Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku

Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku
DLHS 68


Keesokan harinya.


Pukul 10.00


Hari ini hari Sabtu dan Nara tidak pergi bekerja.


Baru satu malam tidak melihat Rangga, hati Nara sudah tidak tenang. Meski ia masih sakit hati dan kecewa pada Rangga, tapi Nara juga tidak bisa membohongi dirinya kalau ia sangat mencintai suaminya.


Pikiran positif dan negatif berkecamuk dalam otak Nara saat ini.


Pikiran positifnya mengatakan kalau saat ini Rangga sedang menyibukkan diri dengan bekerja. Tapi disisi lain Nara juga berpikir kalau Rangga kembali melakukan kesalahan setelah keluar dari rumah semalam. Rangga pergi ke klub, mabuk dan tidak sadar membungkus wanita lain dan dibawa ke hotel.


"Aaargh...!!! Daripada aku stres mikirin Mas Rangga lagi apa, mending aku yoga aja, manatau aja pikiran aku jadi lebih tenang." ucap Nara.


Nara pun berdiri dari duduknya di sofa ruang tengah lalu berjalan menuju kamar untuk mengganti pakaiannya.


Sesampainya di dalam kamar, Nara meletakkan ponselnya terlebih dahulu di meja rias sebelum masuk keruang ganti.


Baru juga ponsel ia letakkan, tiba-tiba ponselnya berdering.


Panggilan masuk dari Gandhi.


Nara mengernyitkan keningnya begitu melihat Gandhi.


"Gandhi, mau ngapain dia?" gumam Nara.


Cukup lama ia membiarkan panggilan masuk itu sampai akhirnya di detik-detik terakhir nada dering berakhir, Nara pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo." jawab Nara.


"Halo Nara, ini aku Gandhi." balas Gandhi.


"Iya Gan, tau. Ada apa yah?"


"Aku pikir kamu gak save nomor aku." balas Gandhi.


"Hari ini kamu sibuk gak, Ra?" tanya Gandhi.


"Memangnya kenapa kok nanya gitu?" tanya Nara balik.


"Kalau aku ajak makan malam kamu mau gak?" tanya Gandhi.


"Gan, status aku istri orang, kayaknya gak pantes deh kamu ngajak aku makan malam." jawab Nara.


"Iya Ra, aku tau. Tapi ada hal penting yang pengen banget aku bicarain sama kamu." jawab Gandhi.


"Kalau gitu bicara aja sekarang." balas Nara.


"Gak bisa lewat telepon Ra, aku mau kita ketemu langsung." jawab Gandhi.


Nara tidak mau ada fitnah tentang dirinya.


"Please Ra, sebentar aja kok." mohon Nara.


"Oke, tapi aku gak mau kalau kita ketemunya malam, karena kalau kita ketemunya malam, takut orang yang kenal aku dan suami aku salah sangka." jawab Nara.


"Oke, aku setuju."


"Ya udah kita ketemu di coffee shop di deket tempat kerja aku."


"Oke."


Panggilan pun berakhir.


Setelah panggilan berakhir, Nara pun langsung berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Padahal niatnya tadi ingin pergi yoga untuk menenangkan hati dan pikiran.


Di luar rumah.


Beberapa meter dari rumah Rangga-Nara, tanpa Nara sadari ada seseorang yang sejak tadi mengamati rumah itu. Siapa lagi kalau bukan Rangga. Karena Nara melarang Rangga bertemu dengannya, mau tidak mau Rangga hanya bisa mengamati rumahnya sendiri dari kejauhan dan berharap Nara keluar dari dalam rumah untuk membuang sampah atau apalah yang membuat Nara keluar dari dalam rumah. Melihat Nara dari jauh saja sudah cukup bagi Rangga.


Saat ini Rangga tidak memakai mobilnya, karena itu akan memudahkan Nara untuk mengetahui keberadaannya, ia meminjam motor satpam rumah Mama Rena demi melihat Nara dari jauh.


Setelah hampir dua jam mengamati dari kejauhan, akhirnya yang ditunggu-tunggu keluar juga dari rumah.


"Nara mau kemana? Apa dia mau lembur? Tapi kondisinya kan masih belum sembuh total." gumam Rangga saat melihat mobil Nara keluar dari rumah.


Penasaran kemana tujuan Nara, Rangga pun cepat-cepat memakai helmnya lalu naik ke atas motor kemudian mengikuti mobil Nara dari belakang.


💋💋💋


Coffee Shop.


Dan sampailah mobil Nara di coffe shop dekat kantor Nara.


"Ngapain dia kesini? Apa ada janji sama nasabah?" gumam Rangga.


Karena makin penasaran, dengan menggunakan masker hitam, topi hitam serta hoodie hitam, Rangga pun diam-diam masuk ke dalam coffe shop dan duduk di meja yang paling sudut yang berjauhan dengan meja Nara.


Saat ini Nara masih sendiri di meja itu. Namun sepuluh menit kemudian, Rangga melihat ada seorang pria dengan pakaian casual dan potongan rambut undercut menghampiri meja Nara lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Nara.


Melihat itu jelas saja Rangga langsung panas dingin. Tapi Rangga mencoba memadamkan api cemburu dalam hatinya dan mencoba berpikiran positif.


💋💋💋


Bersambung...