DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
BABY AARA


Saat ini Syahlaa dan baby girl nya sudah di pindahkan di ruang perawatan biasa, dan baru cuma Alzam serta Abi Aasim saja yang menemani Syahlaa di dalam ruang perawatan tersebut.


" Lucunya cucu Kakek, wajahnya kali ini sangat mirip dengan kamu Afnan ",, kata Abi Aasim dan didengar oleh Syahlaa.


" Tapi tenang Nak Syahlaa, kali ini semuanya mirip denganmu, cuma wajahnya saja, lihatlah rambutnya pirang sama sepertimu ",, kata Abi Aasim juga kepada Syahlaa.


" Iya Abi, resiko menikah dengan bule, jadi anaknya separo bule ",, jawab Alzam sambil bercanda.


Syahlaa langsung tertawa pelan mendengar candaan dari Alzam tadi, begitupun dengan Abi Aasim.


" Oh iya Afnan, kamu sholat lah subuh dulu, biar Abi yang jaga Syahlaa dan cucu Abi ini, nanti setelah itu gantian Abi, dan Abi akan langsung pulang menjemput Umi ",, kata Abi Aasim kepada Alzam.


" Baik Abi, Ayah tinggal sebentar ya Mama ",, kata Alzam kepada Syahlaa.


Syahlaa hanya tersenyum sambil mengangguk menanggapi Alzam.


Sepeninggal dari Alzam, Abi Aasim mencoba mengambil cucu barunya itu untuk dia timang-timang dan bacakan sholawat.


Syahlaa yang melihat, hatinya terasa terenyuh, sebab persalinannya yang sekarang, sungguh sangat menyentuh sekali hatinya.


Ada begitu banyak cinta yang dia dapatkan sekarang, itulah kenapa, Syahlaa sangat mudah menangis ketika hamil ke dua.


Sedangkan dibeda pulau, Ezio dan Rain yang sudah selesai meeting, mereka berdua langsung kembali ke dalam ruang kerja Ezio.


Rain sengaja mengikuti Ezio, karena Ezio ingin bertanya sola Syahlaa kepadanya.


" Tadi kamu bilang jika Syahlaa akan segera melahirkan sekarang Rain?? ",, tanya Ezio ketika sudah duduk di kursi singgasananya.


" Iya Tuan Ezio, dan semua Keluarga di sana menyuruh saya beserta Faiha untuk segera datang menjenguk ke Indonesia ",, jawab Rain kepada Ezio.


" Jika boleh meminta ijin, saya ingin cuti satu minggu Tuan, untuk berkunjung ke rumah mertua saya, sekaligus melihat keponakan saya itu ",, kata Rain kepada Ezio.


" Apakah semua pekerjaan untuk minggu-minggu ini sudah kamu handle semua Rain?? ",, tanya Ezio mengalihkan pembicaraan.


" Sudah Tuan, tinggal beberapa berkas saja, dan itu bisa ditangani oleh Barry ",, jawab Rain kepada Ezio.


" Baiklah kamu boleh pergi Rain, tapi jangan lama-lama seperti kemarin, dan sampaikan salamku kepada mereka semua ",, kata Ezio kepada Rain sambil tersenyum.


" Baik Tuan, terimakasih banyak atas ijinnya ",, kata Rain sambil menundukkan sedikit badannya.


Ezio hanya mengangguk saja menanggapi Rain.


" Rencananya kamu akan berangkat kapan ke Indonesia Rain?? ",, tanya Ezio lagi.


" Besok Tuan, saat ini saya ingin menyelesaikan semua pekerjaan saya ",, jawab Rain lagi.


" Bagus, kalau begitu sudah sana kerjakan, lanjutkan lagi pekerjaan kamu ",, kata Ezio.


" Baik Tuan ",, jawab Rain.


Setelahnya, Rain pun langsung berlalu ke luar dari dalam ruang kerja Ezio menuju ke meja kerjanya sendiri.


Ketika Rain sudah ke luar dari dalam ruang kerjanya, Ezio langsung memikirkan apa jenis kel4min dari anak ke duanya Syahlaa.


" Andai saja Syahlaa istriku, pasti saat ini aku merasa sangat bahagia, karena Syahlaa baru saja melahirkan ",, kata Ezio sambil tersenyum sendiri.


" Kira-kira apa ya jenis kel4min dari adiknya Zarina, aku jadi penasaran ",, kata Ezio.


" Apapun keadaannya sekarang, ini sudah lebih baik, setidaknya aku tidak dipisahkan dari Zarina lagi ",, kata Ezio lagi.


" Semoga kamu bahagia di sana Syahlaa ",, doa tulus dari Ezio.


Setelah itu, Ezio mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengerjakan semua pekerjaannya yang sudah menunggunya daritadi.


Beralih ke Indonesia lagi.


Alzam yang sudah selesai sholat subuh, dia langsung kembali ke dalam ruang perawatan Syahlaa, dan langsung bergantian dengan Abi Aasim.


" Abi tinggal dulu ya Afnan, mau sholat, lalu beli makan untuk kita semua, sekaligus menjemput Umi dan Zarina ",, pamit Abi Aasim kepada Alzam.


" Iya Abi hati-hati di jalan ",, jawab Alzam.


" Nak, Abi pulang sebentar ya ",, kata Abi Aasim kepada Syahlaa.


" Iya Abi, hati-hati dan terimakasih ",, jawab Syahlaa.


Abi Aasim hanya tersenyum dan dia langsung berlalu ke luar menuju ke dalam mobil milik Alzam tadi.


Tinggallah Alzam bersama Syahlaa dan sang buah hati mereka berdua di dalam ruang perawatan itu.


Alzam untuk pertama kalinya mencoba menggendong buah hatinya yang pertama itu.


