
Rain yang sudah ikut duduk bergabung dengan yang lainnya, dia hanya diam saja, sambil terus melirik ke arah Uzair yang mempunyai senyum meneduhkan dan enak di pandang.
Keluarga Abi Ghifar cukup terkejut mendengar jika Alzam sudah menikah dengan Syahlaa, wanita bule yang saat ini sedang di gandeng mesra oleh Alzam.
Sebab pada waktu itu, Abi Ghifar tidak di undang di acara pernikahannya Alzam dan Syahlaa, karena Abi Aasim memang tidak mengundang terlalu banyak tamu undangan.
Jadi tidak salah, jika Abi Ghifar terkejut melihat Syahlaa dan Zarina datang bersama Alzam.
Dan Umi Salwa pun juga ikut bertanya kepada Umi Anum, siapakah Zarina, karena jika katanya Syahlaa dan Alzam baru saja menikah, ko anaknya sudah besar.
" Dia anak saya Ibu, anak kandung saya ",, jawab Syahlaa kepada Umi Salwa.
" Dan saat ini saya juga sedang hamil buah cinta kami berdua ",, kata Syahlaa lagi kepada Umi Salwa, sambil tersenyum dengan Alzam.
" Emm, maaf Nak, apa kamu seorang janda?? ",, tanya Umi Salwa kepada Syahlaa.
" Iya Umi, istri saya memang dulu seorang janda, dan gadis kecil itu buah cinta mereka dulu ",, bukan Syahlaa yang menjawab, melainkan Alzam.
Syahlaa, Umi Anum dan juga Abi Aasim cukup respect dengan jawaban yang di berikan oleh Alzam kepada Umi Salwa.
" Oh, maaf ya Nak, Umi tidak tahu ",, kata Umi Salwa kepada Syahlaa.
Syahlaa hanya mengangguk dan tersenyum saja kepada Umi Salwa.
" Semoga saja Nak Afnan ini adalah jodoh terakhir kamu ya Nak, Umi doakan semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah dan warohmah ",, kata Umi Salwa lagi kepada Syahlaa.
" Terimakasih Ibu atas doanya, semoga semua doa Ibu di hijabah sama Allah ",, jawab Syahlaa kepada Umi Salwa.
" Panggil Umi saja Nak, sama seperti Afnan ",, kata Umi Salwa kepada Syahlaa.
" Baik Umi ",, jawab Syahlaa sambil tersenyum.
Syahlaa sudah takut duluan, jika Umi Salwa akan menghujatnya sama seperti orang-orang biasanya.
Namun ternyata, dugaan Syahlaa salah besar, dan Syahlaa langsung mengucapkan istighfar di dalam hatinya, karena sudah bersu'udzon dengan Umi Salwa.
Di saat sedang asik berbincang, Abi Ghifar yang penasaran dengan Rain, dia pun mencoba bertanya kepada Alzam, karena wajah Rain terlihat kental sangat bule sekali, sama seperti Syahlaa.
" Nak Afnan, dia siapa,?? apakah dia teman kamu?? ",, tanya Abi Ghifar kepada Alzam.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Abi Ghifar, Alzam mencoba mengalihkan pandangannya ke arah Abi Aasim, yang ternyata sedang melihat ke arahnya.
" Iya, dia teman Afnan Abi ",, jawab Alzam kepada Abi Ghifar.
Rain hanya diam saja, karena dia tidak mengerti apa yang semua orang bicarakan.
" Dan dia ....... ",, perkataan dari Alzam terputus, ketika tiba-tiba mendengar suara dering ponsel yang ternyata milik Rain.
" Afnan, Syahlaa aku permisi ijin dulu, dan jangan katakan aku siapa kepada mereka ",, kata Rain kepada Syahlaa dan Alzam.
Untung saja mereka semua tidak mengerti apa yang di katakan oleh Rain, jadi semua orang tidak ada yang mengerti perkataan dari Rain selain Alzam dan Syahlaa.
" Iya baiklah ",, jawab Alzam kepada Rain.
Sedang Syahlaa hanya mengangguk saja kepada Rain.
