
Satu jam kemudian.
Mama Rena sudah pulang karena harus menghadiri undangan pernikahan anak dari sahabat almarhum suami Mama Rena.
Sedangkan Rangga, ia dengan setia duduk disamping ranjang sambil mengganti kompres Nara.
"Mas Rangga, kenapa kamu tega bohongin aku, Mas! Aku gak mandul, Tante, aku gak mandul!" racau Nara mengigau.
"Iya Sayang kamu gak mandul, aku yang salah, maafin aku, maafin aku Nara." balas Rangga walau Rangga tau Nara mengucapkan itu secara tidak sadar.
Rangga terus menciumi punggung tangan Nara dan berharap Nara segera sadar.
Lima belas menit kemudian akhirnya Nara pun sadar.
"Eugh..." Nara melenguh sambil mengerjapkan matanya.
"Akhirnya kamu bangun juga Sayang." ucap Rangga.
"Mas Rangga..." lirih Nara saat pandangannya masih kabur.
"Iya Sayang, ini aku." jawab Rangga.
Karena kepalanya masih pusing, Nara pun kembali memejamkan matanya.
"Ini minum dulu Sayang." ucap Rangga sambil menyodorkan sedotan ke mulut Nara.
Nara pun menyedot air yang ada di dalam gelas dengan sedotan. Setelah dirass cukup, Nara pun melepas sedotan itu dari mulutnya.
"Tunggu yah, aku ambilin bubur dulu." ucap Rangga lalu berdiri dari duduknya kemudian keluar dari dalam kamar.
Begitu Rangga pergi, perlahan Nara membuka matanya kembali lalu melihat ke sekelilingnya.
Masih di kamar, pikirnya.
Tak lama ia pun menyadari ada sesuatu di punggung tangannya, Nara pun mengangkat tangan kanannya dan melihat sudah ada jarum infus yang menancap di punggung tangannya.
Nara pun ingat kalau kemaren setelah pulang dari rumah Mama Rena dan selesai menjalankan misinya membongkar kebusukan Erika, tubuh Nara langsung drop dan tadi pagi saat Nara baru turun dari ranjang ia langsung pingsan.
Wajar saja Nara drop, beberapa hari ini tenaga dan pikirannya habis terkuras hanya untuk membongkar kebusukan Erika.
"Tapi gimana Mas Rangga bisa masuk? Kan pintu semua aku kunci dan nyantel di pintu." gumam Nara.
Saat Nara sedang memikirkan bagaimana cara Rangga masuk kedalam rumah, tiba-tiba Rangga kembali ke kamar dengan membawa semangkok bubur.
"Kamu makan dulu yah, habis itu minum obat." ucap Rangga sambil meletakkan mangkok bubur itu di atas nakas dan hendak membantu Nara untuk duduk.
"Selera gak selera kamu harus tetap makan Sayang, kamu harus minum obat. Kalau panas kamu gak turun juga sampai nanti malam, kamu harus di rawat di rumah sakit, memangnya kamu mau dirawat di rumah sakit?"
"Ini tubuh aku, jadi aku yang tau apa yang tubuh aku butuhkan! Jadi kamu gak usah repot-repot urusin aku!" balas Nara ketus.
"Aku gak merasa repot kok ngurus istri aku." balas Rangga.
"Cih istri!" decih Nara.
"Marah-marahnya tunda sampai kamu sehat dulu yah, jadi sekarang ayo isi lambung kamu dulu biar kamu bisa minum obat dan kamu bisa cepet sehat." ucap Rangga sambil memegang kepala Nara untuk membantu Nara duduk.
"Minggir! Udah dibilang aku gak selera makan! Apalagi makan makanan buatan kamu!" ucap Nara sambil menepis tangan Rangga dari kepalanya.
"Bubur ini buatan Mama, Sayang, bukan aku. Tadi Mama dateng kesini lihat kondisi kamu sekalian dia bawain bubur untuk kamu. Jadi kamu makan yah, kamu kan paling suka bubur buatan Mama." jawab Rangga.
"Kamu aja yang makan! Sekarang aku udah gak suka lagi! Mending aku makan oatmeal atau sereal ketimbang harus makan masakan kamu atau Mama kamu!" ucap Nara.
Nara pun memiringkan tubuhnya dan berusaha untuk duduk, tapi baru juga Nara mengangkat kepalanya, mata Nara lansung berkunang-kunang. Nara pun kembali merebahkan kepalanya di bantal lalu memijat keningnya yang terasa pusing.
"Kenapa, pusing?" tanya Rangga sambil membantu memijat kepala Nara.
"Minggir kamu! Jangan sentuh-sentuh aku! Aku gak sudi di sentuh kamu lagi!" balas Nara.
"Terus mau kamu apa sekarang, Ra? Kamu harus makan, isi lambung kamu yang kosong dulu habis itu minum obat."
Nara diam karena kepalanya sangat pusing.
"Kamu makan bubur ini yah? Biar aku suapin." rayu Rangga.
"Gak mau! Aku mau pesan bubur lewat aplikasi aja! Bawa sini hape aku!" tolak Nara.
Rangga pun mengalah, ketimbang Nara tidak mau makan.
Rangga pun memberikan ponsel Nara.
Nara pun memesan bubur lewat aplikasi. Karena Nara sudah memesan bubur dari aplikasi mau tidak mau Rangga mengambil kembali bubur buatan Mama Rena dan membawanya kedapur.
"Semangat Rangga, kamu pasti bisa mendapatkan hati Nara kembali." monolog Rangga menyemangati dirinya sendiri.
Rangga sangat yakin perjuangannya untuk mendapatkan hati Nara kali ini pasti lebih sulit ketimbang perjuangannya dulu.
💋💋💋
Bersambung...