
Nara berjalan mendekati Rangga.
"Jadi kamu tadi ngapain ada di sekitaran coffee shop, Mas?" tanya Nara dengan kedua tangan yang di lipat di dada.
"Ummm... Itu... anu..."
"Kamu nguntit aku kan?" tanya Nara dengan tatapan mengintimidasi.
Rangga menghela nafasnya kasar. Nara terlalu pintar dan tidak akan mungkin ia bisa membohongi Nara.
"Mmmm... bisa di bilang gitu lah." jawab Rangga mengaku.
"Cih!" decih Nara.
"Aku ngelakuin itu karena aku gak bisa gak ngeliat wajah kamu, Ra. Aku nungguin di depan rumah, pas ngeliat mobil kamu keluar, ya udah aku ikutin. Aku pikir kamu mau lembur, eh... gak taunya mau ketemu sama laki-laki itu." ucap Rangga.
"Jangan marah yah, Ra." mohon Rangga.
Nara menghela nafasnya kasar lalu menarik kursi kemudian mendaratkan bokongnya di kursi.
"Namanya Gandhi, Mas." ucap Nara sambil mengambil roti tawar yang tadi Nara beli setelah menyelesaikan administrasi. Sambil bercerita, Nara sambil membuat roti tawar isi selai coklat untuk Rangga.
"Dia mantan pacar aku." lanjut Nara.
"Dia ngajak aku ketemuan karena dia dengar kabar aku mau gugat cerai kamu." lanjut Nara lalu memberikan roti tawar pada Rangga.
"Aku udah denger semua tadi." sahut Rangga.
"Kamu juga nguping pembicaraan aku sama dia?" tanya Nara.
Rangga menganggukkan kepalanya.
"Aku penasaran apa yang mau kalian bicarakan. Makanya aku duduk pas di belakang kamu dan denger semua yang kalian bicarakan." jawab Rangga.
"Nyebelin!" kesal Nara.
"Aku jadi malu sendiri sama kamu, Ra." ucap Rangga.
"Di depan laki-laki tadi, kamu membela aku mati-matian, kamu gak menjatuhkan harga diri aku dan berusaha keras menutupi aib aku. Makasih yah Ra. Kamu benar-benar istri idaman." lanjut Rangga.
"Baru tau kamu kalau aku ini istri idaman! Makanya baru denger aku mau cerai aja, udah ada yang daftar. Gimana kalau aku beneran buka pendaftaran, Mas! Gak tau lagi deh seberapa panjang antriannya." balas Nara.
"Cih! Tapi di hidup kamu bukan cuma aku aja kan?" sindir Nara.
"Aku salah, aku minta maaf." balas Rangga.
"Ra, kita jangan cerai yah. Kamu maafin aku yah, kasih aku kesempatan sekali lagi yah. Aku janji Ra, gak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Please Ra." kata Rangga lagi.
"Untuk sekarang aku belum bisa jawab soal itu, Mas. Aku masih butuh waktu." jawab Nara.
"Oke, gak pa-pa. Selama apapun itu aku akan tunggu. Aku tau kesalahan aku gak mudah untuk dimaafkan dan di lupakan. Aku akan melakukan apapun yang kamu mau untuk menebus kesalahan aku asal kamu jangan minta pisah dari aku." balas Rangga.
Nara menghela nafasnya kasar lalu berdiri dari duduknya.
"Aku pulang dulu." pamit Nara.
"Loh kok pulang? Terus yang jaga aku disini siapa, Ra?"
"Kan ada perawat." jawab Nara.
"Tapi Ra-"
"Nanti malam aku balik lagi. Ada kerjaan yang harus aku selesaikan." potong Nara.
"Oh..." Rangga membulatkan mulutnya, wajah-nya pun langsung berubah senang.
Rangga pikir Nara benar-benar akan meninggalkannya di rumah sakit sendirian.
"Bener yah Ra, aku tunggu kalau gitu." ucap Rangga.
"Mmm..." balas Nara lalu keluar dari kamar rawat Rangga.
Setelah berada di luar kamar, Nara pun menghubungi pengacara Tumpal. Kerjaan yang ingin Nara selesaikan adalah menghentikan gugatan cerai Nara pada Rangga. Nara ingin memberi kesempatan untuk Rangga, meski begitu ia tidak akan blak-blakan mengatakan pada Rangga kalau dirinya mau memberikan kesempatan untuk Rangga.
Nara ingin melihat seberapa besar usaha Rangga untuk meyakinkan dirinya kalau Rangga memang layak diberi kesempatan kedua.
💋💋💋
Bersambung...