
"Tapi ini perselingkuhan, Ra. Gimana bisa kamu dengan mudah memaafkan suami kamu yang berselingkuh?" Gandhi mencoba mengompori Nara.
"Siapa bilang aku mudah memaafkan? Jelas gak semudah itu memaafkan, tapi menurut aku tidak buruk untuk memberi kesempatan kedua pada suami aku selagi dia sadar dengan kesalahan yang sudah ia perbuat. Dan yang paling penting, aku malas menjalin hubungan yang baru. Kalaupun memang rumah tangga aku harus berakhir sampai disini, aku juga tidak akan mau menikah lagi." jawab Nara. Secara tidak langsung Nara mau menjawab kalau Nara menolak Gandhi.
"Kenapa? Kamu berhak bahagia, Ra. Laki-laki kalau sekali selingkuh dan kamu maafkan, maka dia akan melakukannya sekali lagi karena yakin kalau pasti kamu akan memaafkannya kembali." balas Gandhi.
"Aku percaya suami aku. Dan aku yakin suami aku sangat tau siapa aku." balas Nara.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Dan aku mohon sama kamu, tolong jangan berharap padaku, hubungan kita sudah lama berakhir dan aku sudah tidak punya perasaan apa-apalagi padamu." ucap Nara.
Mendengar itu, Rangga merasa lega. Karena sudah tidak ada yang perlu di dengar, Rangga pun beranjak dari duduknya sebelum Nara beranjak dari duduknya duluan kemudian melihat keberadaannya.
"Tapi Ra-"
"Gan... walau suami aku pernah melakukan kesalahan, tapi seenggaknya suami aku mengakui dan menyesali kesalahannya dan yang paling penting suami aku juga berjuang mempertahankan rumah tangga kami. Tidak seperti kamu dulu, diam saja saat aku di tindas dan di permalukan Mama mu. Dari situ aku bisa menilai, lebih baik aku bertahan dengan orang yang mau berjuang memperbaiki kesalahannya ketimbang hidup dengan orang yang hanya modal ucapan cinta tapi tidak pernah membela dan memperjuangkan cintanya." potong Nara.
Kata-kata Nara berhasil membuat Gandhi tertampar. Gandhi kembali teringat saat Nara di hina dan ditampar oleh Mamanya di depan umum, ia hanya diam saja bahkan untuk sekedar menjauhkan Mama-nya dari Nara saja Gandhi tidak melakukan itu. Gandhi sadar kalau dirinya adalah seorang pengecut.
Nara pun berdiri dari duduknya.
"Aku pulang." pamit Nara lalu keluar dari dalam coffee shop.
Gandhi pun mengejar Nara yang sudah sampai ke parkiran.
"Nara tunggu!!!" teriak Gandhi.
Nara pun menoleh ke belakang.
"Apalagi Gan? Apa masih ada kata-kata aku yang belum kamu mengerti?" tanya Nara.
"Soal dulu, aku minta maaf karena aku tidak berani mengambil sikap, aku akui, aku memang pengecut tidak bisa membela mu di depan Mama ku." ucap Gandhi.
"Dan maaf kalau pertanyaan ku di dalam tadi buat kamu tersinggung, aku sama sekali tidak ada maksud apapun. Maaf yah." lanjut Gandhi.
"Its oke Gan, gak pa-pa." balas Nara.
"Kita masih bisa berteman kan?" tanya Gandhi sambil menjulurkan tangannya ke hadapan Nara.
Nara tersenyum terpaksa.
"Maaf Gan, aku gak percaya laki-laki dan perempuan bisa berteman. Apalagi aku sudah bersuami, aku gak mau suami ku sampai salah paham dengan status pertemanan kita. Dan aku rasa pasangan mu kelak juga tidak akan terima dengan status pertemanan kita. Jadi lebih baik kita bersikap seperti sebelum kita bertemu kemaren malam. Maaf kalau aku harus tegas seperti ini." jawab Nara.
Perlahan Gandhi pun menurunkan tangannya sambil tersenyum pahit mendengar jawaban Nara.
"Aku pulang yah." pamit Nara dan dibalas dengan anggukkan kepala oleh Nara.
Nara pun berbalik dan berjalan menuju mobilnya, belum juga sampai di mobil tiba-tiba...
"Awaaaaaaas!!!!!" teriak seseorang di seberang jalan. Suara yang sangat Nara kenal.
Sontak Nara pun menoleh ke arah sumber suara itu.
💋💋💋
Bersambung...