DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Flashback


Flashback on


Saat berada di ruangan ICU ayah Hendra dibuat terkejut saat melihat para dokter yang tengah menangani Hendrik dan Ayah Hendra dibuat tercengang saat melihat Hendrik sudah membuka matanya dan tanpa dia sadari pria paruh baya itu malah menangis meraung-raung saking terharunya dan tidak bisa berkata apa-apa, apalagi saat beberapa alat medis yang melekat pada tubuh putranya satu persatu dilepas


" Dokter bagaimana keadaan putra saya?" tanya Ayah Hendra


" Alhamdulillah, sungguh ini suatu keajaiban pak pak berkat doa dari orang-orang yang menyayanginya kondisi pasien kini sudah berkembang sangat pesat, pasien sudah sadar tanpa ada gangguan sedikit pun bahkan sudah bisa bernafas normal tanpa harus menggunakan alat bantu" tutur dokter tersebut menjelaskan bagaimana keadaan Hendrik yang memang sangat diluar dugaan sang dokter


" Syukurlah kalau begitu dokter, Alhamdulillah saya sangat senang mendengarnya"


" Jika bapak ingin melihat keadaannya silahkan, saya tinggal dulu ya!" ucap sang dokter


" Iya dokter, terima kasih banyak"


" Sama-sama pak, ini memang sudah tugas saya"


Ayah Hendra berjalan menghampiri brankar Hendrik dan tangis haru pun meluncur begitu saja apalagi saat melihat putranya yang tau-tau sudah duduk di atas tempat tidur dengan keadaan baik-baik saja


" Hendrik, Alhamdulillah kamu sudah sadar nak!" ucap ayah Hendra merasa penuh syukur karena putranya yang tadinya dalam keadaan tidak berdaya bahkan dinyatakan masih kritis kini sudah terlihat segar dan jauh diluar dugaannya


Ayah Hendra menangis seraya memeluk sang putra


" Alhamdulillah ayah, maaf karena sudah membuat ayah dan ibu khawatir" ucap Hendrik merasa bersalah saat ayah Hendra sudah mengurai pelukannya


" Tidak apa-apa nak, itu bukan salah kamu, kita tidak pernah ada yang menginginkan hal ini terjadi namun jika Allah sudah berkehendak kita bisa apa?" tutur Ayah Hendra


" Emmmm... ayah!"


" Ada apa? apa kamu menginginkan sesuatu? apa mau minum?"


Hendrik menggelengkan kepalanya pelan


" Ayah apa Sasa tahu keadaan ku saat ini?" tanya Hendrik


Ayah Rama menghela napasnya panjang lalu mengangguk


" Lalu dimana dia ayah?" tanya Hendrik antusias


" Di depan bersama bunda, baru saja Sasa keluar dari ruangan ini " jawab ayah Hendra


" Benarkah? apa boleh aku bertemu dengannya ayah !" ucap Hendrik berbinar


Ayah Hendra mengangguk " Sebentar, akan ayah panggilkan" ucap ayah Hendra


Ceklek


Pintu ruangan ICU terbuka, Hendra berjalan menghampiri bunda Tia yang berada di dalam pelukan Ayla, matanya beredar mencari gadis yang diinginkan putranya itu namun ia tidak melihatnya


" Bunda!"


Bunda Tia terkejut saat melihat ayah Hendra sudah berdiri di hadapannya karena fokus pada bunda Tia, Ayla pun yang berusaha menenangkannya tidak menyadari kedatangan Ayah Hendra sedangkan Al sedang pergi mencari minum untuk Ayla dan bunda Tia


" Ayah!" Bunda Tia langsung berdiri dan memeluk suaminya sambil menangis


" Bunda sudah jangan menangis lagi" ucap Ayah Hendra menenangkan isterinya yang menangis dalam pelukannya


" Ayah apa Hendrik sudah_?" suara bunda Tia tercekat tidak bisa melanjutkan kata-katanya


" Iya bunda, Hendrik sudah_" Belum selesai dengan kalimatnya bunda Tia sudah Meraung-raung di pelukan suaminya membuat ayah Hendra menghela nafas kasar


