
"Gak Ra, aku gak bisa. Lebih baik aku yang melepas semua harta aku dan aku berikan semuanya untuk kamu asal kamu kasih aku kesempatan satu kali lagi. Aku mohon Ra." mohon Rangga.
"Mas, aku gak mau ribut. Aku mau kita berpisah secara baik-baik. Aku juga gak akan melaporkan mu dengan tuduhan perselingkuhan, akan aku anggap kalau kamu memang benar-benar di jebak. Tapi aku mohon lepaskan aku, tanda tangani surat itu, aku butuh melanjutkan hidupku dengan baik." ucap Nara.
Emosi Rangga sedikit terpancing saat mendengar kalimat terakhir Nara.
"Apa karena aku gak bisa kasih kamu anak makanya kamu gak mau kasih aku kesempatan?" tanya Rangga dengan sorot mata yang tajam.
Nara tersenyum kecut.
"Kenapa kamu jadi mikir gitu?" tanya Nara.
"Karena aku tahu kamu pengen banget punya anak kan? Dan kamu tau kalau kamu tetap sama aku, kamu gak akan bisa punya anak makanya kamu gak mau kasih aku kesempatan sekali lagi biar bisa kamu nikah lagi dan punya anak, iya kan?" tanya Rangga dengan nada yang sedikit meninggi.
Nara menaikkan sudut bibirnya lalu melipat kedua tangannya di dada.
"Sekarang aku balikin pertanyaan itu sama kamu. Kamu sendiri gimana Mas? Kamu dengan suka rela di bodohi sama gundik kamu itu karena berharap kalau anak yang di kandung gundik kamu itu anak kamu kan? Karena kamu mikirnya aku yang mandul kan? Iya kan?" tanya Nara balik dengan nada yang tak kalah meninggi dari Rangga.
"Kamu sampe rela sewain gundik kamu itu apartemen yang bisa di bilang wah biar gundik kamu nyaman, kamu sampe rela ngorbanin waktu kamu untuk nganter gundik kamu kontrol bulanan dan ngelus-ngelus perut gundik kamu, dan aku yakin saat kita ketemu di restoran Jepang waktu itu, itu kamu lagi menuhi ngidamnya gundik kamu itu kan, Mas? Untuk apa kamu melakukan semua itu kalau memang kamu merasa diri kamu di jebak? Untuk apa kamu melakukan semua itu kalau memang kamu gak yakin anak yang di kandungan gundik kamu bukan anak kamu, hah? Kamu melakukan semua itu karena kamu yakin kalau anak yang di kandungan gundik kamu itu anak kamu, iya kan Mas?!" teriak Nara di akhir kalimatnya.
"Alasan aku ingin tetap bercerai dari kamu karena aku tau kalau aku gak akan bisa melupakan masalah ini begitu aja Mas. Apa kamu mau kalau setiap hari aku curiga sama kamu? Nanti setiap kamu pulang terlambat, aku curiga, setiap kita berhubungan intim, aku curiga, apapun yang kamu lakuin di luar sana aku curiga. Apa kamu mau menjalani rumah tangga yang sudah gak ada kesejahteraan lagi? Mungkin kamu bisa Mas, tapi aku gak. Aku gak bisa menjalani rumah tangga kalau setiap hari aku selalu di hantui rasa curiga. Itu akan menyakiti kamu dan pastinya juga menyakiti aku. Makanya aku gak mau melanjutkan pernikahan ini, aku gak mau nyakitin diri aku sendiri Mas." ucap Nara.
Rangga pun berjalan mendekati Nara, ia menyesal sudah bicara sembarangan pada Nara.
"Maafin aku Sayang, aku salah, aku gak ada maksud melimpahkan kesalahan sama kamu, aku tau aku yang salah, aku minta maaf." ucap Rangga sambil menggenggam tangan Nara dan dengan cepat Nara menepis tangan Rangga.
"Aku maafin kamu Mas, tapi tolong tanda tangan surat itu selagi aku memintanya baik-baik." jawab Nara lalu hendak memutar tubuhnya untuk pergi dari hadapan Rangga. Nara sudah malas melanjutkan perdebatan dengan Rangga.
Namun, tiba-tiba saja Rangga berlutut di depan Nara.
"Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi Nara. Please sekali lagi. Aku tau sekarang kamu masih marah sama aku, kita coba beberapa bulan lagi menjalani rumah tangga ini, kalau memang hati mu masih tidak bisa percaya sama aku, maka aku akan menerima apapun keputusan mu nanti." mohon Rangga sambil menundukkan kepalanya.
💋💋💋
Bersambung...