
Rumah Rangga-Nara.
Pukul 22.00
Setelah berjam-jam berada di kantor polisi, akhirnya Rangga bisa pulang juga kerumahnya.
Tapi sayangnya Nara mengunci pintu rumah dan tidak mencabut kunci dari slot kunci jadi Rangga tidak bisa membuka pintu rumah.
Berkali-kali Rangga menekan bel tapi Nara tidak juga membuka pintu. Rangga pun sadar kalau Nara tidak mengizinkan Rangga masuk kedalam rumah.
TRING. Tiba-tiba ponsel Rangga berbunyi, ada notifikasi pesan dari Nara, Rangga pun langsung membuka pesan itu.
[Nara] : Aku udah kirim hasil pemeriksaan dari Singapura ke email kamu. Kamu bisa cek dan baca langsung hasil pemeriksaan kamu.
[Rangga] : Aku udah baca tadi dari pengacara kamu.
Setelah membalas pesan Nara, Nara tak lagi membalas pesan Rangga. Karena Nara tak kunjung membalas pesannya, Rangga pun mencoba menelpon Nara, tapi tiga kali Rangga menelpon Nara, tiga kali juga Nara mereject teleponnya. Karena Nara tidak mau mengangkat teleponnya, Rangga pun mengirim pesan untuk Nara.
[Rangga] : Ra, buka pintunya dong, aku mau masuk.
[Nara] : Suasana hati aku lagi buruk, kamu tidur di rumah Mama aja atau di hotel atau di apartemen ja.lang kamu itu! Sayangkan udah ngeluarin uang seratus juta tapi kamu gak pernah nginep disana!
Balas Nara.
[Rangga] : Aku minta maaf Sayang, aku tau aku salah tolong kasih aku kesempatan satu kali lagi.
Bukannya mendapat balasan dari Nara, malah tiba-tiba saja kontak Nara menghilang, tanda kalau Nara memblokir dirinya.
Rangga menghela nafasnya kasar.
Tak ingin membuat keributan malam-malam dan karena dirinya juga sudah lelah karena berjam-jam di kantor polisi, mau tidak mau Rangga pun masuk kedalam mobil dan memilih tidur di dalam mobil.
Didalam mobil, Rangga membaca ulang hasil pemeriksaan dari Singapura. Rasa lega, sedih, marah, kesal dan menyesal semua bercampur aduk dalam dada Rangga saat ini kala membaca ulang hasil pemeriksaan itu.
Merasa lega karena semua masalahnya dengan Erika bisa selesai dan terbukti kalau anak yang ada dalam kandungan Erika bukan anaknya.
Merasa sedih karena dirinya lah yang ternyata bermasalah tapi malah mengira kalau Nara lah yang bermasalah.
Merasa marah dan kesal. Marah pada Tante Erna kala mengingat penghinaan yang keluar dari mulut Tante Erna tadi. Marah pada Erika yang sudah menipunya dan marah pada dirinya sendiri karena begitu bodoh telah meyakini kalau anak yang di kandung Erika adalah anaknya, ia kesal kenapa dirinya tidak bisa tegas pada dirinya sendiri.
Sedangkan di dalam rumah, saat ini Nara sedang menangis sambil melihat cctv yang tersambung ke layar televisi.
"Aku harus apa Mas dengan rumah tangga kita sekarang? Aku benar-benar bingung. Aku sangat mencintai mu Mas tapi hati ku begitu sakit dengan kebohongan mu!" lirih Nara.
"Kenapa kamu tega Mas, kenapa? Kamu tahu hanya kamu rumah tujuanku untuk pulang, tapi kenapa kamu menghancurkan rumah itu? Aku harus kemana sekarang Mas?" lirih Nara lagi sambil menangis, sebagai seorang wanita biasa, sekarang Nara sedang berada di titik terendahnya.
💋💋💋
Keesokan harinya.
Pukul 07.30
"Eugh..." Rangga melenguh sambil mengerjapkan matanya.
Begitu matanya terbuka lebar, ia melihat dirinya ada di dalam mobil. Seketika dirinya sadar kalau semalam Nara tidak membukakan pintu untuknya.
Rangga pun mengambil ponselnya dan melihat jam yang ada di layar ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan tapi mobil Nara masih ada di garasi.
"Apa Nara gak pergi kerja?" gumam Rangga.
Rangga pun keluar dari mobil dan mencoba membuka pintu. Pintu depan masih terkunci, pintu samping juga masih terkunci begitu pun dengan pintu belakang, juga masih terkunci, itu tandanya Nara masih ada di dalam rumah. Rangga pun menekan bel sambil mengetuk-ngetuk pintu dan memanggil-manggil nama Nara.
Tapi Nara tak kunjung membuka pintu atau sekedar menjawab atau bahkan mengirim pesan seperti semalam. Jangankan mengirim pesan, blokirannya saja belum Nara buka.
Karena merasa ada yang tidak beres pada Nara, Rangga terpaksa memecahkan kaca jendela yang tidak memiliki teralis agar dirinya bisa masuk kedalam rumah.
Setelah berhasil masuk kedalam rumah, cepat-cepat Rangga masuk kedalam kamar. Lagi dan lagi ternyata Nara mengunci pintu kamar.
Rangga menggedor pintu kamar sambil memanggil nama Nara terlebih dahulu, tapi karena tak ada jawaban, Rangga pun langsung saja mendobrak pintu itu.
The power off panic, itulah kekuatan yang Rangga dapatkan sekarang. Dengan hanya tiga kali menendang pintu, pintu kamar pun berhasil terbuka.
"Nara!!!!!"
💋💋💋
Bersambung...