
"Ini Mas kopi-nya." ucap Erika seraya meletakkan secangkir kopi dimeja lalu mendaratkan bokongnya di sofa.
"Makasih." jawab Rangga lalu mengambil cangkir itu lalu menyeruput kopi sedikit demi sedikit.
Melihat Rangga menyeruput kopi itu, Erika pun tersenyum licik.
"Aku ke kamar dulu yah Mas, mau baring-baring dulu." Pamit Erika.
"Mmm..." jawab Rangga yang belum merasakan efek obat perangsang.
Erika pun berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Erika pun menyetel alarm sepuluh menit dari sekarang. Karena obat perangsang itu baru akan bereaksi setelah lima sampai lima belas menit setelah di konsumsi.
Sambil menunggu obat perangsang itu bereaksi, Erika pun mempersiapkan dirinya. Ia mengganti pakaiannya dengan lingerie lalu menyemprotkan parfume yang bisa membangkitkan gairah laki-laki.
Setelah sepuluh menit alarm ponsel Erika pun berbunyi. Erika yang sudah siap pun mengintip terlebih dahulu keadaan Rangga di ruang tengah. Erika pun tersenyum lebar saat melihat Rangga yang sudah gelisah.
"Obatnya belum bereaksi sempurna, aku harus tunggu beberapa menit lagi sampai kesadaran Mas Rangga benar-benar menurun baru aku keluar." lirih Erika.
Erika pun menunggu sekitar lima menit lagi. Tak lama Erika mendengar suara-suara erangan dari ruang tengah. Suara siapa lagi kalau bukan suara Rangga. Saat itulah Erika pun keluar dari dalam kamar.
"Mas Rangga! Mas Rangga kenapa?" tanya Erika sambil berlutut di sebelah Rangga.
Rangga yang sedang meringkuk diatas sofa pun mendongakkan wajah-nya untuk melihat Erika.
"Nara..." lirih Rangga pelan dengan suara yang serak-serak basah.
Mendengar Rangga menyebut nama Nara, bukannya marah, Erika malah senang, itu berarti saat ini kesadaran Rangga sudah turun dan Rangga sudah berhalusinasi melihat Erika seperti melihat Nara.
"Iya Mas, ini Nara..." jawab Erika memanfaatkan keadaan.
"Nara, Nara ku sayang, istri ku tercinta." ucap Rangga sambil mengubah posisi-nya menjadi duduk lalu menarik tangan Erika hingga Erika terjerembab di sofa.
"Mas... Mas Rangga..." erang Erika dengan suara yang erotis.
Dan jelas saja suara Erika makin membuat bira.hi Rangga bergejolak.
Rangga pun langsung mencium bibir Erika dengan sangat rakus sambil tangannya mere.mas gundukan daging Erika yang ia pikir Nara.
💋💋💋
Pukul 19.00
Rumah Rangga-Nara.
Sementara di rumah, ada Nara yang bolak-balik menghubungi ponsel Rangga.
"Mas Rangga kok gak jawab telponnya sih! Sesibuk apa sih dia sampe jam segini juga belum pulang dari kantor!" dumel Nara.
Dari aplikasi pelacak yang ada di ponsel Nara, terlihat jelas kalau posisi Rangga sedang ada di kantor.
"Apa aku susulin aja yah ke kantor? Mas Rangga tuh kalau udah kerja suka lupa waktu! Udah tau mau program hamil, bukannya di kasih fit badannya ini malah di push kerja!" gerutu Nara.
Tak perlu pikir panjang Nara pun mengganti pakaiannya setelah itu mencari kunci mobil di tempat gantungan kunci-kunci mobil.
"Ini kunci mobil kemana sih, kok gak ada disini!" dumel Nara yang tidak menemukan kunci mobil-nya.
Karena tidak menemukan kunci mobil-nya, Nara pun mengambil asal salah satu kunci mobil milik Rangga setelah itu keluar dari dalam rumah. Tak lupa ia mengunci terlebih dahulu semua pintu baru ia berjalan menuju garasi.
Sesampainya di garasi Nara pun menekan tombol otomatis yang ia pegang agar ia tahu yang mana mobil yang akan ia pakai.
Dan lampu mobil Ferrari berwarna putih itu pun menyala. Nara pun berjalan menuju mobil Ferrari berwarna putih itu lalu masuk kedalam mobil.
Saat sabuk pengaman sudah terpasang, tak sengaja Nara mendengar suara sesuatu yang bergetar.
Nara pun menajamkan telinga-nya untuk mencari dimana sumber suara itu. Karena mobil Ferrari itu tidak punya jok belakang alias mobil berdua pintu, jadi suara getaran yang Nara dengar sudah pasti berasal dari jok depan.
Nara pun berhasil menemukan sumber suara itu dari jok sebelah-nya. Nara pun mera.ba-ra.ba jok itu dan akhirnya di dapatlah sebuah ponsel dari sela-sela jok. Saat Nara mendapatkan ponsel itu, ponsel itu sudah tidak bergetar lagi.
"Ponsel siapa ini?" gumam Nara.
Karena penasaran Nara pun membuka ponsel itu yang ternyata tidak menggunakan kunci layar. Mata Nara langsung membulat lebar kala melihat layar depan ponsel itu.
💋💋💋
Bersambung...