
Ezio, Syahlaa, Alzam, Zarina, Rain dan juga Faiha, saat ini mereka semua sudah pada duduk di ruang tamu yang ada di dalam apartemen milik Rain.
Walau hati berat, mau bagaimanapun juga, Ezio harus merelakan sang putri untuk kembali ke pangkuan sang Mama.
" Silahkan di minum Tuan Ezio ",, kata ramah dari Alzam.
" Terimakasih ",, jawab Ezio, sambil menikmati teh yang disuguhkan.
" Ini sudah jam sembilan pagi, kapan kalian semua akan berangkat ke Bandara,?? dan bolehkah saya mengantarkan kalian semua?? ",, tanya Ezio kepada semua orang.
" Ini kami sedang bersiap-siap Tuan, dan mungkin sebentar lagi kami akan berangkat ke Bandara ",, jawab Alzam kepada Ezio.
" Baiklah, bolehkan saya menunggu di sini, sekalian bermain dengan Zarina?? ",, kata Ezio kepada Alzam.
" Silahkan Tuan ",, jawab Alzam sambil tersenyum ramah.
Ketika semua orang sedang bersiap-siap dan memasukkan semua barang-barang mereka ke dalam koper yang mereka bawa, Zarina sementara waktu bermain dengan sang Papi di dalam apartemen Rain.
Tanpa Ezio sadari, jika Syahlaa memperhatikan mereka berdua, dan hati Syahlaa ada rasa senang melihat sikap Ezio yang sangat menyayangi Zarina.
" Lihatlah betapa bahagianya Tuan Ezio, Mama, jangan lagi berburuk sangka kepada dia ya ",, kata Alzam dengan tiba-tiba, dan itu langsung mengejutkan Syahlaa.
" Eh Ayah, iya Mama akan mencoba merubah pola pikir Mama tentang Tuan Ezio, karena bagaimanapun juga Tuan Ezio Ayah kandungnya Zarina, dan dia berhak mendapatkan kesempatan ke dua ",, jawab Syahlaa kepada Alzam.
Singkat cerita, semua orang sudah pada siap untuk berangkat ke Bandara, menggunakan dua mobil milik Ezio dan milik Rain.
Sesampainya di Bandara, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang, dan setengah jam lagi pesawat yang akan mereka naiki akan lepas landas.
Sama seperti sebelumnya, Ezio menemani mereka, sampai pesawat akan lepas landas.
Hati kecil ingin melarang kepergian Zarina, tapi apalah daya, tangan tak sampai, Ezio harus tetap merelakan perpisahannya dengan Zarina untuk sementara waktu lagi.
" Zarina jangan lupakan Papi ya, Papi akan selalu menunggu Zarina di sini, Papi sayang Zarina, Zarina sayang tidak sama Papi?? ",, kata Ezio kepada Zarina.
" Papi, Papi itu altinya apa?? ",, tanya Zarina kepada Ezio.
Sebelum menjawab pertanyaan dari sang putri, Ezio reflek saling pandang dengan Alzam yang duduk tidak jauh darinya.
" Papi itu sama dengan Ayah sayang, Ayah Alzam, dia Ayahnya Zarina, dan Papi ini Ayah kandungnya Zarina ",, jawab Ezio sesimple mungkin.
" Ayah Zalina ada dua, kenapa Mama Zalina cuma ada Mama Syahlaa saja Papi?? ",, tanya Zarina kepada Ezio.
" Iya Tuan Ezio, carilah istri untuk mendampingi anda, supaya anda tidak kesepian, jika Zarina tidak berada di sini ",, kata Alzam kepada Ezio.
" Tidak Tuan Alzam Chafik, aku tidak berniat ingin menikah lagi, tujuan hidupku sekarang cuma Zarina seorang ",, jawab Ezio kepada Alzam.
" Zarina memang punya satu Mama, yaitu Mama Syahlaa, kelak jika Zarina dewasa pasti akan mengerti, sekarang cium Papi dulu dong ",, jawab Ezio juga kepada Zarina.
Mendengar jawaban dari Ezio, ada rasa kasihan di dalam dada Syahlaa, karena terlihat sekali di mata Ezio ada kasih sayang yang melimpah untuk Zarina, dan perubahan yang besar di dalam dirinya.
Zarina langsung mencium sayang pipi sang Papi, dan bersamaan itu pula, panggilan penerbangan untuk Prancis - Indonesia pun akhirnya terdengar juga di telinga mereka.
Lambaian tangan pun saling mereka lemparkan untuk mengiringi perpisahan mereka, dan rasa sesak semakin dalam saja Ezio rasakan, ketika Ezio melihat Zarina sudah masuk ke dalam pesawat.
" Papi tidak tahan Zarina, Papi pulang dulu ",, kata lirih dari Ezio.
