
...Surat Perjanjian...
Dibawah ini kami Pihak Pertama : Rangga Wiratmaja dan Pihak Kedua : Erika Diana, telah membuat kesepakatan bersama, yaitu :
1. Pihak Pertama siap menafkahi Pihak Kedua sampai anak yang ada dalam kandungan Pihak Kedua lahir.
2. Setelah anak yang ada dalam kandungan Pihak Kedua lahir, Pihak Kedua harus bersedia anak tersebut di tes DNA, jika Pihak Pertama terbukti sebagai ayah biologis anak dari Pihak Kedua, maka Pihak Pertama dengan sukarela dan senang hati akan menceraikan istri sah Pihak Pertama tanpa pembagian harta gono-gini dengan alasan karena istri sah Pihak Pertama tidak bisa memberikan keturunan pada Pihak Pertama. Meski begitu Pihak Pertama akan memberikan satu unit apartemen dan mobil yang di gunakan istri sah Pihak Pertama sebagai tunjangan sebagai balas jasa karena sudah lima tahun menjadi istri Pihak Pertama.
3. Setelah Pihak Pertama bercerai dengan istrinya, maka Pihak Pertama wajib menikahi Pihak Kedua dan mengadakan pesta pernikahan yang sebesar-besarnya sekaligus pengumuman atas kelahiran anak mereka.
Surat perjanjian ini Pihak Pertama dan Pihak Kedua buat dalam keadaan sadar tanpa ada paksaan sedikit pun dari pihak manapun.
Pihak Pertama Pihak Kedua
(Rangga. W) (Erika. D)
Itulah isi surat perjanjian yang membuat Nara makin hancur dan tidak memperdulikan perdebatan Rangga dan Erika.
"Sayang jangan kamu dengar kata-kata perempuan ini, ini semua gak bener Sayang, aku di jebak. Dia masukin obat perangsang dalam minuman aku dan aku juga gak tahu kapan aku tanda tangan surat itu." ucap Rangga.
Nara pun menoleh kearah Rangga.
"Apa Mas, di jebak? Kenapa gak sekalian aja kamu bilang kamu di guna-guna, biar masuk akal sedikit!" ucap Nara.
"Mana ada sih orang di jebak masih dateng keapartemen perempuan yang udah jebak dia, nemenin perempuan itu kedokter kandungan lagi! Kalau kamu di guna-guna, masih masuk akal! Tapi aku rasa gak mungkin juga kamu kena guna-guna, orang kamu setannya!" kata Nara lagi.
"Ssst!!! Aku udah gak mau denger apa-apa lagi dari mulut busuk kamu! Aku punya bukti transeferan kamu ke Mama, aku punya bukti chat kamu ke Mama dan gundik kamu ini, dan sekarang aku punya rekaman video ini serta surat perjanjian ini! Jadi siap-siap aja kamu, kita ketemu di pengadilan!" potong Nara lalu memasukkan kamera dan surat perjanjian kedalam tasnya.
Rangga pun berusaha merampas kamera dan surat perjanjian itu dari tangan Nara tapi tidak berhasil karena semua bukti itu sudah terlanjur masuk kedalam tasnya. Setelah memasukkan semua bukti itu, Nara pun meneruskan langkahnya menuju pintu untuk keluar dari apartemen itu.
"Nara, please Nara, jangan kayak gini, denger penjelasan aku dulu Nara, kamu harus percaya sama aku, aku gak mungkin khianatin kamu Nara, aku di jebak Nara! Please percaya sama aku." mohon Rangga sambil mengejar Nara dan menarik-narik tangan Nara.
"Minggir kamu Mas, kamu bisa jelasin saat dipengadilan nanti!" ucap Nara sambil menepis tangan Rangga. Tapi Rangga tidak putus asa, ia terus mengejar Nara bahkan saat Nara sudah berada di luar unit apartemen Erika.
Untungnya saat hendak berjalan menuju lift, Nara berpapasan dengan dua pemuda, Nara pun langsung meminta pertolongan kepada dua pemuda itu dengan memberikan kode lewat tangannya.
Dua pemuda yang melihat itu pun mengerti arti kode yang Nara berikan, dua pemuda yang sudah melewati Nara pun kembali mendekati Nara dan Rangga kemudian memiting tubuh Rangga.
"Lepas!! Siapa kalian berdua! Lepasin gue bilang! Lepas!" ronta Rangga.
"Mbak... Mbak... Cepet Mbak pergi Mbak!" ucap salah satu pemuda.
Melihat Rangga sudah berhasil di kunci oleh dua pemuda itu, Nara pun cepat-cepat berlari menuju lift.
Setelah melihat Nara masuk kedalam lift, salah satu pemuda itu pun menghubungi pihak keamanan gedung apartemen untuk mengamankan Rangga.
💋💋💋
Bersambung...