
"Nara!!!!!" teriak Rangga sambil berlari menghampiri Nara yang saat ini sedang tergeletak di lantai.
Begitu berada di dekat Nara, yang pertama Rangga periksa adalah nafas Nara, merasakan Nara yang masih bernafas, Rangga pun bernafas lega.
Rangga pun menepuk-nepuk pipi Nara untuk membangunkan Nara, tapi saat tangannya baru menyentuh pipi Nara, Rangga merasakan suhu tubuh Nara yang sangat panas.
"Astaga, panasnya kamu!" pekik Rangga.
Rangga pun cepat-cepat menggendong Nara dan membaringkannya di ranjang.
Setelah membaringkan Nara di ranjang, Rangga pun berlari mencari kotak P3K untuk mengambil termometer.
Termometer itu pun Rangga masukkan di sela-sela ketiak Nara. Sambil menunggu hasil dari termometer, Rangga pun mengambil air hangat untuk mengompres kepala Nara.
Setelah mengompres Nara barulah Rangga mengambil termometer dari sela-sela ketiak Nara.
"Astaga sampe 40 derajat, pantes panas banget!" gumam Rangga.
Takut terjadi apa-apa pada Nara, Rangga pun menghubungi dokter keluarga yang biasa menangani Mama Rena kalau sakit.
Setelah menghubungi dokter Indra, Rangga lanjut menghubungi Mama Rena untuk memberitahu keadaan Nara sekalian minta dibuatkan bubur untuk Nara.
Tak sampai setengah jam dokter Indra pun sampai di rumah Rangga. Dokter Indra tidak datang sendiri, ia datang bersama dua perawat yang akan menginfus Nara. Karena berdasarkan informasi yang Rangga berikan kalau panas Nara sudah sampai di suhu 40 derajat.
Tadinya dokter Indra menyarankan Rangga untuk langsung membawa Nara kerumah sakit, tapi Rangga tau kalau Nara paling tidak mau tidur di ranjang rumah sakit. Jadi mau tidak mau dokter Indra membawa dua perawat dan obat-obat yang kira-kira Nara butuhkan berdasarkan informasi dari Rangga.
Dokter Indra pun sudah memeriksa keadaan Nara, infus pun juga sudah terpasang di tangan kanan Nara.
"Yakin gak mau dibawa kerumah sakit aja?" tanya dokter Indra.
"Gak usah dok, istri saya paling gak suka tidur di rumah sakit." jawab Rangga.
"Ya sudah kalau begitu, tapi kalau panasnya sampai besok gak turun langsung bawa kerumah sakit yah." saran dokter Indra.
"Siap dok." balas Rangga.
"Iya dok." jawab Rangga.
"Mau ditinggalin satu perawat gak disini untuk rawat istri kamu?" tawar dokter Indra.
"Gak usah dok, saya bisa rawat istri saya sendiri kok." tolak Rangga halus.
"Ya sudah kalau gak mau. Kalau begitu saya pulang dulu, rawat istri kamu baik-baik." ucap dokter Indra.
"Pasti dok. Makasih yah dok." balas Rangga.
Rangga, dokter Indra dan dua perawat yang datang bersama dokter Indra pun keluar dari kamar. Rangga pun mengantar dokter Indra sampai di mobilnya.
Setelah mobil dokter Indra keluar dari halaman rumahnya, Rangga pun berjalan memasuki rumah, tapi baru sampai di depan pintu tiba-tiba mobil Mama Rena memasuki halaman rumah Rangga.
Rangga pun kembali berjalan ke teras dan menunggu Mama Rena.
Begitu mobil Mama Rena berhenti, Mama Rena cepat-cepat keluar dari dalam mobil.
"Gimana keadaan Nara? Dokter Indra sudah datang periksa Nara?" tanya Mama Rena.
"Udah Ma, baru aja dokter Indra pulang." jawab Rangga.
"Ini kamu urus buburnya, Mama mau lihat Nara dulu." ucap Mama Rena sambil memberikan goodie bag yang berisi bubur untuk Nara.
Setelah memberikan goodie bag itu, Mama Rena pun cepat-cepat masuk kedalam rumah lalu masuk kedalam kamar Rangga-Nara.
Melihat selang infus menancap di tangan Nara, hati Mama Rena langsung terenyuh, baru kali ini Mama Rena melihat Nara tak berdaya.
"Pasti ini semua berat yah untuk kamu. Maafkan Mama yah Nara, gara-gara Mama dan Rangga kamu jadi seperti ini." ucap Mama Rena sambil mengelus punggung tangan Nara yang tertancap jarum infus. Airmata Mama Rena juga lolos begitu saja karena tak sanggup melihat kondisi Nara yang seperti ini.
💋💋💋
Bersambung...