan kamu gak boleh capek." jawab Rangga sambil tersenyum paksa.
Nara membulatkan matanya malas.
"Banyak alasan kamu! Bilang aja kalau kamu udah capek, gak mau nemenin aku belanja! Daripada kamu bikin aku emosi mending kamu pulang duluan deh!" omel Nara.
"Nemenin gundik kamu berjam-jam kontrol aja gak ada bosennya, giliran nemenin aku belanja baru juga satu jam udah rewel kayak anak bayi!" dumel Nara lagi.
Rangga langsung kicep mendengar dumelan Nara.
"Iya... Iya... Aku diem. Ya udah, lanjut lagi belanjanya." ucap Rangga.
Nara pun kembali mengelilingi toko untuk mencari-cari sepatu yang ia sukai.
Tiga jam kemudian.
Setelah empat jam berkeliling memasuki satu toko ke toko yang lainnya, hasil perburuan Nara selama empat jam itu hanya dua papper bag saja. Itu pun berisi tiga pasang pakaian rumahan dan dua pasang pakaian pergi-pergi selama di Singapura, karena pakaian pergi yang Nara bawa hanya yang menempel di badannya saat ini sepasang kaos couple dan sepasang sepatu sendal couple untuk Nara dan Rangga. Dan semua itu di belik di satu toko saja dan yang paling menjengkelkan toko yang pertama mereka masuki dan semua itu diskon tiga puluh persen.
Rangga hanya bisa menghela nafas kasar sambil mengelus dada. Ia tak habis pikir dengan Nara, lebih dari sepuluh toko yang di masuki tapi ujung-ujungnya balik ke toko pertama, sudah begitu hanya sedikit yang di belanjakan dan diskon pula. Padahal kartu hitam milik Rangga di pegang oleh Nara.
"Kita keliling-keliling empat jam hanya segini aja belanjaannya?" tanya Rangga.
"Iya. Kenapa?" jawab Nara lalu balik bertanya dengan raut wajah tanpa dosa.
"Gak pa-pa. Cuma kurang banyak aja Sayang. Kurang banyak kamu habisin yang aku." jawab Rangga sambil menyengir kuda.
"Uang kamu? Hiiih... uang aku kali! Lupa kamu semua aset kamu udah jadi milik aku! Lagian ini masih hari pertama, kita kan masih lama disini, jadi masih ada hari esok buat belanja." jawab Nara ketus.
Rangga tidak bisa membayangkan setiap hari akan menemin Nara berjam-jam hanya untuk berbelanja. Padahal Nara hanya menemaninya di rumah sakit hanya dua jam.
Tapi demi meluluhkan hati Nara, demi menebus semua kesalahannya pada Nara, Rangga rela dan ikhlas menemani Nara berjam-jam berbelanja. Yah walaupun ada kaki yang sudah ingin patah.
💋💋💋
Malam harinya.
Pukul 22.00
Nara sudah tertidur pulas, sedangkan Rangga baru selesai memeriksa laporan keuangan yang masuk.
Walau jabatannya sekarang Nara adalah bos, tapi tetap saja semua laporan Rangga yang mengecek.
Setelah selesai mengecek laporan, Rangga pun menutup laptopnya lalu naik ke atas ranjang dan menyusul Nara yang sudah ke alam mimpi lebih dulu.
Dengan bertumpu dengan satu tangan, Rangga memperhatikan wajah Nara yang sedang tidur terlebih dahulu.
"Aku kangen banget masa-masa kita tidur bareng seperti ini Ra. Makasih yah udah mengizinkan aku tidur di samping kamu lagi." ucap Rangga sambil mengelus pipi Nara.
"Eugh..." karena sentuhan Rangga, Nara yang sedang tidur jadi melenguh sambil menggeliat lalu memeluk Rangga.
Rangga tersenyum tipis, ini jackpot untuk Rangga.
Pelan-pelan Rangga pun berbaring lalu menarik tubuh Nara agar semakin menempel di tubuh Rangga.
Kepala Nara yang tepat di dada Rangga membuat Rangga bisa menghirup jelas aroma rambut Nara.
"Aku kangen banget sama aroma ini Ra." ucap Rangga sambil menciumi rambut Nara.
Nara pun menggeliat lagi dan kali ini dengkul kaki-nya berada tepat di sangkar si walet.
Rangga melipat bibirnya rapat-rapat.
Aduh Naraaaa.... kenapa harus mendarat di situ sih? gerutu Rangga dalam hati.
💋💋💋
Bersambung...