Ayla yang melihat bunda Tia meraung-raung pun ikut menangis dia seketika memikirkan keadaan Sasa sahabatnya yang bisa syok mendengar kabar tentang Hendrik yang dipikirkannya sudah pergi untuk selama-lamanya


" Bunda, udah ih jangan menangis lagi!" ucap ayah Hendra namun tidak di hiraukan oleh bunda Tia


Ayah Hendra yang sedari tadi tidak melihat keberadaan Sasa pun akhirnya memilih bertanya pada Ayla


" Nak Ayla!" panggil ayah Hendra


" Iya om" jawab Ayla seraya menghapus air matanya


" Sasa di mana? kenapa dia tidak ada disini?" tanya Hendra


" Sasa_"


" Sasa pasti tidak akan kuat mendengar kabar ini Yah, gadis itu begitu rapuh baru mendengar suara raungan ayah saja dia sudah kembali pingsan!" ucap bunda Tia seraya mengurai pelukannya pada sang suami


" Apa Sasa pingsan?" ayah Hendra terkejut dan bunda Tia mengangguk


" Jadi dia pingsan setelah mendengar suara tangisan ayah?" bunda Tia kembali mengangguk


" Duh ayah jadi malu dengan calon mantu ayah" ucap ayah Hendra yang seketika membuat bunda Tia dan Ayla tercengang


" Maksud ayah calon mantu? jangan ngada-ngada deh yah!" kesal bunda Tia


" Loh kok ngada-ngada sih bun, ya memang Tia itu calon mantu kita kan dan sekarang Hendrik mencari dia ingin bertemu Sasa" jawab ayah Hendra yang membuat bunda Tia dan Ayla semakin dibuat terkejut


" Maksud ayah Hendrik ingin bertemu dengan Sasa itu berarti Hendrik_?"


" Iya, Hendrik putra kita sudah sadar bun, dan dia ingin bertemu dengan Sasa"


" Alhamdulillah ya Allah" bunda Tia pun langsung memberingsut ke lantai untuk melakukan sujud syukur


Bunda Tia pun sudah melihat langsung kalau putranya benar-benar sudah sadar, hatinya sungguh bahagia tapi sayangnya rasa bahagia itu tidak berlangsung lama setelah mendapat kabar kalau gadis yang ia harapkan kelak bisa menjadi isteri dari putranya kini tengah dalam keadaan koma


Hendrik yang kondisinya memang belum stabil sepenuhnya masih belum bisa menemui sang pujaan hati.


Hampir setiap hari bunda Tia memberi motivasi kepada Hendrik untuk semangat sembuh agar bisa melihat keadaan Sasa


Selama Sasa di rawat bunda Tia pun selalu menyempatkan diri untuk datang melihat keadaan Sasa, wanita paruh baya itu sangat sedih melihat keadaan Sasa dia berharap gadis malang itu segera sadar dan tau kenyataan kalau Hendrik masih hidup


Hendrik sangat bersemangat untuk sembuh karena dian ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya


Hingga dua hari berlalu dan mengetahui Sasa yang masih belum sadarkan diri membuat pria itu akhirnya memaksa untuk melihat keadaannya


Hatinya tercubit melihat keadaan Sasa yang sungguh sangat memperihatinkan


Tanpa ia sadari air matanya menetes mengenai mata Sasa dan seketika mata itupun terbuka sempurna


Sasa terkejut saat melihat sosok laki-laki yang ada di hadapannya ia pun sampai berpikir jika dirinya sebenarnya sudah mati


Sasa hanya diam saja, sampai akhirnya Hendrik pergi karena tiba-tiba saja ia merasakan sakit kepala yang teramat sangat


Hendrik yang tidak ingin melihat Sasa melihat keadaannya, langsung pergi begitu saja dan saat berada di depan ruangan dia bertemu dengan Bu Rahma dan Mina


" Nak Hendrik kenapa?" tanya bu Rahma yang terkejut melihat keberadaan Hendrik di ruangan sang putri apalagi melihat Hendrik yang nampak dalam keadaan tidak baik-baik saja


" Bang, Abang enggak apa-apa?" tanya Mina


Hendrik tiba-tiba saja terhuyung dan hampir saja terjatuh jika tidak dengan cepat dua wanita yang ada di hadapannya itu memeganginya


" Abang seharusnya istirahat aja dulu, ayok aku antar ke kamar abang" Ucap Mina membantu Hendrik kembali ke kamarnya


" Tante, Mina antar bang Hendrik dulu ya!" pamit Mina


" Iya, hati-hati nak!"