Kemarin Ezio akan menunggu sampai pesawat lepas landas, namun kali ini tidak, karena Ezio sudah tidak sanggup lagi.
Sesampainya di dalam mobil, entah kenapa Ezio ingin sekali menangis, dan pecahlah sudah air mata Ezio karena harus berpisah dengan sang putri lagi.
" Bodoh,!! bodoh,!! bodoh!! ",, kata Ezio sambil memukulkan kepalanya di stir mobilnya.
Ezio menangis cukup pilu, menyesali perbuatannya dulu, yang sudah membuatnya berpisah dengan anak kandungnya sendiri.
" Rasa penyesalan ini rasanya tidak sanggup aku rasakan lagi setiap kali berpisah dengan Zarina ",, kata Ezio sambil menangis.
" Ternyata lebih sakit berpisah dengan anak sendiri, daripada dengan istri sendiri, rasa sakitnya teramat sangat sakit sekali, andai saja dulu aku percaya dengan Syahlaa ",, kata Ezio lagi, dan suara tangisannya semakin menggema di dalam mobil.
" Terlambat sudah, Syahlaa sudah menemukan kebahagiaannya sendiri dengan Tuan Alzam, sedangkan aku,?? harus terpuruk dengan kehidupanku yang tidak bertepi, bahkan terlihat suram dan menyedihkan ",, kata Ezio lagi.
Ezio dipuas-puaskan untuk menangis sampai dia merasa lega, dan ketika sudah merasa lega, Ezio pun langsung berangkat ke kantor.
Ketika sudah sampai di kantor, yang Ezio lakukan cuma termenung sendiri di dalam kamar pribadinya, sambil memandangi pemandangan dari balik jendela kacanya.
Ezio tidak berselera untuk melakukan apa pun sama sekali, bahkan makan pun Ezio rasanya tidak n4f5u, sebab jika dia makan akan teringat dengan sikap lucu Zarina yang selalu berceloteh ria dengannya.
Hiduplah dengan damai Ezio, raih impianmu, bangkitlah dan tata masa depanmu, walau itu tidak selalu bersama Zarina.
Setidaknya jika kamu tidak mau menikah lagi, tatalah hatimu, supaya selalu siap jika ada perpisahan lagi dengan putrimu.
Kamu kuat Ezio, jangan terpuruk begitu, karena itu bisa menyakitimu, dan jika Zarina tahu jika Papinya menjadi laki-laki yang lemah, dia pasti akan malu dan marah kepadamu.
Pikirkanlah ucapanku Ezio, ayo bangkit, bahkan para readers yang awalnya membencimu, sekarang mereka ingin melihat kamu bangkit dan menatap hidupmu untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.
Semangat Ezio.
Ezio yang sudah puas termenung seharian di dalam kamar pribadi yang ada di dalam kantornya, tepat pukul lima sore, akhirnya Ezio memutuskan untuk pulang ke rumah mewahnya.
Sama seperti yang tadi, baru saja masuk ke dalam kamar, hati Ezio langsung terasa panas, karena rasanya baru saja tadi Zarina memainkan boneka kesayangannya itu, bahkan masih terlihat berantakan karena sengaja belum Ezio rapikan.
Ezio lalu duduk di sofa yang ada di situ, dia mengambil salah satu boneka dan mainan yang ada di depannya.
Tersenyum sendiri seperti orang gila, karena teringat dengan Zarina yang kemarin bermain dengannya dengan semua mainan yang ada.
Sedang sibuk mengenang kebersamaannya dengan Zarina, tiba-tiba ponsel miliknya berdering, dan itu cukup mengejutkannya.
Melihat nama sang Mama, Ezio langsung segera mengangkatnya.
" Halo Ma ",, kata Ezio.
" Ezio, Mama mau mengabarkan kabar bagus untuk kamu ",, kata Mama Ingrid kepada Ezio.
" Kabar apa Mama?? ",, tanya Ezio.
" Papa kamu sudah semakin sehat, apalagi semenjak kedatangan Zarina ke sini kemarin, Papa kamu semakin semangat ingin segera sembuh dan berkunjung ke Indonesia ",, jawab Mama Ingrid kepada Ezio.
" Dan jika dalam kurun waktu satu minggu yang akan datang, Papa semakin membaik saja kondisinya, dia diperbolehkan berpergian jauh oleh Dokter Ezio, Mama senang, Mama sudah tidak sabar ",, kata Mama Ingrid lagi dan terdengar sedang sangat bahagia sekali.
Ezio tersenyum senang dan lega ketika mendengar perkataan dari sang Mama, serta tanpa Ezio sadari, dia juga sudah tidak sabar ingin segera pergi ke Indonesia menemui Zarina yang ada di sana.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...