DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Kritis


Pintu ruang UGD terbuka, Al yang sudah cemas dengan keadaan isterinya pun langsung beranjak berdiri menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar


" Dokter bagaimana keadaan isteriku?" tanya Al panik


" Alhamdulillah keadaan pasien baik-baik saja dan calon bayinya juga dalam keadaan sehat hanya saja pasien sedikit syok dan mengalami sedikit tekanan jadi butuh perhatian yang ekstra dan juga hibur pasien agar bisa mengurangi dan menghapus rasa traumanya" ujar sang dokter


" Apa pasien sudah boleh di jenguk dokter?"


" Nanti ya pak, tunggu pasien dipindahkan ke ruang perawatan "


" Baik dokter" jawab Al sedikit bisa bernafas lega


" Lalu bagaimana keadaan dua pasien lainnya dokter?" tanya Arlan yang kini sudah berdiri di belakang Al bersama Mina


" Untuk pasien yang bernama Sasa, Alhamdulillah pasien hanya mengalami luka kecil tidak ada yang serius hanya syok dan trauma sedikit" terang dokter menjelaskan


" Alhamdulillah, syukurlah kalau tidak ada luka yang serius" ucap Mina sedikit lega


" Lalu bagaimana keadaan pasien yang bernama Dira dokter?" tanya Arlan lagi dengan perasaan yang tidak menentu


" Untuk pasien yang bernama Dira keadaannya saat ini sangat memprihatinkan, luka ditubuhnya sangat banyak dan cukup parah, dan pasien saat ini dalam keadaan kritis" ucap dokter tersebut menuturkan


Deg


Arlan seketika membulatkan matanya mendengar penuturan dokter mengenai keadaan Dira, hatinya mencelos tubuhnya seketika terasa lemas


" Kritis dokter?" tanya Arlan sedikit terbata


" Iya, pasien mengalami banyak luka dan yang cukup parah adalah cidera pada punggungnya, sepertinya pasien mendapati pukulan yang sangat keras di daerah punggungnya" ucap dokter tersebut


" Sebenarnya apa yang terjadi kenapa Dira bisa mengalami luka yang begitu parah?" batin Arlan


_________


Ayla sudah dipindahkan ke ruang perawatan begitu juga dengan Sasa.


Karena Sasa tidak mengalami luka yang serius dia pun sudah diperbolehkan pulang kecuali Ayla dan Dira yang masih dalam keadaan belum sadarkan diri


Al dengan setia menunggu Ayla sadar, duduk di sisi ranjang seraya memperhatikan wanitanya yang masih memejamkan mata


Ceklek


Pintu ruangan terbuka sepasang suami isteri paruh baya masuk dalam keadaan khawatir dan panik setelah mendengar menantu kesayangannya masuk rumah sakit akibat penculikan


" Al bagaimana keadaan menantu mama dan juga calon cucu mama?" tanya mama Ambar dengan cemas


" Mah!" Al yang diberondong dengan pertanyaanpun terperanjat kaget dengan kehadiran dua orang kesayangannya itu


" Sayang" ucap mama Ambar lirih


" Bagaimana keadaannya Al?" tanya mama Ambar kembali karena belum mendapat jawaban dari sang putra


" Ayla hanya syok dan mengalami trauma mah mungkin saat sadar Ayla akan sedikit histeris " sahut Al


" Lalu bagaimana dengan kandungannya?" tanya papa Kusuma


" Alhamdulillah, kandungannya baik-baik saja pah" sahut Al


" Syukurlah" ucap papa dan mamanya Al bersamaan


" Memangnya bagaimana ceritanya Al, kok Ayla bisa diculik ?" tanya mama Ambar penasaran dengan kejadian yang menimpa menantunya itu


" Ini semua ulah Kevin mah, pah" jawab Al


" Kevin sahabat kamu dulu?" tanya papa Kusuma


" Iya,"


" Kenapa dia bisa melakukan hal sejahat itu?" tanya mama Ambar


" Clara memilih pisah dengannya dan bahkan membatalkan pernikahan mereka dan pergi ke Jerman" jawab Al


" Clara mantan kamu itu?" Al mengangguk


" Lalu apa hubungannya dengan Ayla dan juga kamu?"tanya mama Ambar tidak habis pikir


" Jangan bilang kamu masih menjalin hubungan dengan wanita itu Al?" cecar papa Kusuma dengan wajah garang


" Ya enggak lah pah, aku dan Clara saja sudah lama tidak bertemu" jawab Al


" Lalu kenapa Kevin malah ingin mencelakai Ayla?" tanya papa Kusuma


" Kevin tidak terima Clara pergi begitu saja meninggalkan dia mah, pah sementara Al bisa hidup bahagia bersama Ayla meskipun tidak adanya Clara, hatinya Kevin sudah sempit rasa irinya menjadi obsesi yang sudah membutakan mata hatinya" jawab Al


" Sampai segitunya?" mama Ambar geleng-geleng kepala


" Bukan karena itu saja mah, pah. Kevin juga tidak terima dengan kemajuan perusahaan Al apalagi Minggu depan perusahaan EK grup akan mengadakan launching produk baru!"


