
Sedangkan di sisi lain, lebih tepatnya di Yayasan milik Abi Aasim.
Rain yang sudah menghubungi Casper tadi, dia langsung saja melangkahkan kakinya untuk ke luar dari dalam kamar, untuk menikmati udara segar pagi hari di Pondok Pesantren milik Abi Aasim.
Ketika Rain baru saja sampai di ruang tamu, dia melihat Alzam sedang menikmati teh hangatnya di temani oleh Zarina yang sedang bermain sendiri.
Alzam yang melihat kedatangan dari Rain dari dalam rumah, dia pun langsung saja menyapanya.
" Apakah kamu baru saja bangun tidur lagi Rain?? ",, tanya Alzam kepada Rain.
Sambil duduk di sofa seberang Alzam, Rain pun menjawab.
" Tidak, tadi aku baru saja menghubungi Casper, bercerita tentang lamaranku kepada Faiha ",, jawab Rain kepada Alzam.
" Pasti dia marah-marah kepadamu ",, canda Alzam kepada Rain.
" Iya, kamu benar, dia memang marah-marah kepadaku ",, jawab Rain sambil tertawa.
Alzam pun jadi ikut-ikutan tertawa juga, mendengar Rain sedang tertawa.
" Paman Rain, Paman Rain ayo ke lual ",, kata Zarina tiba-tiba kepada Rain.
" Ke luar ke mana sayang?? ",, tanya Rain kepada Zarina.
" Beli bubul ",, jawab Zarina kepada Rain.
" Bubul apa sayang?? ",, tanya Rain dengan sangat kebingungan sekali.
Alzam yang melihat Rain merasa kebingungan, dia pun langsung saja ikut berbicara.
" Sama Ayah saja yuk Zarina, Paman Rain kan tidak tahu di mana penjual buburnya ",, kata Alzam kepada Zarina.
" Naik motol ya Ayah, Zalina mau naik motol ",, jawab Zarina kepada Alzam.
" Ok siap Princess, kita pinjam motornya Tante Faiha dulu yuk ",, kata Alzam kepada Zarina.
Zarina langsung mengangguk semangat kepada Alzam.
" Bolehkah Paman ikut Zarina?? ",, tanya Rain kepada Zarina.
" Boleh Ayah?? ",, tanya Zarina kepada Alzam.
" Tentu saja boleh sayang ",, jawab Alzam kepada Zarina.
" Boleh Paman, nanti Paman pegangan yang kuat ya bial tidak jatuh ",, kata Zarina kepada Rain.
" Siap Zarina ",, jawab Rain sambil menunjukkan ibu jarinya.
Sedangkan Alzam langsung saja tertawa, mendengar perkataan dari Zarina kepada Rain.
Sebelum berangkat pergi, Alzam ijin terlebih dahulu kepada Syahlaa, yang sedang memasak di dalam dapur.
Setelah mendapatkan ijin dari Syahlaa, Alzam, Zarina dan juga Rain, langsung berlalu ke luar dari dalam pendopo ke dua untuk menuju ke pendopo utama.
Sesampainya di pendopo depan, Alzam langsung saja mencari Faiha.
Umi Anum yang tidak sengaja berpas-pasan dengan Alzam, dia pun langsung saja bertanya.
" Afnan, kamu sedang mencari siapa?? ",, tanya Umi Anum yang baru saja ke luar dari dalam kamar.
Sedangkan Rain bersama Zarina, mereka menunggu Alzam dengan duduk santai di teras depan.
" Sedang mencari Faiha, Umi, di mana dia, Afnan ingin meminjam motornya ",, jawab Alzam kepada Umi Anum.
" Fai ada di dapur, memangnya kamu mau pergi ke mana?? ",, tanya Umi Anum kepada Alzam.
" Mau beli bubur untuk cucu Umi, dia minta di belikan bubur ",, jawab Alzam kepada Umi Anum.
" Lalu Zarinanya ada di mana?? ",, tanya Umi Anum lagi kepada Alzam.
" Ada di depan tuh sama Rain ",, jawab Alzam kepada Umi Anum.
" Kalau begitu Afnan mencari Fai dulu ya Umi ",, kata Alzam kepada Umi Anum.
" Iya ",, jawab Umi Anum sambil mengangguk.
Alzam langsung berlalu masuk ke dalam dapur, sedangkan Umi Anum, berlalu ke luar untuk menemui Zarina dan Rain.
Alzam yang sudah melihat Faiha, dia langsung bertanya soal motor, dan Faiha pun langsung menunjukkan di manakah letak kunci motornya berada.
Kunci motor yang sudah berada di genggamannya, Alzam langsung saja berlalu ke luar lagi, untuk menemui Rain dan Zarina, yang sedang berbincang dengan Umi Anum.
" Ayo Zarina, Ayah sudah dapat kunci motornya, sebentar Ayah ke luarkan dulu motornya, dari dalam garasi ",, kata Alzam kepada Zarina.
Alzam langsung berlalu ke dalam garasi untuk mengeluarkan motor milik Faiha.
Dan ketika Alzam sudah menaiki motor tersebut, Alzam langsung menyuruh Zarina serta Rain untuk segera naik.
" Iya Umi ",, jawab Alzam kepada Umi Anum.
" Daaa Zarina, nanti Nenek belikan juga ya ",, kata Umi Anum menggoda Zarina.
Zarina kecil hanya mengangguk saja menanggapi Umi Anum.
