
Ayla sudah selesai dengan kegiatan memasaknya, dan Al menghampiri Ayla yang sedang menyajikan semua hasil masakannya diatas meja makan.
Al menarik salah satu kursi yang berjejer melingkar di meja makan lalu mendudukkan dirinya seraya memperhatikan gerak-gerik Ayla yang tengah sibuk sendiri
" Mau makan pakai apa mas?" tanya Ayla dengan lembut lalu mengambil piring yang ada di hadapan Al dan mengisinya dengan nasi
" Apa saja!" jawab Al dengan mata yang masih menatap lekat wajah cantik isterinya
" Pakai udang goreng mau?" tanya Ayla menawarkan
" Boleh" jawabnya dengan anggukan kecil
Setelah selesai mengisi piring Al dengan nasi beserta lauk pauknya Ayla pun meletakkan kembali piring yang ada di tangannya kehadapan Al
" Silahkan di makan mas nasinya, maaf kalau masakannya kurang enak!" ucap Ayla
" Terima kasih, masakan mu selalu enak buat mas" sahut Al dengan tersenyum dan Ayla pun balas tersenyum
Sikap keduanya seolah sedang tidak terjadi apa-apa, tapi dibalik senyuman itu justru ada goresan luka yang masih basah
Setelah selesai dengan kegiatan makan malamnya, Ayla kini sudah berada di atas tempat tidur dengan posisi memunggungi Al yang sedang sibuk dengan layar laptopnya.
Jam sudah menunjukkan jam 10 malam Ayla yang sudah sempat terlelap terbangun karena rasa ingin buang air kecil yang sudah tidak tertahan namun saat hendak ke kamar mandi tiba-tiba ponsel Al yang berada di atas nakas berdering dan Ayla melihat sekilas nama yang tertera di layar ponsel tersebut.
Ayla mengepalkan tangannya kuat lalu berusaha untuk kembali bersikap biasa saja walaupun sebenarnya hatinya merasa sangat terluka
" Mas ponselnya berdering!" ucap Ayla setelah beranjak dari duduknya dan hendak pergi ke kamar mandi dan melihat sang suami yang masih setia duduk di sofa sambil memangku laptopnya
Al menoleh " Telpon dari siapa sayang?" tanya Al yang berusaha untuk bersikap biasa saja
" Enggak ada namanya mas tapi kalau dilihat dari fotonya sih kayaknya yang tadi makan siang bersama kamu mas!" sahut Ayla nampak santai lalu melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
" Angkat aja mas mungkin penting, sampai menelpon mas di jam segini!" ucap Ayla sebelum menghilang dari balik pintu kamar mandi
Deg
Al mengusap wajahnya kasar belum selesai masalah yang terjadi tadi siang kini sudah mulai masalah baru
Al beranjak dari duduknya lalu mengambil ponsel miliknya yang berada di atas nakas
Setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya Al mendengus kesal untuk apa wanita itu menghubunginya, Al mengabaikan dering ponselnya yang terus saja memekikkan telinga
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Ayla berjalan mendekati ranjang lalu merebahkan tubuhnya tanpa menghiraukan Al yang kini sudah duduk di tepi kasur
Ponsel Al kembali berdering, Al tidak sedikitpun berminat untuk mengangkatnya.
" Kenapa enggak diangkat mas telponnya, itu sedari tadi berdering?" tanya Ayla
Al menghela napasnya panjang, lalu mematikan ponselnya
" Tidak penting buat apa diangkat" jawab Al yang beranjak dari duduknya lalu pergi ke dalam kamar mandi
Saat keluar dari dalam kamar mandi Al terkejut karena tidak melihat keberadaan sang isteri
Al keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Ayla namun baru hendak membuka gagang pintu berbarengan dengan pintu yang sudah lebih dulu dibuka dari luar
" Ya ampun sayang kamu dari mana ?" tanya Al cemas
" Dari dapur, airnya habis" Ayla menunjukkan teko yang dibawanya
" Kenapa enggak nunggu mas aja, biar mas yang ambil airnya" Ayla melenggang masuk tanpa menggubris ucapan Al dan meletakkan teko diatas nakas.
Ayla merangkak naik ke atas tempat tidur lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
" Sayang mau sampai kapan kamu mendiamkan mas seperti ini!" Al Sudah merasa tidak tahan dengan sikap Ayla
"Sudah malam mas sebaiknya tidur, besok pagi mas kan ada meeting dengan klien mas!" seru Ayla
" Tapi kita perlu bicara sayang, mas enggak mau kesalahpahaman ini terus berlanjut" pinta Al
" Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi mas" ucap Ayla
" Ada, kamu dari tadi bersikap dingin sama mas, karena kamu marahkan sama mas?"
" Aku tidak marah sama kamu mas, apa yang terjadi tadi siang adalah sebuah pelajaran untuk aku kedepannya mas, kelak jika hatimu sudah berpaling dariku dan terpaut pada wanita lain setidaknya hatiku sudah siap dan tidak akan terkejut lagi seperti hari ini, aku tidak akan membuang sia-sia air mataku demi anak yang ada di dalam kandunganku jika kelak kau memilih untuk pergi meninggalkan ku. setidaknya aku memilikinya yang menjadi kekuatan ku"
" Bicara apa kamu? siapa yang akan pergi meninggalkan mu, omong kosong apalagi ini!" geram Al
" Ini semua hanya salah paham, sudah aku jelaskan berkali-kali, aku enggak sadar kalau ponselku ternyata terjatuh di mobil dan aku lupa kalau kita ada janji makan siang bersama karena ada meeting dadakan dengan bu Susan dari PT Angkasa" tutur Al kembali menjelaskan
" Sudahlah mas enggak usah di bahas lagi, sudah malam aku mau tidur, aku tahu pekerjaan mu lebih penting jadi sebaiknya kamu tidur sekarang agar besok pagi meeting dengan PT Angkasa mas tidak telat" ucap Ayla lalu menarik selimutnya tidur memunggungi Al
Al mengacak-acak rambutnya kasar dia lupa kalau besok pagi akan ada jadwal meeting dengan PT Angkasa yang tidak lain berarti dia akan bertemu kembali dengan Susan.
