
"Maaf, udah nunggu lama yah." ucap Gandhi sesampainya di meja Nara lalu mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Nara.
"Gak juga kok, aku juga baru dateng." jawab Nara.
Gandhi pun mengangkat tangannya untuk memanggil waiters. Waiters pun datang menghampiri meja Nara-Gandhi. Gandhi dan Nara pun memesan minuman untuk mereka.
Selagi Nara dan Gandhi memesan minuman, Rangga yang tadinya duduk di meja yang berjauhan dengan Nara, tapi karena penasaran apa yang ingin di bicarakan Nara-Gandhi, Rangga pun mengendap-endap pindah meja tepat di belakang meja Nara-Gandhi dan duduk bertolak belakang dengan Nara.
Nara sama sekali tidak menyadari kalau ada Rangga duduk di belakangnya sekarang.
Setelah waiters menulis pesanan minuman Nara-Gandhi, waiters itupun pergi dari meja mereka.
"Kamu bilang ada hal penting yang mau kamu bicarain sama aku. Hal apa?" tanya Nara to the point.
"Ummm... kemaren aku ketemu sama Angga dan Derel, mereka denger katanya kamu mau gugat cerai suami kamu, apa bener?" tanya Gandhi.
Nara terdiam sejenak. Wajahnya memerah karena kesal, kesal kenapa berita itu bisa sampai di telinga teman-teman Gandhi dan kesal karena Gandhi menanyakan hal yang bukan urusannya. Apa coba maksud Gandhi bertanya seperti itu padanya, begitu lah pikir Nara.
Sedangkan Rangga yang juga mendengar pertanyaan Gandhi, ia juga ikutan geram atas pertanyaan pria yang bersama istrinya itu. Ingin sekali Rangga berdiri dari duduknya dan menarik Nara keluar dari coffee shop itu
Tahan Rangga... Tahan... Gumam Rangga dalam hati mencoba menahan emosinya.
"Mereka dapet gosip itu darimana? Rumah tangga aku sama suami aku baik-baik aja kok." jawab Nara mencoba menutupi masalah rumah tangganya.
"Ya aku juga gak tau mereka dapet info darimana, makanya aku mau tanya sama kamu apa bener berita itu? Katanya suami kamu selingkuh dan punya anak dari selingkuhannya." balas Gandhi.
"Itu bukan anaknya Mas Rangga!" balas Nara keceplosan. Sangking kesalnya Gandhi mengungkit lagi masalah itu, secara tak langsung Nara sudah memberitahu kebenarannya pada Gandhi.
Gandhi terdiam, tercengang dengan jawaban refleks Nara.
Sadar kalau dirinya sudah keceplosan, Nara cepat-cepat menundukkan kepalanya.
Belum juga Nara menjawab, tiba-tiba saja waiters datang untuk mengantar pesanan Nara-Gandhi.
"Terimakasih." ucap Nara begitu waiters selesai meletakkan dua gelas minuman untuknya dan untuk Gandhi di meja.
Sruuup... Nara menyeruput minumannya dengan sedotan. Nampak sekali Nara jadi gugup karena saat ini Gandhi tak berhenti menatapnya dengan tatapan tak biasa.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku, Ra. Jadi bener suami kamu selingkuh?" tanya Gandhi sekali lagi.
Nara menghela nafasnya kasar lalu melepaskan sedotan dari mulutnya.
"Maksud kamu nanya gitu apa sih Gan? Itu urusan pribadi aku, aku berhak menjawab atau tidak dan kamu gak punya hak untuk memaksa." jawab Nara tegas.
"Memang itu bukan urusan aku Ra, tapi seenggaknya kalau memang kamu mau bercerai, aku bisa berharap kembali sama kamu." jawab Gandhi terang-terangan.
Mendengar itu, Rangga langsung mengepalkan tangannya dan rahangnya juga sudah mengeras.
Gue gak akan pernah cerai sama Nara, asal loe tau, brengsek!!!! geram Rangga dalam hati.
"Sepertinya kamu salah sangka dengan masalah rumah tangga aku. Memang benar aku menyewa pengacara untuk menggugat cerai suami aku, tapi itu bukan sungguhan hanya gertakan untuk ja.lang yang mencoba merusak rumah tangga aku dan suami aku, aku mau membuat si pelakor berada diatas angin agar dia menganggap kalau aku ini perempuan lemah dan tidak bisa memprediksi pergerakan aku. Kalau si pelakor sudah berada diatas angin, sudah di pastikan dia akan lengah menutupi kebusukan yang ia sembunyikan dan disaat itu barulah aku mengorek semua kebusukan yang sedang ia sembunyikan." ucap Nara berbohong, padahal memang niat awal Nara benar-benar ingin menceraikan Rangga, tapi setelah melihat hasil pemeriksaan dari rumah sakit Singapura, Nara pun mengubah rencananya.
"Kalau kamu pikir rumah tangga aku benar-benar hancur karena suami aku selingkuh, kamu salah, aku bukan perempuan yang mudah untuk di hancurkan! Aku istri sah, dan aku tidak boleh kalah dengan para pelakor!" kata Nara lagi.
Rahang Rangga yang tadi mengeras pun jadi merenggang begitu mendengar kata-kata Nara.
Istri aku memang hebat! Beruntungnya aku punya kamu, Ra. Gumam Rangga dalam hati.
💋💋💋
Bersambung...