Setelah itu, Alzam pun mengendarai motor milik Faiha, untuk ke luar dari dalam Yayasan, menuju ke penjual bubur yang ada di daerah mereka.
Rain yang pertama kali naik motor, dia merasa sangat takut sekali, karena seumur-umur baru kali ini dia menaiki kendaraan roda dua.
Bahkan Rain sedikit berteriak, ketika motor sedang kurang stabil karena melewati jalanan yang rusak.
Alzam sampai tertawa geli mendengar Rain yang terlihat gagah dan sangar, malah merasa takut ketika sedang naik motor.
" Afnan, pelan-pelan jalannya!! ",, kata Rain kepada Alzam menggunakan Bahasa Inggris.
Jadi, jika ada orang yang mendengar, mereka tidak akan paham, jika Rain sedang merasa ketakutan ketika naik motor.
Untung saja Zarina sedang duduk di depan, jika di belakang, mungkin dia akan terjatuh, karena Rain sedang sibuk untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Setelah beberapa menit berkendara menggunakan sepeda motor, akhirnya Alzam dan Rain sampai juga di tempat orang yang menjual bubur.
Rain yang sudah turun dari atas motor, dia langsung saja menepi sebentar di tempat yang sedikit sepi untuk memuntahkan isi perutnya.
Alzam yang melihat Rain muntah-muntah, bukannya di tolongin, dia malah langsung saja tertawa terbahak-bahak.
Sebab menurut Alzam, Rain sangat lucu sekali, hanya karena naik sepeda motor, dia sampai muntah-muntah.
" Mas, temannya muntah-muntah itu ",, kata salah satu penjual yang ada di situ.
" Iya Ibu, dia belum pernah naik motor, ini pertama kalinya dia naik motor, makanya muntah-muntah ",, jawab sopan Alzam kepada penjual tersebut.
" Oh, pantas saja, dia bule toh ",, kata penjual itu kepada Alzam.
" Iya Ibu, dia bule tulen ",, jawab Alzam kepada Zarina.
Alzam yang melihat wajah putih Rain, langsung berubah warna menjadi merah, karena baru saja muntah-muntah tadi.
Alzam yang merasa kasihan, dia langsung saja segera berjalan mendekati Rain, sambil membelikan teh hangat untuknya.
" Ini minumlah dulu teh hangatnya ",, kata Alzam kepada Rain.
Rain langsung saja meminum teh hangat tersebut, dan perutnya yang tadi seperti di kocok-kocok, sudah sedikit lebih baik daripada sebelumnya.
" Sumpah, aku tidak mau lagi naik kendaraan itu!! ",, kata Rain menggunakan Bahasa Inggris.
" Jika kamu tidak mau lagi naik kendaraan itu, itu artinya kamu akan jalan kaki sampai ke Yayasan ",, jawab Alzam juga menggunakan Bahasa Inggris.
Para penjual yang mendengar Alzam dan Rain, sedang berbincang menggunakan Bahasa Inggris, membuat mereka sedikit tertarik, karena mereka semua tidak ada yang mengerti apa yang di bicarakan oleh Alzam bersama Rain.
" Tidak mau, Yayasan ke sini, cukup jauh ",, jawab Rain kepada Alzam.
" Jadi itu artinya, kamu nanti naik motor ini lagi, karena hidup di sini harus terbiasa naik kendaraan roda dua, sebab ini berada di kampung Rain, bukan di kota ",, kata Alzam kepada Rain.
" Iya baiklah, apa boleh buat ",, jawab Rain kepada Alzam.
" Bagaimana kalau nanti aku ajari kamu naik motor Rain, masa jika Faiha sudah menjadi istri kamu, dia yang ingin pergi ke pasar akan kamu antarkan naik mobil terus, apa tidak repot?? ",, kata Alzam kepada Rain.
" Iya juga?? ",, jawab Rain kepada Alzam.
" Tapi aku takut Afnan, dan malu jika di lihat oleh orang lain, jika aku belum bisa naik motor ",, kata Rain kepada Alzam.
" Untuk apa merasa malu, jika kamu malu, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa naik motor ",, jawab Alzam kepada Rain.
" Apa kamu mau belajar pakai motorku saja?? ",, kata Alzam kepada Rain.
" Jika kamu punya motor sendiri, kenapa memakai motor milik Faiha, Afnan?? ",, tanya Rain kepada Alzam.
" Kamu saja aku boncengkan naik motor yang kecil ini muntah-muntah, bagaimana jika naik motorku yang besar itu ",, jawab Alzam kepada Rain.
" Sudah yuk, kita beli bubur dulu, sama jajanan pasar untuk orang-orang di rumah, nanti setelah sarapan baru aku ajarkan kamu naik motor ",, kata Alzam lagi kepada Rain.
Rain hanya mengangguk saja kepada Alzam, dan ketika Rain ikut beli bersama Alzam, dia yang baru pertama kali melihat makanan khas orang Indonesia, akhirnya sedikit kalap.
Rain hampir membeli semua makanannya, karena dia penasaran dengan semua rasanya.
Alzam sudah menegur Rain untuk jangan beli banyak-banyak, tapi Rain tetap kekeh ingin membeli itu semua, alhasil Rain dan Alzam seperti baru saja belanja untuk di jual lagi.
Mungkin nanti orang-orang rumah akan sedikit terkejut, ketika melihat Rain dan Alzam, membeli sebegitu banyaknya jajanan pasar.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...