Pagi hari seperti biasa Ayla memasak untuk menyiapkan sarapan, setelah selesai ia kembali ke kamar untuk membersihkan diri lalu membangunkan Al
Setelah Al bangun dan masuk ke dalam kamar mandi Ayla berjalan ke walk in closet untuk menyiapkan baju Al
Al kini sudah rapih begitu juga dengan Ayla yang siap untuk berangkat ke kantor.
Saat Ayla hendak membuka pintu kamar langkahnya pun terhenti setelah mendengar suara bariton suaminya
" Aku tidak peduli dengan rapat hari ini, jika kamu masih bersikap seperti ini, aku lebih ikhlas kehilangan kontrak kerja sama dengan PT Angkasa dari pada aku harus kehilangan cinta dan perhatian isteriku" ucap Al
Ayla masih bergeming, tidak menoleh dan menunggu kalimat Al selanjutnya
" Aku minta maaf, aku sadar aku bukanlah suami yang baik dan belum bisa memberimu kebahagiaan, maaf jika apa yang aku lakukan sudah membuat mu kecewa dan sakit hati tapi tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, katakan apa yang kamu suka dan yang tidak kamu suka, aku janji aku tidak akan bertindak ceroboh lagi tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi, aku janji kalian yang akan selalu menjadi prioritas aku kedepannya" ucap Al menarik lengan Ayla agar menghadap ke arahnya
Mata keduanya kini saling bersirobok menyelami perasaan masing-masing, cukup lama mereka terdiam dengan tatapan mata yang saling mengunci.
" Aku sudah memaafkan mu mas, tapi untuk melupakannya rasanya sangat sulit setiap bayangan itu melintas kembali dalam ingatan ku rasanya sangat sakit" Ayla mengungkapkan isi hatinya
" Aku tahu apa yang aku lakukan adalah salah, mendiami suami adalah sebuah dosa tapi aku hanyalah manusia biasa mas yang masih sulit untuk menahan nafsu, nafsu amarah."
Al diam saja mendengarkan semua unek-unek isterinya yang sedari kemarin di tahannya
Luluh sudah pertahanan Ayla, air mata yang dari kemarin ia tahan akhirnya tumpah juga
" Aku benci pengkhianatan mas, jika mas merasa bosan dengan ku setidaknya bicaralah terus terang mas jangan membohongi ku!" ucap Ayla dengan air mata yang sudah membasahi pipinya
" Tidak sayang, aku mohon jangan bicara seperti itu lagi, mas tidak akan pernah mengkhianati mu sayang, mas janji hanya kamu isteri mas satu-satunya dan mas tidak akan pernah membohongi kamu" ucap Al lirih
" Jangan pernah berjanji padaku mas, aku takut kau tidak bisa menepatinya!" ucap Ayla
" Sayang mas harus bagaimana lagi agar kamu percaya sama mas, jangan jadikan kesalahpahaman ini merusak rumah tangga kita sayang, mas mohon demi calon anak kita jangan bersikap seperti ini, kasihan calon anak kita jika kita terus seperti ini, dia juga pasti akan merasakan apa yang kamu rasakan" ucap Al
Ayla tersenyum tipis" mas tidak usah khawatir, calon bayiku pasti akan baik-baik saja, karena ibunya dalam keadaan baik pula"
" Cukup Ayla Khairani Putri, mau sampai kapan kamu bertidak seperti ini, aku sudah menjelaskan semuanya dan meminta maaf atas semua kesalahanku tapi kau sungguh keras kepala, sudahlah terserah kamu saja jika kau ingin terus menerus berpikir aku mengkhianati mu dan memiliki hubungan dengan wanita itu terserah kamu saja, aku sudah capek!" Al akhirnya terbawa emosi dan pergi keluar kamar melewati Ayla begitu saja
Ayla tercenung mendengar kata-kata Al yang sungguh menusuk dan membuat tangisnya semakin terisak.
Sesampainya di lantai bawah Al ingin melewati sarapannya pagi namun saat melihat ke arah meja makan dan sudah tersaji beberapa masakan isterinya tertata rapih di atas meja Al mengurungkan niatnya dan melangkahkan kakinya menuju meja makan
Al menarik kursi lalu mendudukkan dirinya di sana.
" Loh Non Ayla nya mana den,kok enggak ikut sarapan bareng ?" tanya bi Nani karena hanya melihat Al yang sedang duduk sendirian tidak melihat keberadaan Ayla
Al menghela nafasnya panjang lalu menatap ke arah bi Nani " Masih bersiap-siap bi!" jawab Al berbohong
" Oh begitu den, ya sudah kalau begitu bibi pamit kebelakang lagi den!" ucapnya sopan
"Iya bi!"
Al menatap ke arah tangga namun sang isteri belum juga nampak batang hidungnya
Dengan berusaha menekan egonya Al pun beranjak duduknya lalu pergi kembali ke kamar menyusul sang isteri yang belum juga keluar
Ceklek
Deg
Al membulatkan matanya sempurna saat melihat apa yang ada di depan matanya
" Sa... sayang!"