
Sedangkan kembali ke Syahlaa lagi.
Mobil yang mereka tumpangi, akhirnya sampai juga di sebuah rumah yang cukup mewah, namun terkesan asri, karena masih banyak pepohonan yang mengelilingi rumah tersebut.
Rain saja sampai di buat sedikit terpukau, jika Emmy ternyata mempunyai rumah yang sangat menyejukkan mata dan udara.
" Rumah kamu terlihat seperti hutan ",, canda dari Rain kepada Emmy.
Emmy hanya tertawa saja menanggapi candaan dari Rain tadi.
Karena memang jika terlihat dari luar gerbang, rumah itu sedikit tertutup pohon-pohon rindang yang tumbuh di depan maupun samping-sampingnya.
" Tapi di sini enak Kak Rain, sejuk udaranya dan juga tenang, hanya bising suara kicauan burung saja yang terdengar, karena kendaraan jarang sekali berlalu lalang di kawasan sekitar sini ",, kata Syahlaa menyahuti perkataan dari Rain tadi.
" Sudah ayo masuk, kita mengobrol di dalam saja, dan biar semua barang-barangnya aku sama Casper saja yang membawanya ",, kata Emmy kepada Syahlaa dan yang lainnya.
Akhirnya semua orang langsung saja masuk ke dalam rumah tersebut, dan untuk sementara waktu Syahlaa, Alzam, Rain beserta Zarina akan tinggal di situ, sampai keadaan dari Zarina benar-benar pulih untuk bisa mereka ajak pulang kembali ke Indonesia.
Karena berhubung Emmy dan Casper lusa akan melangsungkan pesta pertunangan mereka, jadi saat ini mereka berdua tidak bisa mampir dulu untuk berbincang.
Selain waktu tempuh di perjalanan yang lumayan menyita waktu, mereka juga harus menyiapkan ini dan itu yang belum selesai mereka siapkan.
Jadi mau tidak mau, baik Alzam, Syahlaa dan juga Rain, harus berpisah sementara waktu dengan Emmy dan Casper.
Dan mereka semua terpaksa tidak bisa menghadiri pesta pertunangan dari sahabat mereka untuk menghindari kejaran dari Ezio.
Setelah berpamitan dengan mereka semua, akhirnya Emmy dan Casper pulang juga menggunakan satu mobil yang sama, menuju ke rumah milik Emmy yang satunya, yang dekat dengan kota.
Tinggallah Rain, bersama Alzam, Syahlaa dan juga Zarina saja di rumah itu.
Alzam dan Syahlaa langsung saja menidurkan Zarina ke dalam kamar utama yang tadi sudah Emmy tunjukkan.
" Mama tidur saja dulu bersama Zarina, jaga dia, supaya Mama tidak kelelahan, kasihan si adik ini yang masih di dalam perut ",, kata Alzam kepada Syahlaa.
" Baik Ayah, lalu Ayah mau ke mana?? ",, tanya Syahlaa kepada Alzam.
" Ke luar sebentar mau berbicara dengan Rain ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
" Nanti jika Ayah sudah selesai mengobrol dengan Kak Rain, cepat ke sini lagi ya Ayah, karena masih ada yang perlu kita bicarakan berdua ",, kata Syahlaa kepada Alzam.
" Iya Ayah tahu ",, jawab Alzam sambil mengusap pipinya Syahlaa.
Syahlaa hanya tersenyum super tipis saja kepada Alzam, setelah itu Alzam pun langsung saja segera keluar dari dalam kamar untuk mencari Rain.
Dan Syahlaa setelah kepergian dari Alzam, dia langsung bersih-bersih badannya untuk ikut tidur bersama Zarina.
Alzam terus berjalan menyusuri setiap sudut rumah milik Emmy yang cukup luas itu, namun Alzam masih belum menemukan keberadaannya Rain.
Akan tetapi, ketika Alzam berjalan ke arah balkon ruang keluarga yang ada di lantai dua rumah Emmy, Alzam melihat Rain sedang duduk termenung sendirian sambil memandangi pemandangan yang ada di sekitar situ.
" Rain ",, panggil Alzam kepada Rain.
Rain sedikit terkejut, ketika dia sedang asik melamunkan Faiha, tiba-tiba ada yang memanggil namanya, dan orang itu adalah Alzam.
" Eh kamu Afnan, ada apa?? ",, tanya Rain kepada Alzam.
" Bagaimana dengan rencana kita untuk mengembalikan semua aset milik Tuan Ezio,?? apakah kamu sudah setuju untuk mengembalikan itu semua Rain?? ",, tanya Alzam kepada Rain sambil langsung duduk di kursi sebelah Rain.
