
"Maaaas.... Mas Rangga!!!!" teriak Nara dari dalam kamar mandi.
Ceklek. Rangga yang ada di depan pintu langsung saja membuka pintu kamar mandi.
"Kenapa? Kenapa?" tanya Rangga dengan raut wajah panik bercampur excited.
"Mas..." Nara langsung memeluk Rangga begitu Rangga berada di dekatnya dan menangis dalam pelukan Rangga.
Tanpa banyak bertanya, Rangga langsung mengambil salah satu testpack yang masih tercelup dalam wadah.
Mata Rangga membulat.
"Ra, garis dua Ra..." ucap Rangga.
"Iya Mas, garis dua Mas." jawab Nara.
"Beneran ini garis dua?" Rangga masih tak percaya. Perlahan Rangga melepaskan pelukan Nara dan melihat hasil semua testpack dan benar saja empat tespack yang lainnya menunjukkan garis dua.
"Ra, kamu hamil Sayang. Usaha kita gak sia-sia." ucap Rangga.
"Iya Mas, aku hamil." jawab Nara sambil terisak dan ingus yang sudah meleleh.
Rangga kembali memeluk Nara.
"Kita kerumah sakit yah Sayang, kita periksa anak kita, aku gak sabar ngeliat dia ada di dalam rahim kamu." ucap Rangga.
"Iya Mas." jawab Nara.
"Makasih Sayang, makasih." ucap Rangga.
Cup. Cup. Cup. Cup. Sambil mengecup puncak kepala Nara berkali-kali.
Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, barulah mereka keluar dari dalam kamar mandi.
Nara langsung masuk ke dalam ruang ganti untuk memakai bajunya sedangkan Rangga, ia menghubungi asistennya untuk meminta sang asisten menghandle kegiatan Rangga dan Nara hari ini. Setelah menghubungi asistennya, Rangga pun menghubungi Mama Rena untuk memberitahu Mama Rena kabar bahagia ini.
Tak usah di tanya lagi bagaimana perasaan Mama Rena, yang pasti sangat bahagia. Mama Rena pun menyuruh Rangga dan Nara untuk datang nanti malam ke rumahnya.
Sebagai rasa ucapan syukur Mama Rena, Mama Rena membuat perjamuan makan malam sederhana bersama keluarga besar dan pastinya ada para Tante, Om dan sepupu Rangga.
Karena sampe hari ini Tante Erna masih meyakini kalau hasil pemeriksaan dari Singapura itu adalah hasil rekayasa Nara.
Rangga pun menyetujui keinginan Mama Rena yang ingin membuat ucapan syukur.
Setelah panggilan dengan Mama Rena berakhir, Rangga pun menyusul istrinya di ruang ganti.
Melihat Nara yang belum memakai baju dan masih memilih-milih pakaian, Rangga pun langsung mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa Sayang?" tanya Rangga sambil tangannya mengelus perut Nara.
"Aku bingung Mas mau pake baju yang mana." jawab Nara.
"Bingung kenapa? Kan perut kamu belum terlalu besar, jadi pake pakaian apa aja masih cocok. Nanti kalau perut kamu udah mulai besar, baru pake dres aja gak usah pake celana." jawab Rangga.
"Bukan itu Mas. Ini loh, aku mau pake pakaian ini tapi kok kayaknya feminim banget. Terus aku mau pake yang agak tomboi tapi kok kayak aneh banget. Padahal selama ini aku nyaman-nyaman aja mau pake pakaian feminim atau tomboi." balas Nara.
"Terus mau pake apa?" tanya Rangga yang juga tidak punya solusi. Dia tidak terlalu mengerti urusan model pakaian wanita.
Nara mengernyitkan keningnya berpikir.
"Gimana kalau aku pake baju kamu aja Mas." jawab Nara.
"Baju aku? Malah lebih aneh lah Sayang kalau kamu make baju aku." balas Rangga.
"Kita coba dulu kalau gitu." jawab Nara.
Nara pun beralih ke lemari tempat pakaian Rangga lalu mengambil kaos berwarna putih lalu celana joger abu-abu milik Rangga kemudian mencobanya.
Untuk kaos boleh lah cocok di tubuh Nara karena hasilnya Nara seperti memakai kaos oversize tapi untuk celana joger, meski celananya berbahan karet dan ada tali untuk mengecilkan di bagian pinggang agar tidak kedodoran, tapi begitu di pakai di tubuh Nara, masih saja celana itu kedodoran. Tapi Nara tidak putus asa, ia mengambil peniti dan menjepit bagian samping kiri-kanan dengan peniti.
"Nah bagus kan." ucap Nara sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin full body.
Rangga yang sejak tadi hanya memperhatikan tingkah Nara hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir tumben sekali istrinya itu ngotot ingin memakai pakaiannya bahkan sampe di peniti segala.
💋💋💋
Bersambung...