
Arlan sudah mengenakan stelan jasnya, ia nampak semakin gagah dengan kemeja biru langit dibalut jas berwarna abu-abu.
Sebelum menuju rumah Dira Arlan terlebih dahulu pergi ke rumah Al
" Assalamualaikum" ucap Arlan setelah sampai di rumah Al yang ternyata mereka sudah siap dan menunggunya di ruang tamu
" Wa'alaikum salam" jawab Al dan yang lainnya secara serempak
" Sudah siap kamu Lan?" tanya papa Kusuma
" Sudah pah" jawab Arlan
" Yaudah kalau begitu kita berangkat sekarang" ucap papa Kusuma yang diangguki oleh Arlan
" Itu apa mah?" tanya Arlan saat melihat mama Ambar yang dibantu oleh bi Nani dan juga Ayla membawa beberapa parsel
" Oh ini sekedar buah tangan, masa kita datang kesana dengan tangan kosong" jawab mama Ambar
Arlan hanya mengangguk dan juga merasa malu karena dia benar-benar tidak kepikiran sampai ke arah sana
" Apa loe sudah membeli cincinnya Lan?" tanya Al yang saat ini tengah menggendong Aliza
" Sudah, tadi pulang dari kantor gue langsung mampir ke toko perhiasan" jawab Arlan
" Bagus kalau gitu" ucap Al
Malam ini Al dan keluarganya mendampingi Arlan pergi ke rumah Dira untuk melamar gadis yang sudah mencuri perhatiannya.
Arlan terlihat sedikit gugup dan grogi setelah mobil yang mereka tumpangi kini sudah terparkir di pekarangan rumah Dira.
" Ayo kita turun" ucap Al
Mama Ambar dan papa Kusuma turun dari dalam mobil dan mereka nampak terkejut melihat kondisi rumah Dira yang sangat sederhana dan juga kecil
" Maaf ya mah, pah karena sudah meminta kalian datang ke rumah Dira yang mungkin nampak _" ucap Arlan terpotong
" Jangan lihat dari penampilan rumahnya tapi lihatlah dari hati pemilik rumahnya" ucap papa Kusuma seraya menepuk bahu Arlan seraya tersenyum
" Iya apa yang dikatakan papa memang benar, memiliki rumah mewah tapi jika pemilik rumahnya miskin akhlak dan sombong untuk apa semua itu Lan? lebih baik miskin harta tapi tidak miskin keimanan dan juga budi pekerti" ucap mama Ambar menimpali
" Lagi pula jika kalian menikah nanti kami akan menghadiahkan kamu rumah, ya meskipun tidak besar tapi kami rasa cukup untuk kalian tempati" tambah mama Ambar
" Tidak perlu mah, aku tidak mau merepotkan kalian" Tolak Arlan secara sopan
" Tidak ada penolakan, kami memberikan rumah itu sebagai hadiah pernikahan kalian nanti" ucap tegas papa Kusuma
" Iya baiklah kalau begitu. terima kasih mah.. pah .. "
" Iya sama-sama"
Al mendekati mereka sambil menggendong Aliza, sementara Ayla sudah membawa dua bingkisan untuk keluarga Dira ditangan kanan dan tangan kirinya
" Ayo kita masuk jangan malah ngobrol disini!" ucap Al
" Iya, ayok kita kesana!" seru papa Kusuma
" Iya pah tapi tunggu mama sebentar ya mau ambil bingkisan dulu di dalam mobil" ucap mama Ambar berlalu kedalam mobil
Setelah siap mereka pun langsung melangkah menuju rumah Dira
Tok
Tok
Tok
" Assalamualaikum" Arlan berserta rombongan mengucapkan salam saat sudah berada di depan pintu rumah Dira
Sudah beberapa kali Arlan mengucapkan salam tapi tidak kunjung ada jawaban dari rumah sederhana tersebut
" Kenapa sepi, seperti tidak ada orang ?" gumam Al sambil melihat ke sekeliling
" Lan coba kamu hubungi Dira!" titah Al yang merasa ada kejanggalan
" Iya" Arlan lalu mengambil ponselnya dan langsung mendial nomor ponsel milik Dira
Arlan menghela napas berat dan raut kecemasan pun terlukis jelas di wajah tampannya
" Ada apa? Dira tidak menerima panggilan?" tanya Al
" Iya" jawab Arlan nampak lesu
" Sebenarnya dia niat enggak sih atau cuma mau mempermainkan loe doang" kesal Al
" Mas jangan bicara seperti itu" tegur Ayla
" Coba kak telpon Dira lagi" seru Ayla
Sedetik kemudian terdengar suara dering ponsel dari dalam tas Ayla
Ayla meletakkan keranjang buah yang berada di tangannya lalu mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam tas
" Sasa?" beo Ayla saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya
" Assalamualaikum, Sa" ucap Ayla membuat semua yang berada di sekitarnya menoleh ke arah Ayla
" Wa'alaikum salam, Ay loe sekarang lagi dimana?" tanya Sasa dengan suara yang terdengar sedikit berbeda
" Lagi di rumah Dira, tapi sepi banget rumahnya loe tau enggak dia kemana?"