" Entahlah Afnan, aku belum memikirkan akan hal itu ",, jawab Rain kepada Alzam.
" Lalu, daritadi kamu duduk termenung di sini, apa yang sedang kamu pikirkan,?? aku kira kamu sedang memikirkan jalan ke luar untuk permasalahan kita ",, kata Alzam kepada Rain.
" Tidak, aku sedang memikirkan hal yang lainnya Afnan ",, jawab Rain sambil mengumpulkan semua keberaniannya.
" Jika boleh tahu, apa yang sedang kamu pikirkan, siapa tahu aku bisa membantu kamu?? ",, tanya Alzam kepada Rain.
" Emm ..... ",, kata Rain sedikit bimbang.
Sedang Alzam masih setia menunggu kelanjutan dari perkataannya Rain.
" Afnan, jika aku akan jujur kepadamu tentang suatu hal, apakah kamu akan marah kepadaku?? ",, tanya Rain kepada Alzam.
" Memangnya kamu akan jujur apa kepadaku Rain, hingga membuatku menjadi marah kepadamu?? ",, tanya balik Alzam kepada Rain.
" Mungkin ini akan sangat mengejutkanmu Afnan, tapi jujur cuma kamu saja saat ini yang bisa membantuku ",, kata Rain kepada Alzam.
" Kalau begitu, katakanlah saja Rain, jika itu bisa membuatmu lega dan siapa tahu aku memang benar-benar bisa membantumu ",, kata Alzam kepada Rain.
" Baiklah, akan aku katakan jujur kepadamu Afnan ",, kata Rain kepada Alzam.
Alzam langsung mengangguk pelan kepada Rain, masih sambil duduk di samping Rain, Alzam pun masih setia menunggu kelanjutan perkataan dari Rain.
" Aku mencintai Faiha, adik perempuan kamu ",, kata Rain kepada Alzam.
Benar apa kata Rain tadi, jika dirinya akan benar-benar merasa sangat terkejut sekali, bahkan mata Alzam sampai melotot cukup lebar, dan mulut dia sampai di buat speechles oleh pengakuan jujur dari Rain tadi.
" Kamu ........... ?? ",, kata Alzam sampai tidak bisa melanjutkan perkataannya.
" Iya Afnan, aku benar-benar sangat mencintai Faiha, rasa cintaku ini sudah cukup lama aku rasakan kepadanya, dan sudah bertahun-tahun lamanya aku memendam perasaan ini untuknya ",, kata Rain sambil berjalan ke arah pembatas balkon.
" Tapi usia kalian terpaut sangat jauh sekali Rain, bahkan kamu saja lebih tua dariku?? ",, kata Alzam kepada Rain.
" Aku tahu, tapi apakah aku salah jika aku jatuh cinta kepada Faiha,?? dan jika aku bisa memilih, aku akan memilih wanita yang seumuran denganku ",, kata Rain sambil berbalik badan menghadap Alzam.
Sebelum menjawab perkataan dari Rain, Alzam pun mencoba berdiri dari duduknya untuk mendekati Rain.
" Kamu tidak bersalah Rain, cinta memang datang dengan tiba-tiba, kepada orang yang tidak pernah kita duga ",, kata Alzam kepada Rain.
" Hanya saja untuk masalah kamu ini, pasti Abi tidak akan setuju, karena dia ingin mempunyai menantu yang seakidah dengannya ",, kata Alzam lagi kepada Rain.
" Lantas apa yang harus aku lakukan Afnan, aku sungguh sangat mencintai Faiha, bahkan aku juga sudah melamarnya ",, kata Rain kepada Alzam.
" Apa,!! sudah melamarnya?? ",, kata Alzam benar-benar sangat terkejut sekali.
" Iya, aku memang sudah melamarnya kemarin, dan Faiha juga menerima lamaran dariku ",, jawab Rain kepada Alzam.
Alzam dibuat olahraga jantung mendengar pengakuan jujur dari Rain, terlebih lagi Rain juga sudah melamar sang adik tanpa sepengetahuannya.
" Jadi, tolong bantu aku Afnan, aku sangat mencintai Faiha ",, kata Rain lagi kepada Alzam, yang daritadi hanya diam saja karena masih merasa sangat terkejut.
" Aku tidak tahu mau berbicara apa Rain, karena pengakuan darimu sungguh benar-benar mengejutkanku ",, kata Alzam kepada Rain.
" Tolong aku Afnan, aku tersiksa dengan perasaan ini selama bertahun-tahun ",, kata Rain lagi dengan wajah yang terlihat sangat bersedih sekali.
