
Yang pertama Nara lakukan adalah menghubungi WhatsApp Rangga di ponsel keduanya. Dan untungnya berdering.
Ponsel Rangga yang sedang di charge di dekat televisi pun berdering. Rangga pun menoleh kearah televisi.
"Angkat dong Mas, telepon dari istri mu!" ucap Nara sambil menunjukkan layar ponsel-nya untuk menunjukkan pada Rangga kalau Nara yang menghubungi ponsel kedua Rangga itu.
Rangga kembali menoleh kearah Nara dengan raut wajah yang kaget.
"Kenapa kaget yah aku tahu nomor ponsel kedua kamu?" tanya Nara.
"Luar biasa kamu yah Mas, demi selingkuh dengan perempuan ini, kamu sampe bela-belain beli hape baru." ucap Nara.
"Nara, aku bisa jelasin semuanya. Tolong denger penjelasan aku Nara. Ini gak seperti yang kamu pikirkan." ucap Rangga. Rangga sudah tersudut sekarang.
Nara tidak memperdulikan kata-kata Rangga, ia malah membuka rekaman percakapan dirinya dan bidan di rumah sakit tadi.
Mata Rangga makin membulat lebar mendengar isi rekaman itu dimana dengan jelas si bidan menyebutkan kalau status Rangga adalah suami Erika.
"Jadi kamu punya istri dua yah Mas? Dan sekarang gundik mu ini sedang hamil anak mu?!" sindir Nara.
"Nara, tolong dengerin penjelasan aku. Kita pulang dulu dan kita bicarakan ini baik-baik di rumah." ucap Rangga sambil berjalan mendekati Nara.
PLAK. Satu tamparan mendarat mulus di pipi Rangga dari Nara.
"Kamu jahat Mas! Gak ada yang perlu di bicarakan lagi! Aku udah mendapat semua bukti perselingkuhan kamu dan perempuan ini! Aku gak peduli kalau status kalian sudah menikah siri atau apalah, tapi yang jelas menikah lagi tanpa sepengetahuan istri pertama, itu sama aja kamu selingkuh! Suami yang berselingkuh dan gundik yang menjadi selingkuhan si suami akan mendapat hukuman! Siap-siap aja kalian berdua mendekam di penjara!" ucap Nara.
Setelah mengatakan itu, Nara pun berjalan melewati Rangga dan Erika untuk keluar dari apartemen.
"Saya gak takut! Karena saya dan Mas Rangga melakukannya dengan cinta! Ceraikan saja Mas Rangga! Tuntut saja kami, karena setelah ini kami akan menikah dan hidup bahagia dengan anak kami!" teriak Erika dengan tidak tahu malunya.
Nara pun berhenti sejenak mendengar kata-kata Erika.
"Erika! Kamu ngomong apa sih! Jangan ngomong sembarangan kamu! Diantara kita gak ada hubungan apa-apa!" bentak Rangga lalu berjalan mendekati Nara.
"Jangan dengerin dia Sayang, yang dia bilang gak bener!" ucap Rangga sambil menggenggam tangan Nara.
Nara menepis tangan Rangga.
PLAK. Lalu menampar suaminya lagi.
"Gak ada hubungan apa-apa tapi sampai bisa punya anak! Kamu pikir aku perempuan bodoh apa Mas!" ucap Nara.
"Dia jebak aku Nara! Sampai sekarang aja aku belum tau anak yang di kandungan itu anak aku atau bukan!" balas Rangga.
"Bulshit kamu! Kalau perempuan ini jebak kamu, kenapa kamu gak pernah bicara sama aku? Kenapa malah kamu dan Mama nutupin semuanya dari aku?!" balas Nara.
"Udah lah Mas gak usah nutupin kebusukan mu lagi! Bangkai yang kamu sembunyikan dari ku selama ini udah tercium dan aku udah lihat jelas bangkai itu, jadi kamu gak usah lagi nambah-nambah dosa kamu membohongi aku!" ucap Nara.
"Kita ketemu di pengadilan!" kata Nara lagi dan hendak meneruskan langkahnya menuju pintu.
Tapi lagi dan lagi langkah Nara terhenti karena Erika yang memanggilnya.
"Tunggu!" cegah Erika.
Nara pun berhenti dan Erika pun menghampiri Nara.
"Sekalian bawa ini ke persidangan cerai kalian nanti! Ini sebagai bukti kalau Mas Rangga sangat bergairah dengan aku. Kamu paham kan kenapa laki-laki bisa sangat bergairah dengan pasangannya? Itu karena Mas Rangga sangat mencintai aku." ucap Erika.
"Erika! Jangan asal ngomong kamu!" bentak Rangga.
"Memang begitu kan kenyataannya Mas! Buktinya kamu selalu menuruti apa yang aku mau dan kamu begitu menyayangi anak kamu yang ada dalam kandungan aku! Bahkan kamu bilang kamu akan menceraikan perempuan mandul ini kalau anak ini lahir dan hasil DNA menyatakan kalau anak ini anak kamu." balas Erika.
Saat Rangga dan Erika sedang bertengkar, Nara yang penasaran dengan video yang ada di kamera itu pun membuka video itu. Tubuh Nara bergetar hebat melihat percintaan panas Rangga dan Erika. Rangga begitu bergairah bercinta dengan Erika. Nara teringat kembali sikap Rangga setiap bercinta dengannya. Dengan Nara, gairah Rangga tidak menggebu-gebu seperti Rangga bercinta dengan Erika.
"Kapan aku ngomong begitu?! Jangan ngarang kamu!" bentak Rangga.
"Gak usah ngeles kamu Mas! Ini aku punya buktinya!" balas Erika sambil memberikan kertas itu pada Nara.
Belum lagi rasa syok Nara hilang karena video itu, jiwa Nara kembali harus terguncang membaca tulisan yang ada di kertas itu, Nara tahu kalau tulisan itu bukan tulisan Rangga tapi melihat tanda tangan di bawahnya adalah tanda tangan Rangga yang di bubuhi materai sepuluh ribu, itu tandanya Rangga menyetujui surat perjanjian itu.
Saat Nara sedang membaca surat perjanjian itu, Rangga tak sengaja melihat video yang ada di dalam kamera yang masih di pegang oleh Nara.
"Apa-apaan ini?! Kamu rekam ini semua Erika!" Rangga berteriak kaget tak percaya kalau Erika merekam percintaan panas mereka waktu itu.
"Tuh kamu dengar sendiri kan, Mas Rangga aja mengakui kalau kami sudah bercinta. Dan kamu tahu-"
"DIAAAM ERIKA!!!! JANGAN DITERUSKAN!" Teriak Rangga agar Erika tak lagi memanas-manasi keadaan.
Nara sama sekali tidak memperdulikan pertengkaran Rangga dan Erika, ia seolah menulikan pertengkaran suaminya dan gundik suaminya. Nara hanya fokus pada surat perjanjian yang sedang ia baca. Hari Nara sakit sekali membaca surat perjanjian itu.
💋💋💋
Bersambung...