Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku

Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku
DLHS 57


Pukul 17.00


Jam sudah menunjukkan lima sore, Nara sudah mulai bisa berada di kamar terus dengan tangan yang tertusuk jarum infus.


Ia risih pergerakannya jadi terhambat karena kemana-mana harus mendorong-dorong tiang infus. Nara sama sekali tidak meminta Rangga untuk menolongnya. Ia lapar, ia pesan sendiri makanannya, ia ambil sendiri minumnya, mau ke kamar mandi, ia juga pergi sendiri tanpa meminta pertolongan Rangga. Sekarang Nara ingin mencuci wajahnya karena sudah sangat berminyak, tapi sangat susah mencuci wajah kalau masih ada jarum infus menusuk tangannya. Nara pun berinisiatif membuka sendiri infusan-nya padahal cairan infus masih ada sedikit lagi.


Ceklek. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Pintu kamar itu sudah tidak bisa di kunci lagi karena sudah rusak akibat dobrakan Rangga tadi dan sampai detik ini Rangga belum memanggil tukang untuk memperbaiki pintu kamar.


"Eh... Eh... Kamu mau apa?" tanya Rangga sambil berjalan dengan langkah panjang mendekati Nara karena melihat Nara sedang mencoba melepas infusnya.


"Aku risih sama ini! Aku mau lepas." jawab Nara ketus.


"Tapi itu cairannya masih ada Sayang, tunggu aja sampe habis, sebentar lagi juga habis kok." balas Rangga.


Sudah pasti Nara tidak memperdulikan kata-kata Rangga, ia menganggap kata-kata Rangga hanya angin lalu saja. Nara tetap berusaha melepaskan jarum itu dari punggung tangannya, tapi ternyata melepaskan jarum infus itu tak segampang seperti yang di film-film.


"Aaauw..." baru melepas plesternya saja Nara sudah merasa nyeri.


"Stop... Stop... Stop!! Aku telepon perawatnya dulu kalau gitu biar mereka yang buka infus kamu." ucap Rangga mencoba menghentikan aksi Nara.


Nara menghela nafasnya kasar. Mungkin sebaiknya memang orang yang di bidangnya lah yang melepas infusan Nara.


"Ya udah cepetan!" jawab Nara.


Rangga pun cepat-cepat menghubungi dokter Indra dan meminta dokter Indra segera datang kerumahnya.


Satu jam kemudian.


Dokter Indra dan dua asistennya pun datang dan sudah melepas infus Nara, sebelum perawat melepas infus Nara, dokter Indra terlebih dulu memeriksa kondisi Nara. Walau suhu tubuh Nara masih tergolong panas tapi untungnya sudah turun dari 40° ke 38,5°. Seandainya belum turun sudah pasti dokter Indra tidak akan menyuruh perawat melepas infus Nara dan hanya mengganti cairan infusnya dengan yang baru.


Setelah memeriksa Nara, dokter Indra dan dua perawat pun pergi dari rumah Rangga-Nara.


Setelah dokter Indra dan perawat keluar dari dalam kamar, Nara pun masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Begitu Nara keluar dari kamar mandi, Nara sudah melihat Rangga yang duduk manis disofa depan ranjang.


Nara tak menjawab, ia melengos begitu saja di depan Rangga menuju ruang ganti.


Tak lama Nara pun keluar dari ruang ganti.


"Kamu keluar, aku mau istirahat!" ucap Nara.


Rangga menghela nafasnya kasar.


"Ya udah aku keluar, jangan lupa dimakan salad buahnya yah." ucap Rangga lalu berdiri dari duduknya kemudian keluar dari dalam kamar.


Setelah Rangga keluar, Nara pun duduk di tepi ranjang dan melihat salad buah yang Rangga buat untuknya.


Cukup lama Nara menatap salad buah itu sambil otaknya memikirkan keputusan yang harus ia ambil untuk pernikahannya.


Sampai akhirnya Nara mantap dengan keputusannya. Nara pun berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya kemudian mengeluarkan amplop yang berisi surat cerai yang harus Rangga tanda tangani. Nara mantap untuk bercerai dengan Rangga.


Nara pun keluar dari kamar dengan salad buah di tangan kirinya dan amplop berisi surat cerai di tangan kirinya kemudian menghampiri Rangga yang sedang ada di dapur.


Menyadari seseorang berjalan ke arahnya, Rangga yang sedang mencuci piring pun menoleh ke belakang.


"Mau apa? Mau minum? Mau makan yang lain?" tanya Rangga.


"Aku mau kamu tanda tangan ini." jawab Nara sambil meletakkan amplop itu diatas meja kemudian salad buah.


Rangga melirik amplop yang berwarna putih itu sesaat, Rangga tau amplop apa itu.


"Ra..."


"Aku gak minta yang lain-lain Mas. Aku hanya minta kamu melepaskan aku dan aku juga gak minta harta gono-gini atau apapun itu dari kamu kalaupun kamu mau mengambil rumah ini, aku ikhlas, aku akan keluar, aku gak akan bawa satu barang pun yang kamu berikan untuk aku, tapi tolong lepaskan aku." potong Nara.


💋💋💋


Bersambung...