
Keesokan harinya.
Pukul 06.00
Hari ini hari Senin, seperti hari-hari biasanya, sebelum berangkat bekerja Nara pasti membuatkan sarapan untuk dirinya dan Rangga.
Baru juga Nara membuka pintu kamar, Nara melihat mesin penyedot debu sudah jalan-jalan di sekitaran ruang tengah.
"Selamat pagi istri ku." sapa Rangga.
"Tumben kamu udah bangun Mas?" tanya Nara.
Rangga hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Nara lalu menghampiri Nara.
"Sini, aku udah buatin sarapan buat kamu." ucap Rangga sambil menarik Nara menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan benar saja sarapan sudah tersedia diatas meja.
"Kamu yang buat ini semua?" tanya Nara saat melihat dua piring spaghetti diatas meja makan dan dua gelas susu.
"Iya." jawab Rangga.
"Berarti tangan kamu udah gak kenapa-kenapa dong?" tanya Nara.
"Aku kan masaknya pake tangan kiri. Lagian cuma spaghetti aja, gak susah kok." jawab Rangga.
Nara mengernyitkan keningnya.
"Iya masaknya emang gak susah, tapi potong-potong bawangnya gimana? Emangnya bisa pake satu tangan?" tanya Nara dengan tatapan menyelidik.
Rangga menghela nafasnya kasar.
"Iya aku ngaku, kemaren aku beli bawang yang udah di kupas dan minta penjualnya sekalian motongin. Tuh di kulkas udah banyak bawang yang diiris." jawab Rangga dengan wajah memelas.
"Kapan kamu kepasar? Naik apa?" tanya Nara.
"Kemaren waktu kamu pergi lembur, aku kepasar naik ojek online. Aku belinya di pasar tradisional loh." Jawab Rangga bangga.
"Kalau apa-apa kamu udah bisa sendiri, berarti udah bisa lah aku anter kamu ke rumah Mama." balas Nara.
Wah sepertinya Rangga salah memasang strategi untuk mengambil hati Nara.
"Ssh... aw... Aduh... kayaknya bahu aku masih sakit deh Ra." tiba-tiba Rangga meringis.
"Gak usah akting kamu! Nanti aku anter kamu ke rumah Mama!" sayangnya tak tik Rangga pura-pura sakit tidak mempan lagi.
"Udah cepetan sarapan, terus mandi!" ucap Nara sambil menarik kursi makan.
"Ini beneran sakit Ra. Ssh.. aw..." balas Rangga.
"Iya... Iya... aku balik ke rumah Mama." balas Rangga pasrah lalu menarik kursi makan yang ada berhadapan dengan Nara.
Rangga dan Nara pun mulai menggulung spaghetti yang ada di piring mereka.
"Aku udah pikirin soal tawaran kamu semalam Mas." ucap Nara.
Mendengar itu, Rangga langsung melihat Nara.
"Terus?" tanya Rangga.
"Aku terima tawaran kamu, tapi..." Nara menggantung kata-katanya.
"Tapi apa?" tanya Rangga bersemangat.
"Tapi kamu balik nama dulu semua aset kamu baru aku mau kerja di sana." jawab Nara.
"Oke. Hari ini juga aku akan urus semuanya. Biar kamu bisa cepet kerja di tempat aku dan aku bisa cepet pergi ke Singapura. Aku udah tanya dokter yang akan terapi aku, katanya gak masalah melakukan terapi dalam keadaan bahu aku yang masih cidera, karena ini terapi akupuntur, jadi bisa sekalian menyembuhkan cidera bahu aku." jawab Rangga.
"Um soal ke Singapura..." Nara menggantung kata-katanya lagi.
"Kenapa? Kamu gak setuju aku terapi? Ini kan buat masa depan kita Ra, kamu pengen punya anak kan? Aku juga Ra pengen punya anak sama kamu." tanya Rangga.
Nara tersenyum tipis.
"Soal ke Singapura, tunggu sampai bahu kamu benar-benar pulih aja. Biar ada yang bawa barang-barang aku nanti." jawab Nara.
Rangga terdiam sejenak mencerna kata-kata Nara. Lalu tak lama Rangga membulatkan matanya lebar-lebar.
"Ma-maksud kamu, kamu mau ikut aku ke Singapura?" tanya Rangga.
"Mmm..." jawab Nara sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku akan temani kamu selama terapi Mas. Jadi bahu kamu harus sembuh dulu, biar ada yang bawa barang-barang aku. Aku juga sekalian mau belanja disana, aku mau hambur-hamburin uang aku, sekarang aku kan udah jadi CEO." jawab Nara.
Rangga menggelembungkan pipinya menahan teriakan bahagia.
"Sip Bu Bos, ajudan Bu Bos ini siap mengantar Bu Bos kemana pun Bu Bos ingin menghamburkan uang." balas Rangga.
"Udah cepetan habisin sarapannya!" balas Nara.
Dengan semangat empat lima, Rangga pun menghabiskan spaghetti buatannya. Jika sebelumnya Rangga berharap bahunya lama sembuh sekarang ia berharap bahunya segera sembuh karena sudah tidak sabar pergi ke Singapura bersama Nara.
💋💋💋
Bersambung...