Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku

Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku
DLHS 83


Puas berjalan-jalan di tempat wisata, Nara memutuskan untuk masuk ke dalam pusat perbelanjaan, apalagi kalau bukan untuk berbelanja.


Saat melewati toko khusus seragam dinas peranjangan, tiba-tiba langkah Nara terhenti, ia melihat ada sebuah lingerie yang menurutnya sangat unik.


Nara pun masuk ke dalam toko itu, niatnya hanya untuk melihat-lihat saja, tapi ujung-ujungnya Nara termakan omongan manis SPG toko yang terus mencuci otak Nara untuk membelinya dan akhirnya tiga lingerie pun Nara bawa keluar dari toko itu.


Setelah dua jam berada di mall, barulah Nara pulang ke hotel.


💋💋💋


Hotel.


Pukul 16.00


Sudah enam jam Nara pergi dari hotel tanpa bisa di kabari dan itu membuat Rangga semakin khawatir.


Sudah lebih lima jam Rangga mencari Nara ke pusat-pusat perbelanjaan yang belum Nara datangi, tapi Rangga tak kunjung menemukan Nara, ingin melapor ke polisi tapi ini belum 24 jam, jadi mau tidak mau Rangga kembali ke hotel dan berharap Nara sudah pulang tapi nyatanya Nara belum ada di kamar mereka.


Lima belas menit kemudian.


Tok... Tok... Tok...


Tiba-tiba pintu kamar terketuk. Rangga yang sedang mondar-mandir di dekat pintu cepat-cepat membuka pintu kamar berharap yang mengetuk pintu adalah Nara. Dan benar saja, itu Nara.


"Kamu darimana sih Ra? Pergi gak bilang-bilang, hape juga gak di aktifin, kamu tau gak aku khawatir!" tanya Rangga dengan nada yang meninggi karena panik.


"Ya udah sekarang kan aku udah balik." jawab Nara santai sambil berlalu dari hadapan Rangga.


Tiba-tiba saja Rangga langsung menarik Nara dan membalikkan tubuh Nara kemudian memeluk erat tubuh istrinya itu.


"Mas... Ih.. lepasin!" ronta Nara.


"Sebentar aja, sebentar aja kayak gini." ucap Rangga.


Nara pun berhenti meronta.


"Aku khawatir banget sama kamu Ra. Waktu aku balik ke kamar, aku gak lihat kamu ada di kamar, ditambah lagi hape kamu juga gak bisa di hubungi, aku makin khawatir, aku takut kamu diem-diem ninggalin aku balik ke Indonesia dan nerusin gugatan cerai. Aku takut banget Ra." kata Rangga lagi.


"Aku tau Ra, kamu masih belum bisa ngelupain kesalahan aku, tapi aku mohon kasih aku kesempatan Ra, jangan tinggalin aku. Kalau kamu marah sama aku setiap kamu ingat kesalahan aku, kamu bisa maki aku, kamu bisa siksa aku, kamu bisa melampiaskan kemarahan kamu sama aku, asal kamu jangan tinggalin aku Ra, aku mohon." kata Rangga lagi.


Perlahan Nara menjauhkan tubuh Rangga.


"Aku sudah memaafkan kamu Mas dan sekarang aku sedang di fase memilih untuk berdamai dan mengikhlaskan dengan apa yang sudah terjadi daripada berusaha untuk melupakan. Karena semakin keras aku berusaha melupakan semuanya, malah ingatan itu semakin melekat di kepala aku dan makin menyayat hati aku." jawab Nara.


"Aku juga tidak akan meninggalkan mu Mas, karena sekarang kita bukan lagi ada di fase mencari tapi kita sudah ada di fase bertahan. Aku akan tetap ada di samping mu dan bertahan dengan semua proses yang ada. Meski kita setiap hari ribut, tapi tempat aku pulang hanya kamu, meski kamu sempat tergoda dengan yang lain, tapi aku akan selalu menjaga hati aku untuk kamu. Karena aku ingin mempertahankan semua ini." kata Nara.


"Aku memutuskan memberi kesempatan pada mu sekali ini tapi bukan berarti akan ada kesempatan kedua jika kamu melakukan kesalahan lagi. Jadi aku harap kamu bisa lebih menghargai janji suci pernikahan kita dulu." lanjut Nara.


"Pasti Ra, pasti..." balas Rangga sambil memeluk Nara.


"Makasih udah kasih aku kesempatan." kata Rangga lagi sambil menangis bahagia.


Nara membalas pelukan Rangga. Beberapa menit mereka saling berpelukan hangat.


Tapi tiba-tiba Rangga melepas pelukannya.


"Tapi tetap aja kamu gak bisa pergi kemana-mana sendiri tanpa aku! Ini Singapura, Ra, kalau kamu ilang gimana?" omel Rangga.


Bugh... Nara langsung memukul dada Rangga.


"Kamu pikir aku anak kecil, ilang! Aku tau jalan pulang lah!" balas Nara sambil berlalu dari hadapan Rangga.


"Ya kalau kamu di culik?" balas Rangga sambil mengekori Nara.


"Siapa juga yang mau nyulik aku!" balas Nara.


"Brondong mungkin." jawab Rangga.


Nara memutar bola matanya malas sambil membalikkan tubuhnya menghadap Rangga.


"Kayaknya bukan cuma kepala bawah kamu aja yang perlu terapi deh Mas, kepala atas kamu juga perlu di terapi!" ucap Nara lalu berjalan menuju kamar mandi.


💋💋💋


Bersambung...