" Iya tante"


" Nak Hendrik sebaiknya nak Hendrik istirahat saja dulu sampai benar-benar pulih"


" Iya, Bu!" sahut Hendrik pelan


" Tuh dengerin bang apa kata calon ibu mertua kalau Abang udah sembuh betul baru temui Sasa dan buat kejutan untuknya bang saat ia sadar nanti!" usul Mina sambil memapah Hendrik


" Kejutan?"


Mina mengangguk " Iya, lamar Sasa lagi bang dan aku yakin kali ini dia tidak akan menolak" sahut Mina


Rasa sakit kepala yang Hendrik rasakan tiba-tiba berangsur menghilang


" Kalau begitu tolong bantu abang, kamu siapkan ya acaranya untuk Abang melamarnya kembali"


" Siap bang itu sih gampang"


" Yaudah sekarang kamu tolong ambilkan cincin yang sudah Abang pesan di toko emas yang ada di mall Lavender" ucap Hendrik


" Sekarang?"


" Iya, memangnya kapan lagi, udah cepat sana pergi"


" Lalu abang?"


" Tenang aja Abang bisa kok ke kamar sendiri"


" Tapi uangnya?" tanya Mina cengar-cengir


" Itu sudah beres tinggal ambil aja, bilang aja atas nama Hendrik Sasa, nanti Abang beritahu via telpon"


" Oke kalau gitu, aku pergi sekarang nih?"


" Iya udah sana pergi!"


" Oke-oke aku pergi" ucap Mina yang setelah itu langsung bergegas pergi


Sementara Bu Rahma yang hendak masuk ke dalam ruangan Sasa melihat Andi yang berjalan cepat menghampirinya


" Loh tante kok sendiri Mina nya kemana?" tanya Andi saat tidak melihat Mina bersama ibunya Sasa karena tadi mereka pergi bersama-sama ke kantin untuk membeli makan sementara Sasa Andi yang menjaga


" Mina tadi mengantar Hendrik ke ruangannya karena tadi nak Hendrik hampir aja terjatuh"


" Hendrik habis dari sini tante?"


" Iya, tapi sepertinya kondisinya sedang tidak baik-baik saja "


" Kenapa Hendrik tante?"


Sepertinya tadi Hendrik mengalami sakit di kepalanya" sahut Bu Rahma


" Nak Andi sendiri dari mana?" tanya bu Rahma karena tadi dia menitipkan Sasa padanya selama ia pergi makan di kantin bersama Mina


" Oh itu tadi suster menyuruh nebus obat" Andi pun memperlihatkan kantong kecil yang ada di tangannya


" Oh gitu, terima kasih ya na Andi"


" Sama-sama tante"


" Oiya, berapa nak Andi?"


" Berapa apanya Tante?"


" Harga obatnya biar tante ganti uangnya"


" Eh? enggak usah tante "


" Tapi kan nak Andi_!"


" Tidak usah sungkan tante, kami sudah menganggap Sasa itu sudah seperti keluarga sendiri jadi segini sih tidak masalah Tante' tolak Andi dengan halus


Keduanya pun masuk ke dalam ruangan tersebut, mereka masih belum menyadari kalau ternyata Sasa sudah sadar hanya saja tatapannya kosong dan masih bergeming


" Nak Andi tante sholat isya dulu ya, maaf nih jadi merepotkan nak Andi lagi" ucap Bu Rahma


" Iya tante silahkan, tidak apa-apa!" ucap Andi lalu duduk di kursi yang ada di sebelah Sasa dan pada saat matanya mengarah pada Sasa betapa terkejutnya Andi saat milhat Sasa yang sudah membuka matanya


" Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga Sa"


...Flashback off...