Mama dan papa Kusuma pun mengerti motif dari tindak kejahatan yang Kevin lakukan.


" Lalu bagaimana dengan keadaan dua teman Ayla yang ikut diculik ?" tanya Mama Ambar setelah mengingat dua sahabat Ayla yang ikut diculik


" Sasa, dia sudah sadar hanya mengalami luka ringan dan sudah diperbolehkan pulang hari ini tapi Dira_" ucap Al menggantung


" Dira?" mama Ambar terkejut saat Al menyebut nama Dira


" Kenapa dengan Dira?" tanya mama Ambar yang seketika merasa cemas


" To..long, jangan.... aku mohon jangan!" rancau Ayla lirih membuat Al dan kedua orang tuanya langsung menoleh ke arah Ayla


" Sayang!" Al langsung mendekati wajahnya


" Sayang kamu sudah sadar?" tanya Al dengan suara selembut mungkin karena tidak ingin Ayla merasa terkejut dan takut


" Jangan sakiti kami aku mohon, lepaskan kami... hiks.. hisk..!" ucap Ayla seraya menangis membuat Al teriris hatinya melihat keadaan Ayla yang nampak begitu ketakutan dengan peluh yang membasahi keningnya


" Ayla sayang, bangun sayang disini ada kami tidak akan ada lagi yang berani menyakiti kamu lagi" ucap mama Ambar merasakan pilu melihat keadaan menantunya yang terlihat begitu ketakutan dengan tubuh yang bergetar


" Aku mohon lepaskan kami, jangan sakiti anakku hiks... hiks... " Ayla masih memejamkan mata tapi mulutnya terus merancau


" Hiks... hiks... Dira, aku mohon jangan sakiti dia lagi. Dira... Dira...!"


" Tolong Dira... jangan sakiti Dira lagi, aku mohon cukup.... Dira!" Ayla terus merancau dengan tangis yang semakin memilukan terdengar begitu menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.


" Sayang sadarlah, sudah tidak ada lagi yang menyakiti kalian begitu juga dengan Dira!" ucap Al


Perlahan Ayla membuka kedua matanya dan seketika ia berteriak histeris " Aaaaa..." Al yang terkejut dengan reaksi Ayla langsung memeluknya dan berusaha untuk menenangkannya


" Sayang ini mas, tenangkan dirimu ya!" Al memeluk Ayla dan terus mengucapkan kata-kata yang bisa menenangkan hati isterinya itu


Perlahan Ayla mulai bisa sedikit lebih tenang dan Al membantu Ayla untuk duduk


" Kamu tenang ya, semua akan baik-baik saja" ucap Al


" A...anak kita!" ucap Ayla lirih seraya mengelus perut besarnya


" Anak kita baik-baik saja sayang, dia sangat kuat!" ucap Al


" Di.. Dira, dimana Dira mas?" tanya Ayla dengan nada panik dan cemas


" Dira_" Al tidak melanjutkan kalimatnya


" Dira enggak apa-apa kan mas? Dira baik-baik saja kan mas?aku takut Dira kenapa-napa mas, mereka memukuli Dira mereka terus memukuli Dira yang berusaha melindungi anak kita mas, Dira dia...dia mengorbankan dirinya demi melindungi ku dan juga bayi kita mas" Ayla tak sanggup menahan air matanya saat bayangan dimana Dira terus memeluk tubuhnya dan membiarkan penjahat itu dengan kejamnya memukul, mencambuk dan menendang tubuh kecil Dira bahkan saat penjahat itu ingin menyeret Ayla dengan tubuh ringkihnya Dira masih berusaha untuk bangkit dan memeluk kaki laki-laki tersebut yang sampai membuat gadis itu mendapatkan tendangan yang cukup keras di punggungnya hingga membuat gadis itu langsung tidak sadarkan diri


Sementara di ruangan lain seorang pria tengah mengusap wajahnya kasar menatap ke sebuah ruangan kaca yang didalamnya terlihat seorang gadis dengan banyaknya alat medis yang menempel di tubuhnya.


Pria itu menangis dalam diam menatap sayu ke arah gadis yang berada di balik ruang kaca tersebut. Sakit tentu saja perasaannya sangat sakit melihat gadisnya yang sudah beberapa hari selalu mengusik ketenangan hatinya dan kini gadis itu hanya bisa diam dengan mata yang terpejam dengan sangat rapat jangankan untuk bergerak bernapas saja gadis itu membutuhkan alat medis.


