
"Pertama, saya ingin memberitahu pada kalian semua sebuah fakta, kalau anak yang dikandung perempuan ini bukanlah anak Rangga!" kata Nara lagi.
Sontak para Tante pun saling berbisik.
"Heleh, bilang aja kamu iri dengan kehamilan Erika!" celetuk Tante Erna.
"Untuk apa saya iri dengan perempuan murahan! Hamilnya sama siapa minta tanggung jawabnya sama siapa! Pake cara licik lagi! Maaf Tante, saya dan perempuan ini gak selevel!" jawab Nara.
Erika hanya diam, ia tidak bisa berkicau sama sekali karena ada Tian.
"Kenapa saya yakin sekali anak yang di kandung perempuan ini bukan anak Rangga? Karena saya memegang bukti yang sangat kuat, bahkan laki-laki yang menghamili perempuan ini pun ada disini bersama kita." ucap Nara lagi lalu menoleh kearah Tian.
"Pak Tian, apa tidak ada yang ingin Bapak katakan?" tanya Nara dengan tatapan mengintimidasi.
"Anak yang di kandung Erika itu adalah anak saya dan disini ada bukti dari pemeriksaan rumah sakit yang ada di Medan waktu kami pertama kali memeriksakan kehamilan Erika." ucap Tian sambil menunjukkan buku kontrol ibu hamil dari rumah sakit di Medan serta ponsel yang berisi percakapan Erika dan Tian saat Tian mengatakan tidak ingin bertanggung jawab atas kehamilan Erika.
Setelah Tian membuka suaranya, gantian asisten pengacara Tumpal yang menyebutkan pasal-pasal yang akan dikenakan pada Erika.
Sempat ada perlawanan dari Erika tapi dengan cepat dua polisi yang ada disitu langsung membawa Erika dan meminta Erika menjelaskannya di kantor polisi. Tian dan salah seorang pengacara Tumpal pun ikut ke kantor polisi bersama Erika untuk memberi keterangan.
Sedangkan Rangga dan Mama Rena, mereka sangat lega begitu mendengar fakta yang di berikan Tian.
Setelah asisten pengacara Tumpal membuka suaranya, giliran Nara yang membuka suaranya mengumumkan hasil pemeriksaan rumah sakit di Singapura.
"Dan satu lagi yang paling penting yang harus kalian semua tahu." ucap Nara lalu membuka email balasan dari rumah sakit Singapura yang ada di ponselnya.
"Didalam sini ada hasil pemeriksaan dari Singapura." ucap Nara sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
"Disini menjelaskan kalau saya sama sekali tidak mandul seperti yang Tante Erna katakan! Dan asal kalian tau, kalau yang bermasalah itu adalah Mas Rangga." kata Nara lagi.
Duaaaar... Bagai tersambar petir disiang bolong Rangga begitu kaget mendengar informasi yang Nara umumkan.
"Gak mungkin! Pasti hasil itu kamu yang buat untuk melimpahkan kekurangan kamu pada Rangga! Garis keturunan kami gak ada yang mandul!" ucap Tante Erna menolak percaya.
"Saya rasa sekian pertunjukkan dari saya, kalau ada yang kurang jelas silahkan tanyakan pada pengacara saya. Saya sudah memberikan semua bukti pada pengacara saya." ucap Nara.
Setelah mengatakan itu Nara pun cepat-cepat keluar dari rumah Mama Rena kemudian disusul oleh pengacara Tumpal dan dua orang asistennya.
Rangga pun mengejar Nara.
"Nara, tunggu!" panggil Rangga.
Nara yang sudah membuka pintu mobilnya pun menoleh ke arah Rangga.
"Kenapa?" tanya Nara.
"Lalu hubungan kita bagaimana? Apa-"
"Pak Rangga, sebaiknya Bapak ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan." tiba-tiba saja salah satu asisten pengacara Tumpal menyela kata-kata Rangga.
"Sana kamu selesaikan urusan kamu dengan gundik kamu! Aku hanya bisa bantu kamu sampai disini. Dan untuk masalah kita, kamu bisa bicarakan dengan pengacara aku." ucap Nara.
Setelah mengatakan itu Nara pun cepat-cepat masuk kedalam mobil.
"Nara... kamu mau kasih aku kesempatan kan Nara, please Nara tolong kasih aku kesempatan." ucap Rangga sambil menggedor-gedor jendela mobil Nara. Tapi Nara sama sekali tidak memperdulikan Rangga dan malah terus melajukan mobilnya meninggalkan Rangga dan tim pengacara Tumpal.
"Nara... Nara..." teriak Rangga
"Mari Pak ikut kami ke kantor polisi." ajak asisten pengacara Tumpal lagi.
Rangga hanya bisa menghela nafasnya kasar dan terpaksa harus mengurus masalahnya dengan Erika dulu baru nanti menyusul Nara pulang kerumah.
💋💋💋
Bersambung...