Sebelum menjawab perkataan dari Rain, Alzam mencoba mengambil nafasnya cukup dalam, untuk meredakan rasa terkejut di dalam dadanya.
Setelah cukup tenang perasaannya, Alzam pun mulai menjawab perkataannya Rain.
" Baiklah, aku akan mencoba membantumu, tapi apakah kamu akan setuju dengan saran dariku?? ",, kata Alzam kepada Rain.
" Apa kamu yakin dan siap Rain untuk berpindah keyakinan sepertiku?? ",, tanya Alzam kepada Rain.
" Karena aku tidak mau, jika kamu menjadi mualaf hanya karena ingin menikahi adikku, bukan karena benar-benar panggilan dari hatimu ",, kata Alzam lagi kepada Rain.
" Sebab bagaimanapun juga, aku sebagai seorang Kakak, pasti akan menginginkan adik perempuanku mendapatkan imam yang baik dan bisa membimbingnya menuju ke surganya Allah ",, lanjut lagi perkataan dari Alzam kepada Rain.
" Aku tahu Afnan, aku sudah memikirkannya sejak dulu, dan aku sudah mencoba memantapkan hatiku cukup lama untuk berpindah agama yang sama denganmu ",, kata Rain kepada Alzam.
" Lalu kapan kamu ingin mulai masuk islam sepertiku Rain?? ",, tanya Alzam kepada Rain.
" Jika kamu bisa membimbingku untuk masuk Islam, aku mau saat ini juga ",, jawab Rain dengan sangat mantap sekali kepada Alzam.
Alzam cukup tercengang mendengar jawaban dari Rain, dan wajah Rain pun terlihat sangat yakin serta mantap sekali dalam menjawab pertanyaannya tadi.
" Tidak semudah itu aku mengIslamkanmu Rain, ada syarat tertentu yang harus kamu kerjakan sebelum kamu mengucapkan dua kalimat syahadat ",, kata Alzam kepada Rain.
" Apa itu syaratnya Alzam?? ",, tanya Rain kepada Alzam.
" Kamu harus wajib di khitan terlebih dahulu, karena khitan hukumnya wajib untuk seorang laki-laki yang memeluk agama Islam, sedangkan yang perempuan hukumnya makruh ",, jawab Alzam kepada Rain.
" Khitan itu apa Afnan?? ",, tanya Rain kepada Alzam.
Alzam reflek langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ketika di tanya seperti itu oleh Rain.
Walau Alzam merasa risih, mau tidak mau Alzam memang harus menjelaskannya kepada Rain.
Alzam lalu menjelaskan apa itu khitan kepada Rain dan apa hukumnya di dalam agama islam.
Dan ketika Rain sudah mengetahui apa itu khitan, dia sedikit ngeri-ngeri sedap membayangkan aset berharganya di potong seperti itu.
" Bagaimana Rain, apakah kamu sudah siap di khitan?? ",, tanya Alzam kepada Rain.
" Iya baiklah aku siap ",, jawab mantap dari Rain, padahal di dalam hatinya Rain sedikit merasa takut.
" Tapi aku tidak tahu, di sini tempat khitan yang bagus ada di mana, karena ini bukan di Indonesia, melainkan di Prancis ",, kata Alzam lagi kepada Rain.
" Emm, aku sepertinya mempunyai salah seorang anak buah yang beragama islam, sebab aku pernah tidak sengaja melihat dia melaksanakan ibadah yang sering kamu kerjakan bersama Syahlaa ",, kata Rain kepada Alzam.
" Iya sudah, tanya kepada dia saja, suruh dia untuk datang ke sini ",, kata Alzam kepada Rain.
Rain langsung mengangguk kepada Alzam, dan Rain lalu mencoba menghubungi anak buah yang dia maksud itu untuk segera menemuinya di rumah Emmy.
Sambil menunggu anak buah itu datang, Alzam meminta ijin kepada Rain untuk beristirahat dulu di dalam kamar bersama Syahlaa.
Dan Alzam meminta ijin juga kepada Rain, untuk menceritakan semuanya kepada Syahlaa.
Rain pun juga langsung mengangguk dan menyetujui semua permintaan dari Alzam tadi.
Ketika Alzam sudah berada di dalam kamarnya, dia langsung melihat Syahlaa sedang menggendong Zarina, padahal posisi Syahlaa sedang hamil saat ini.
Tentu saja Alzam langsung segera mendekati Syahlaa untuk mengambil alih Zarina.
" Mama kenapa tidak memanggil Ayah, jika Zarina sudah bangun?? ",, kata Alzam sambil menggendong Zarina.