Rain pun lalu beranjak berdiri dari duduknya, untuk mengangkat sambungan telepon dari seseorang.
Dan orang itu adalah Casper, untuk menanyakan kepada Rain, apakah sudah sampai di Indonesia apa belum.
Setelah selesai menerima telepon dari Casper, Rain pun mencoba mengecek balasan pesan dari Faiha.
Ternyata Faiha sudah membalas pesan darinya, dan Rain pun segera membalasnya kembali ketika sudah mengtranslatekannya terlebih dahulu.
" Akan Kakak tunggu di sini, cepatlah datang, karena Kakak sudah sampai ",, balas Rain kepada Faiha.
Karena sebelumnya, Faiha mengatakan kepada Rain melalui balasan pesan, jika sudah sampai di Yayasan, Rain di suruh untuk mengabarinya.
Dan saat ini Faiha yang sudah mendapatkan balasan pesan jika Rain sudah sampai, dia langsung saja bergegas ke luar dari rumah sang Kakak menuju ke Yayasan milik sang Abi.
Rain sendiri yang sudah mendapatkan balasan balik dari Faiha untuk menunggunya sebentar, dia pun akhirnya memilih berdiri di depan pintu gerbang, untuk menunggu Faiha yang sedang berjalan.
Selang beberapa menit kemudian, dari jauh mata Rain sudah melihat gadis yang di cintainya sedang berjalan ke arahnya.
Semakin dekat bisa melihat wajah Faiha, Rain bisa menebak, jika Faiha lebih banyak menangis akhir-akhir ini.
Terlihat dari matanya yang bengkak dan wajahnya yang terlihat bersedih.
" Faiha, kamu baik-baik saja?? ",, tanya Rain mencoba menggunakan Bahasa Indonesia.
Faiha hanya mengangguk sambil tersenyum tipis kepada Rain, walau begitu Faiha begitu sangat senang sekali bisa melihat lagi saat ini.
" Ayo Kak Rain, kita masuk ke dalam, akan Faiha kenalkan kepada mereka semua, siapa Kak Rain sebenarnya ",, kata Faiha sambil mengeja perkataannya.
Karena Faiha sambil ingin mengajari Rain berbicara Bahasa Indonesia.
" Iya ayo ",, jawab Rain kepada Faiha.
Rain dan Faiha lalu berjalan beriringan untuk menuju ke rumah Abi Aasim.
Alzam terus mengulur waktu sampai Rain kembali, dan dia juga mengatakan tidak setuju kepada Abi Ghifar, untuk jangan melanjutkan lagi perjodohan mereka berdua, antara Uzair dan juga Faiha.
Ketika sedang saling debat antara Alzam dan juga Abi Ghifar, sedang Abi Aasim hanya diam saja, tiba-tiba saja pandangan mereka semua teralihkan kepada Faiha dan Rain yang baru saja masuk ke dalam rumah.
" Tante Fai ",, kata Zarina dengan sangat senang sekali.
" Zarina, keponakan tante, tambah cantik saja sih, pulang dari Prancis ",, kata Faiha sambil menggendong Zarina.
" Emm, sayang ikut sama Ayah sebentar ya, tante Fai biar duduk dulu ",, kata Alzam kepada Zarina.
" Baik Ayah ",, jawab Zarina sambil berjalan ke arah Alzam.
Interaksi anatar Alzam, Zarina dan juga Faiha di perhatikan sekali oleh Keluarga Abi Ghifar.
Dan sesama laki-laki, Uzair yang awalnya tidak sadar siapa itu Rain, dia langsung tersadar ketika melihat Rain masuk ke dalam rumah berdua saja bersama Faiha.
" Mungkinkah dia laki-laki yang di cintai Faiha?? ",, tanya Uzair di dalam hatinya.
" Pantas saja Faiha lebih memilih dia, karena dia terlihat lebih mapan, berwibawa, dewasa dan yang pasti lebih bisa mengayomi Faiha ketika berumah tangga nanti, tidak seperti diriku yang masih sama-sama belum matang pemikirannya seperti Faiha ",, kata batin Uzair lagi untuk Rain.