" Dira lagi di rumah sakit"
" Apa di rumah sakit?"
" Iya, gue sama Mina lagi di sini menemani Dira di rumah sakit tadi kakeknya Dira penyakit jantungnya kambuh dan sekarang masih dalam penanganan dokter"
" Yaudah terima kasih infonya gue akan segera memberitahu kak Arlan"
" Iya sama-sama"
Sambungan telpon pun terputus Arlan yang sudah tidak sabar pun langsung memberondong Ayla dengan pertanyaan
" Ada apa Ay? siapa yang menelpon? dan apa katanya? siapa yang masuk rumah sakit?" tanya Arlan dengan raut wajah penuh kecemasan
" Dira sekarang berada di rumah sakit kak dia_" belum selesai bicara Arlan yang panik pun langsung pergi begitu saja tanpa menunggu penjelasan Ayla lebih lanjut
" Kak Arlan tunggu dulu aku belum selesai bicara!" teriak Ayla tapi percuma karena Arlan tidak mendengar ucapannya
" Ishh... kak Arlan kebiasaan" ucap Ayla mendengus kesal
" Ada apa sayang, apa kata kamu tadi? Dira masuk rumah sakit?" tanya Al memastikan
" Bukan Dira mas yang masuk rumah sakit tapi kakeknya, kata Sasa penyakit jantung kakeknya Dira kambuh " jawab Ayla membuat Al, papa Kusuma dan mama Ambar sedikit bernafas lega walaupun cukup prihatin dengan keadaan kakeknya Dira
" Arlan sudah pergi ke rumah sakit sekarang sebaiknya kamu pulang saja Al bersama Ayla, papa dan mama akan menyusul Arlan ke rumah sakit" Tutur papa Kusuma
" Ah dasar si Arlan kurang asem masa kita disuruh jalan kaki ke depan, kita ditinggal begitu saja disini" keluh Al
" Sayang kamu gendong Aliza aja ya biar aku yang membawa keranjang buahnya" ucap Al
Kini mereka berjalan kaki menyusuri jalanan yang cukup asing untuk mereka.
" Mereka itu siapa?" tanya seorang warga yang melihat mereka sedang berjalan kaki dengan penampilan yang terbilang sempurna
" Sepertinya mereka orang kaya tapi mau kemana ya dengan penampilan seperti itu tapi berjalan kaki?" ucap salah satu ibu-ibu ikut menimpali
" Mungkin sedang mencari alamat" jawab ibu-ibu satunya
" Bisa jadi"
Saat Al dan keluarganya melintas di depan ibu-ibu yang sedang bersantai di depan rumah mereka salah satu ibu-ibu menyapanya.
" Kalian bukan warga sini ya?" tanyanya
Al dan yang lainnya pun menoleh " Ah iya bu, kami memang bukan warga sini" jawab Ayla mewakili menjawab pertanyaan si ibu
" Lalu kalian ini mau kemana dan dari mana?" tanya si ibu cukup kepo
" Oh kami dari rumah Dira bu, dan sekarang mau pulang karena kebetulan orangnya sedang tidak ada di rumah" kali ini bukan Ayla yang menjawab tapi mama Ambar
" Oh Dira cucunya nenek Susi ya?"
" Maaf bu kami kira tau nama neneknya tapi Dira yang kami kenal memang tinggal bersama kakek dan neneknya" jawab Ayla
" Iya nenek Susi sama kakek Nirin" terang ibu yang lainnya
" Mungkin bu"
" Iya tadi sore kakek Nirin dibawa ke rumah sakit , terkena serangan jantung katanya"
" Oh begitu ya bu" sahut mama Ambar
" Iya, kasihan Dira hanya memiliki mereka" ucap si ibu
" Iya bu, kalau begitu kami permisi bu mau langsung ke rumah sakit ingin melihat keadaan kakeknya Dira" ucap mama Ambar
" Memang kalian ini siapanya Dira ya?"
" Kami ini kerabatnya Dira bu, mari bu kami permisi" ucap mama Ambar dan cepat-cepat pergi enggan menimpali pembicaraan ibu-ibu yang mulai kepo
Ayla dan Al kini sudah naik kedalam taksi menuju pulang ke rumah karena tidak mungkin mereka pergi ke rumah sakit membawa Aliza yang masih bayi sedangkan mama Ambar dan papa Kusuma naik taksi yang lain menuju rumah sakit