" Kenapa sampai seperti ini, dasar gadis ceroboh!" ucap Arlan lirih seraya menatap Dira yang berada di dalam ruang ICU dengan keadaan kritis.


" Bangunlah gadis ceroboh, mau sampai kapan kamu tidur?" lirihnya


" Pak Arlan bagaimana keadaan Dira?" tanya Sasa yang kini sudah berada di belakangnya bersama dengan Mina


" Masih belum sadar" jawab Arlan tanpa melepas pandangannya dari arah Dira


" Dira pasti merasa sangat kesakitan saat tubuh kecilnya itu harus menerima pukulan dan tendangan berkali-kali dari para penjahat itu" ucap Sasa dengan air mata yang sudah membasahi pipinya


" Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Arlan tanpa mengalihkan pandangannya


" Dira berusaha melindungi Ayla dan kandungannya saat penjahat-penjahat itu ingin menyakiti Ayla dan bayi di dalam perutnya, Dira yang sudah sangat lemah masih berusaha untuk mencegah para penjahat itu yang ingin menyeret Ayla dan saat itulah Dira mendapatkan tendangan yang sangat kuat hingga akhirnya membuat Dira tidak sadarkan diri" tutur Sasa menceritakan kejadian yang menimpa mereka saat diculik


" Ya ampun Sasa sungguh sangat mengerikan" ucap Mina


" Iya, mereka sangat jahat gue juga mendapatkan tamparan yang sangat keras dari salah satu penjahat itu dan membuat gue akhirnya terkapar dan tidak sadarkan diri" ucap Sasa


" Gadis bodoh!" gumam Arlan pelan


" Tidak, Dira bukan gadis bodoh. Dira itu gadis yang kuat, hebat dan juga berani. jika bukan karena Dira mungkin aku dan Ayla tidak tahu bagaimana nasib kami selanjutnya terutama Ayla. Dira sudah banyak berkorban untuk kami" ucap Sasa lirih


Arlan yang sedang menatap wajah gadis itu dari balik kaca tiba-tiba dikejutkan dengan kondisi Dira yang memburuk apalagi terlihat jelas wajah panik beberapa dokter dan juga para perawat yang datang tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan Dira.


" Ada apa ini? kenapa mereka terlihat begitu panik?" tanya Arlan dalam hati


Beberapa dokter sedang menangani Dira terlihat dari raut wajah mereka begitu tegang apalagi saat dilayar monitor detak jantung Dira begitu lemah


..." Aku mohon bertahanlah Dira, tuhan tolong selamatkan dan sembuhkanlah dia!" ...


Arlan mengusap wajahnya dengan kasar, hatinya begitu takut akan kenyataan pahit yang bisa saja terjadi tanpa sadar laki-laki itu menitikkan air matanya.


Mina dan Sasa saling berpelukan memberi kekuatan satu sama lain, mereka sungguh tidak tega melihat kondisi Dira yang sangat menyedihkan.


" Bagaimana nasib kakek dan neneknya jika sampai terjadi sesuatu dengan Dira?" ucap Sasa dengan tangis yang sudah pecah


" Apa kita harus memberitahu mereka tentang keadaan Dira yang seperti ini?" tanya Mina dengan raut wajah bingung


Sasa menggeleng, gadis itu pun tidak tahu harus mengatakan pada keluarga Dira atau tidak.


" Kita harus memberitahu keluarganya" suara bariton itu mengalihkan atensi dua gadis tersebut


" Tapi pak, bagaimana cara memberitahu mereka karena Dira bilang kemarin neneknya baru saja sembuh dari sakit sedangkan kakeknya memiliki riwayat penyakit jantung apa tidak membahayakan kesehatan mereka pak jika mereka tahu kondisi cucu mereka dalam keadaan kritis seperti ini?" tanya Mina yang juga sebenarnya merasa bingung untuk mengambil keputusan itu


" Jika tidak diberitahu bagaimana jika sampai terjadi sesuatu dengan Dira, apa kita tidak akan dipersalahkan juga?" tanya Sasa pada Mina


" Entahlah gue juga bingung" Mina mengusap wajahnya kasar


" Kita lihat kondisi Dira dulu, jika dokter mengatakan kondisinya membaik kita tidak perlu memberitahunya tapi jika masih tetap tidak ada perubahan kita harus memberitahu mereka secara perlahan, walau bagaimanapun mereka juga berhak tau" ucap Arlan


" Iya bapak benar" sahut Sasa


Mereka bertiga pun kembali menatap lurus ke depan menunggu hasil pemeriksaan yang tengah dokter lakukan pada Dira.