
"Jadi kamu sedang hamil anak Rangga?" tanya Tante Erna yang sejak tadi berada di tengah-tengah Rangga dan Erika.
"Iya Tante, tapi-"
"Gak Tante, anak yang dia kandung masih belum jelas anak siapa!" potong Rangga.
"Masih belum jelas gimana sih Mas! Kalau memang belum jelas anak kamu kenapa kamu sering minta jenguk anak kamu, sering ngelus-ngelus perut aku, dan khawatirin aku saat perut aku kejang!" balas Erika.
"Kamu!!!" geram Rangga.
"Kamu ini gimana sih Rangga, berani berbuat harusnya berani bertanggung jawab! Harusnya kamu senang karena ada perempuan yang bisa mengandung anak kamu! Gak seperti istri kamu yang gak hamil-hamil!" ucap Tante Erna sambil menyindir Nara.
"Ren, kamu dengar sendiri kan kalau Erika ini sedang hamil anak Rangga, itu berarti Rangga sehat, menantu kamu itu aja yang mandul! Udahlah nikahin aja Rangga sama Erika, kalau menantu kamu itu gak setuju, suruh menantu kamu itu menceraikan Rangga, ngapain juga di pelihara perempuan mandul!" ucap Tante Erna lagi seolah-olah Nara tidak berada disitu.
Sakit? Jelas, Nara sangat sakit hati mendengar perkataan Tante Erna.
"Tante, stooop! Berhenti menghina Nara! Nara itu istri Rangga Tante! Hargai Rangga!" bentak Rangga.
"Udah lah Rangga gak usah munafik kamu! Gaya mu sok-sok membela istri mu, tapi gak taunya kamu main serong dengan perempuan lain sampai hamil! Kamu sebenarnya juga pengen punya anak kan? Tapi karena kamu menjaga perasaan istrimu makanya kamu sok-sok bela istri mu!" balas Tante Erna.
"Sudah selesai dramanya?" Nara yang sejak tadi diam pun akhirnya membuka suaranya.
"Kamu udah tau kan kalau Rangga bisa hamilin perempuan lain, jadi harusnya kamu tau diri, gak usah sok kayak Nyonya besar gaya mu!" ucap Tante Erna.
Nara hanya tersenyum sinis membalas hinaan Tante Erna.
"Mbak Erna cukup! Kali ini Mbak Erna sudah sangat kelewatan mencampuri urusan rumah tangga Rangga dan Nara! Sedangkan saya saja tidak mau banyak ikut campur dengan urusan anak dan menantu saya!" ucap Mama Rena.
"Bukannya ikut campur, ini juga demi kebaikan Rangga!" balas Tante Erna.
"Sudah selesai belum sih drama kalian? Kalau belum, biar saya bikin kopi dan nonton drama menjijikkan ini sambil minum kopi!" sahut Nara.
"Nara ayo kita pulang, gak seharusnya kita ada disini." ajak Rangga.
"Memang! Tapi aku pengen kasih hadiah spesial untuk keluarga ini sebelum aku keluar dari rumah ini." balas Nara.
Nara pun mengangkat ponselnya lalu menghubungi pengacaranya dan meminta pengacaranya untuk masuk kedalam rumah, sudah saatnya Nara membongkar kebusukan Erika dan mengumumkan hasil pemeriksaan rumah sakit di Singapura di depan keluarga Rangga.
"Karena saya sudah menyimak drama kalian dengan tenang, jadi tolong sekarang kalian semua juga tenang menyimak hadiah yang akan saya tunjukkan pada kalian semua." ucap Nara.
Tak lama pengacara Tumpal dan tiga orang anak buahnya serta Tian dan dua orang polisi pun masuk kedalam rumah Mama Rena.
Wajah Erika seketika berubah pucat begitu melihat sosok Tian. Sedangkan para Tante kembali saling berbisik begitu melihat rombongan pengacara Tumpal dan polisi memasuki ruang tengah.
"Ada apa ini Nara, kenapa ada polisi?" tanya Rangga.
"Ssst... tenang, oke!" jawab Nara.
"Maaf yah Bang kelamaan manggil Abang masuk, drama keluarga ini terlalu lama soalnya." ucap Nara.
Pengacara Tumpal hanya membalas dengan senyuman pada Nara.
"Pasti para Tante semua sudah mengenal Bang Tumpal ini kan? Jadi saya gak perlu memperkenalkan Bang Tumpal lagi sama kalian dan alasan kenapa Bang Tumpal ada disini." ucap Nara.
"Pertama, saya ingin memberitahu pada kalian semua sebuah fakta, kalau anak yang dikandung perempuan ini bukanlah anak Rangga!" kata Nara lagi.
Sontak suara para Tante yang saling berbisik itu pun memenuhi ruang tengah.
💋💋💋
Bersambung...