" Ayah, jangan pelgi, Zalina takut ",, kata Zarina kepada Alzam.
" Ayah ada di sini ko sayang, tadi Ayah sedang di luar sebentar ",, jawab Alzam kepada Zarina.
" Suusstt, tenanglah sayang ",, kata Alzam sambil menimang Zarina.
Zarina langsung saja menyandarkan kepalanya di pundak Alzam, sambil memeluknya dengan erat.
" Tadi Zarina menangis Ayah, mencari Ayah, hanya saja Mama malas ke luar dan rumah ini cukup besar untuk Mama mencari Ayah ",, kata Syahlaa kepada Alzam.
" Iya, tidak apa-apa, sekarang Ayah sudah ada di sini ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
" Dan ini ko badan Zarina hangat Ma ",, kata Alzam kepada Syahlaa.
" Masa sih Ayah, tadi tidak ko ",, kata Syahlaa sambil memegang tubuh Zarina.
" Iya, ini badannya hangat, Mama sepertinya masih membawa obat penurun panasnya di dalam tas ",, kata Syahlaa lagi kepada Alzam.
" Iya sudah, ambillah dulu sana Ma ",, kata Alzam kepada Syahlaa.
Syahlaa langsung mengangguk kepada Alzam, dan setelahnya dia berlalu pergi untuk mengambil obat penurun panas yang ada di dalam tasnya.
" Oh ya Ma, ada yang ingin Ayah ceritakan kepada Mama, dan ini soal Rain ",, kata Alzam kepada Syahlaa yang sedang mengambil obat.
" Kak Rain,?? ada apa dengan Kak Rain Ayah?? ",, tanya Syahlaa kepada Alzam.
Dan ketika obatnya sudah Syahlaa ambil, dia lalu mengambil air minum untuk dia minumkan kepada Zarina.
Selesai meminumkan obat itu kepada Zarina, Syahlaa beserta Alzam melanjutkan lagi perbincangan mereka berdua.
" Sebelum membahas Kak Rain, Mama ingin bertanya dulu kepada Ayah, soal di rumah sakit tadi ",, kata Syahlaa kepada Alzam.
" Tanyakanlah apa yang ingin Mama ketahui ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
" Apa benar jika Ayah sama Kak Rain sudah mengambil alih semua aset dari Keluarga Dwayn?? ",, tanya Syahlaa kepada Alzam.
" Iya Mama, semua aset mereka sudah berpindah tangan menjadi atas nama Mama, bahkan rumah mewah dan mansion milik Tuan Fransisco sudah menjadi milik Mama ",, jawab jujur Alzam kepada Syahlaa.
Syahlaa tentu saja merasa sangat terkejut sekali mendengar jawaban jujur dari Alzam.
" Kenapa Ayah dan Kak Rain melakukan semua ini Ayah, Mama tidak setuju, ini sama saja kita merampok dari mereka, dan ini tentu saja tidak akan halal jika masuk ke dalam perut kita ",, kata Syahlaa kepada Alzam.
" Mama menyayangkan sekali, kenapa kalian berdua tidak berbicara dulu kepada Mama ",, lanjut lagi perkataan Syahlaa kepada Alzam.
" Ini semua karena Rain ingin membalaskan rasa sakit yang sudah mereka berikan kepada Mama ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
" Rain begitu marah dengan sikap mereka Ma, itulah mengapa Rain merubah semua aset mereka menjadi atas nama Mama ",, kata Alzam lagi kepada Syahlaa.
" Tapi Mama tidak setuju Ayah, cepat kembalikan semua aset milik mereka, karena Mama tidak mau makan dengan uang dari hasil merampas ",, kata Syahlaa kepada Alzam.
" Ayah sudah akan mencoba mengembalikannya Mama, tapi Rain belum setuju akan hal itu ",, kata Alzam kepada Syahlaa.
" Biar nanti Mama saja yang akan berbicara kepada Kak Rain, karena sampai kapanpun Mama tidak akan mau mengambil yang bukan hak Mama ",, jawab Syahlaa kepada Alzam.
" Iya, bicaralah Mama, dan semoga dengan Mama berbicara dengan Rain, dia bisa mengerti akan maksud dari tujuan kita ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
Syahlaa hanya mengangguk saja kepada Alzam, dan Syahlaa lalu memilih untuk mandi sebentar di dalam kamar mandi, meninggalkan Alzam yang masih menenangkan Zarina.
Karena hari ini, Zarina lagi mode manja, sebab dia inginnya di gendong terus oleh Alzam.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...