Jika Rain merasa minder dengan Uzair, Uzair sendiri juga merasa minder dengan Rain.
Rain dan Uzair, tanpa mereka sadari ternyata mereka merasa saling minder satu sama lainnya.
Itulah hidup, terkadang kita melihat kehidupan orang lain lebih sempurna daripada kita.
Padahal sebaliknya, merekalah yang merasa iri, karena tidak bisa merasakan kehidupan yang sempurna seperti kita.
Aneh, itulah manusia, yang kodratnya sering merasa tidak bersyukur jika diberi kelebihan rejeki oleh Allah.
Rain dan Faiha, lalu duduk bersebelahan di sofa yang kosong, karena memang sofa yang kosong tinggal itu saja.
" Abi Ghifar, Uzair ",, panggil Faiha kepada ke dua orang tersebut.
Abi Aasim hanya diam saja, dia membiarkan apa yang ingin di sampaikan Faiha kepada semua orang.
Abi Aasim sekarang mencoba akan merestui hubungan Rain dan Faiha, jika mereka berjodoh, dan kalaupun tidak, Abi Aasim akan semakin senang, karena dia jadi bisa menjodohkan Faiha bersama Uzair.
" Iya Nak ",, jawab Abi Ghifar kepada Faiha.
Sedang Uzair hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
" Dia, laki-laki yang duduk di samping Fai, adalah calon suami Fai Abi, Uzair ",, kata Faiha kepada Rain.
Abi Ghifa dan Umi Salwa merasa sangat terkejut sekali, sebab ternyata calon suami Faiha seorang bule dan wajahnya terlalu dewasa untuk Faiha.
Sedangkan Uzair, dia tidak terlalu terkejut, sebab sebelumnya dia sudah menebaknya sendiri di dalam hatinya.
" Apa kamu sedang tidak bercanda kepada kami Faiha?? ",, tanya Abi Ghifar kepada Faiha.
" Tidak Abi, dan Fai tetap memilih dia, walau kalian semua beranggapan jika dia terlalu dewasa untuk Fai ",, jawab Faiha kepada Abi Ghifar.
Setelah menjawab pertanyaan dari Abi Ghifar, Faiha langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah Abi Aasim.
" Abi ",, panggil Faiha kepada Abi Aasim.
Abi Aasim hanya diam saja, dan Abi Aasim sedang menatap lekat ke arah Faiha.
" Ijinkan Fai menikah dengan Kak Rain Abi, hanya Kak Rain yang Fai cintai ",, kata Faiha kepada Rain.
Ketika Faiha ingin melanjutkan lagi perkataannya, dia langsung di tahan oleh Rain.
" Stop Faiha, biar Kakak saja yang berbicara ",, kata Rain kepada Faiha.
Walau sedikit tidak jelas kosa kata Bahasa Indonesianya, akan tetapi masih bisa di mengerti oleh mereka semua.
" Tuan Aasim ",, kata Rain kepada Abi Aasim.
" Saya, benar-benar mencintai Faiha, bahkan saya saat ini sudah menjadi mualaf seperti niat saya sejak dulu ",, kata Rain kepada Abi Aasim.
Faiha benar-benar merasa sangat terkejut sekali, mendengar Rain ternyata sudah menjadi mualaf.
Sebab Rain maupun Alzam, tidak ada yang mengatakan kepadanya, jika Rain sudah beragama islam sama seperti dirinya.
Tidak cuma Faiha saja yang terkejut ketika mendengar Rain sudah menjadi mualaf, Abi Aasim dan Umi Anum pun sama seperti Faiha.
" Dan saya akan tetap menikahi Faiha, walau anda tidak setuju sekalipun ",, kata mantap dan tegas dari Rain kepada Abi Aasim.
Terbiasa hidup di kalangan orang-orang seperti Ezio, membuat Rain tidak merasa gentar dan takut sama sekali menghadapi Abi Aasim.
Bahkan, Rain dengan berani menantang Abi Aasim, jika Abi Aasim tidak menyetujui lamarannya kepada Faiha.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...