
Pukul 07.30
Kini Nara dan Rangga sudah sama-sama siap berangkat kerja.
"Ayo Mas." Ajak Nara.
"Kamu pergi aja duluan, aku udah nelpon supir kantor buat jemput aku disini. Biar nanti dia aja yang nganter aku." jawab Rangga.
Mendengar itu Nara langsung melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa gak dari kemaren-kemaren aja kamu suruh supir kantor buat antar jemput kamu?" tanya Nara dengan tatapan mengintimidasi.
"Kalau tau begini mending aku biarin kamu tinggal di rumah Mama sendirian." dumel Nara lagi.
Rangga hanya terkekeh kecil melihat istrinya mengomel lalu berjalan mendekati Nara.
"Jangan ngomel-ngomel dong Sayang, masih pagi loh ini." ucap Rangga sambil memeluk Nara.
"Iih... sana jauh-jauh, jangan peluk-peluk!" Nara langsung mendorong tubuh Rangga.
"Pokoknya nanti kamu tinggal di rumah Mama, jangan disini!" omel Nara lagi.
"Kok gitu Sayang? Bukannya kita udah baikan?" tanya Rangga.
"Siapa bilang? Gak yah! Aku belum bilang maafin kamu yah!" jawab Nara.
"Tapi tadi kamu bilang mau nemenin aku-"
"Tujuan utama aku ke Singapura itu buat belanja yah, nemenin kamu berobat itu cuma sekalian aja." potong Nara.
Rangga tersenyum tipis mendengar ucapan Nara.
"Iya deh iya. Ya udah nanti aku pulang ke rumah Mama biar kamu gak marah-marah lagi." ucap Rangga.
Nara menaikkan sudut bibirnya.
"Ya udah, aku berangkat kerja dulu. Nanti kalau kamu keluar jangan lupa kunci semua pintu." pamit Nara lalu keluar dari dalam rumah.
"Nara... Nara... gimana bisa aku berpaling dari kamu kalau tingkah kamu selalu menggemaskan seperti ini." gumam Rangga sambil melihat kepergian Nara.
Tak lama setelah Nara pergi, supir kantor pun datang menjemput Rangga dengan menggunakan mobil kantor.
Tapi tujuan Rangga bukan ke kantornya melainkan ke kantor pengacaranya yang akan membantunya mengurus balik nama semua aset Rangga atas nama Nara.
💋💋💋
Dua Minggu kemudian.
Balutan di bahu Rangga sudah di buka, itu artinya bahu Rangga sudah sembuh dan sudah bisa di pakai untuk mengangkat barang-barang.
Selama dua Minggu ini Rangga juga tinggal di rumah Mama Rena. Mama Rena juga sudah pulang setelah Rangga memberitahu kalau Nara mau menemaninya ke Singapura. Mama Rena juga tau kalau Rangga sudah mengubah nama kepemilikan semua aset-aset'nya menjadi atas nama Nara. Jika mertua lainnya akan mengamuk saat tau anaknya memberikan semua asetnya untuk istrinya, tapi tidak dengan Mama Rena, Mama Rena malah senang Rangga memberikan semua aset milik Rangga menjadi atas nama Nara.
Mama Rena sama sekali tidak takut tidak mendapat uang bulanan dari Rangga lagi, karena Mama Rena masih punya uang pemasukan dari pensiunan almarhum suaminya dan usaha yang lainnya. Lagi pula Mama Rena sangat tau kalau menantunya itu bukan orang yang tamak akan uang. Bagi Mama Rena asal itu bisa membuat rumah tangga Nara dan Rangga kembali utuh, Mama Rena pasti akan mendukung semua keputusan Rangga.
Nara sendiri dia juga sudah resign dari tempat kerjanya tiga hari yang lalu tapi belum aktif bekerja di kantor Rangga, Nara masih mempelajari sistem marketing di kantor Rangga, maklum saja dunia otomotif masih sangat baru baginya.
Karena balutan di bahu Rangga sudah di buka, Rangga pun pulang ke rumahnya. Ia harus membantu Nara mengemasi barang-barang mereka karena besok mereka sudah berangkat ke Singapura.
"Udah segitu aja barang yang mau dibawa?" tanya Rangga pada Nara yang hanya membawa satu koper yang berisi pakaian mereka berdua. Padahal mereka di Singapura kurang lebih dua Minggu.
"Iya. Kan nanti mau belanja disana, jadi ngapain bawa banyak baju. Di dalam sini juga baju kamu aja yang paling banyak, baju aku cuma tiga pasang." jawab Nara santai.
"Oh..." Rangga hanya membulatkan mulutnya.
"Ya udah sana keluar, aku mau tidur." usir Nara.
"Belum!" jawab Nara ketus.
Rangga menghela nafasnya kasar.
"Ya udah deh, aku keluar. Selamat tidur istri ku Sayang." ucap Rangga mengalah dan sadar diri kenapa istrinya masih belum mau tidur dengannya.
Rangga pun berjalan menuju pintu.
"Eh Mas..." panggil Nara.
Rangga pun menghentikan langkahnya sambil tersenyum tipis.
Pasti Nara berubah pikiran. Gumam Rangga dalam hati.
Rangga pun membalikkan badannya menghadap Nara.
"Kenapa Sayang?" tanya Rangga dengan senyum sumringah.
"Sebelum tidur jangan lupa periksa semua pintu." jawab Nara.
Dan Rangga langsung memutar bola matanya malas karena jawaban Nara tidak sesuai ekspektasinya.
"Iya..." jawab Rangga lemas lalu membalikkan lagi tubuhnya.
"Oh iya, hotel disana pesen satu kamar aja yang single bed." kata Nara lagi.
Rangga yang baru mau meneruskan langkahnya langsung memutar tubuhnya kembali. Wajahnya berseri-seri sambil menatap pantulan wajah Nara dari cermin meja rias. Saat ini Nara sedang memakai skincare malamnya.
"Kenapa muka mu kayak gitu?" tanya Nara yang melihat ekspresi wajah Rangga dari pantulan cermin.
Rangga tidak menjawab dan malah berjalan mendekati Nara lalu memeluk Nara dari belakang.
"Iiih... Mas Rangga lepas! Aku lagi make skincare Mas!" pekik Nara.
"Kenapa gak sekarang aja kita mulai tidur bareng lagi?" ucap Rangga di telinga Nara.
"Gak! Aku gak mau! Lepas Mas! Kalau kamu kayak gini, batal pesen satu kamar di Singapura!" ancam Nara.
Sontak Rangga langsung melepas pelukannya.
"Ancemannya gitu banget." dumel Rangga.
"Biar aja! Udah sana keluar!" usir Nara.
"Tapi bener yah di Singapura kita tidur bareng?" tanya Rangga.
"Hemh..." jawab Nara.
"Gak boong kan?" tanya Rangga lagi.
"Yang tukang bohong siapa? Aku atau kamu?" sindir Nara.
"Iya... iya... Aku yang tukang bohong." Jawab Rangga.
Rangga pun memutar tubuhnya dan berjalan dengan langkah gontai keluar dari kamar utama.
"Sabar Rangga, sabar. Tinggal malam ini aja kok, besok malam kamu udah tidur bareng lagi sama Nara." gumam Rangga sambil mengusap dadanya.
💋💋💋
Bersambung...