" Ayah ",, panggil Syahlaa kepada Alzam.


Alzam yang sedang menimang baby girl nya, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Syahlaa.


" Iya Mama ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.


" Ayah tidak akan membeda-bedakan mereka kan,?? Zarina dan adiknya ",, tanya Syahlaa kepada Alzam.


Wajar saja sih, jika sebagai orang ibu merasakan hal yang demikian, karena Zarina beda Ayah dengan anak ke duanya, jadi tidak salah jika Syahlaa bertanya seperti itu kepada Alzam.


" Mama ini bicara apa sih?? ",, kata Alzam.


" Tentu saja Ayah tidak akan membeda-bedakan mereka, Zarina dan adiknya kan semuanya anak Ayah, apa kata Allah nanti Mama, jika Ayah berbuat tidak adil kepada mereka berdua ",, kata Alzam lagi.


Syahlaa lagi dan lagi langsung meneteskan air matanya mendengar jawaban dari Alzam.


" Jangan menangis lagi ya, semuanya sudah baik-baik saja, Ayah sayang sama Mama, Zarina dan anak kita ini Ma ",, kata Alzam sambil mengusap air mata Syahlaa.


" Jangan meragukan cinta Ayah lagi ya Mama, cinta Ayah tulus, murni karena Allah, dan insyaallah Ayah ingin mengajak Mama menuju ke surganya Allah bersama-sama, jadi sekarang tersenyum dong ",, kata Alzam lagi.


Syahlaa hanya tersenyum tipis, sambil menatap penuh cinta ke arah Alzam.


" Anak kita sangat lucu sekali Mama, dan terlihat sangat bule sekali, apakah dulu Zarina waktu kecil juga seperti ini?? ",, tanya Alzam.


" Tidak, yang ini masih mending, dibandingkan Zarina dulu ",, jawab Syahlaa.


Alzam reflek langsung tertawa pelan mendengar jawaban dari Syahlaa.


" Mungkin karena yang ini bapaknya asli orang Indonesia kali ya ",, kata Alzam sambil tertawa.


" Ayaaaaah ",, kata Syahlaa sambil melirik sebal.


" Iya-iya Mama, maaf, bercanda ",, jawab Alzam masih tertawa.


" Apakah Ayah sudah menyiapkan nama untuk si kecil?? ",, tanya Syahlaa kepada Alzam.


" Sudah dong, apa Mama mau ikut memberikan nama juga untuknya?? ",, tanya balik dari Alzam sambil menimang sang baby.


" Tidak, Ayah saja yang memberinya nama, Mama percaya, pasti Ayah akan sama bagusnya seperti Abi jika memberi nama ",, jawab Syahlaa kepada Alzam.


" Baiklah, Ayah akan memberinya nama Rasqya Zahsy Aara Syazani, yang berarti anak perempuan yang cantik, manis, cerdas dan ahli surga, bagaimana Ma, bagus tidak?? ",, tanya Alzam.


" Bagus ko Ayah, lalu siapa nama panggilannya?? ",, tanya Syahlaa.


" Aara, baby Aara ",, jawab Alzam.


" Aara yang berarti manis, semoga sifat dan sikapnya akan selalu manis kepada sesama dan tidak pernah menyakiti melalui lisan maupun perbuatan, aamiin ",, kata Syahlaa.


" Aamiin, istri siapa sih, pintar sekali seperti ini ",, kata Alzam sambil mencubit gemas pipi Syahlaa.


" Sakit Ayah ",, kata Syahlaa pura-pura cemberut.


Alzam langsung tertawa senang, bisa menggoda sang istri, dan pagi itu adalah pagi terindah di seumur hidup Alzam, dengan di karunia seorang baby di umurnya yang sudah sangat matang.


Sedangkan Abi Aasim yang sudah sampai rumah, benar saja, jika Zarina sudah terbangun dan sedang menangis sekarang, karena mencari sang Ayah dan sang Mama.


Terlebih lagi ketika Zarina mendengar jika dedek bayinya akan lahir, Zarina semakin tidak sabar ingin segera melihat adik kecilnya itu.


" Nah itu Kakek pulang sayang, sudah ya diam ",, kata Umi Anum kepada Zarina.


" Ada apa ini, ko Zarina menangis Umi?? ",, tanya Abi Aasim.


" Biasa mencari Syahlaa sama Afnan, bagaimana Abi keadaan Syahlaa dan cucu kita?? ",, tanya Umi Anum.


" Semuanya baik-baik saja Umi, berjalan dengan lancar, ini Abi ingin menjemput kalian berdua, ayo segera bersiap-siap, sekalian nanti beli makan untuk kita bawa ke sana ",, jawab Abi Aasim kepada Umi Anum.


" Alhamdulillah, Umi senang mendengarnya ",, kata Umi Anum.


" Ayo sayang, kita bersiap-siap, mandi ganti baju yang bagus, kan mau melihat dedek bayi ",, kata Umi Anum kepada Zarina.


Zarina langsung berhenti menangis, mendengar Umi Anum berkata seperti itu.


Umi Anum langsung mengurus Zarina untuk mandi dan berganti baju, ketika Umi Anum sedang mengurus Zarina, tiba-tiba ada yang mengucapkan salam ke rumah Alzam.


Di saat sudah dilihat oleh Abi Aasim, ternyata yang mengucapkan salam, adalah Aaqil bersama Iffah.


" Oh kalian berdua, ayo masuk ",, kata Abi Aasim setelah menjawab salam dari mereka berdua.


" Di mana Kak Syahlaa Abi?? ",, tanya Iffah kepada Abi Aasim.


" Masih di puskesmas, ini Abi mau menjemput Umi sama Zarina, apa kalian mau ikut juga ke sana?? ",, tanya dari Abi Aasim.


" Boleh, tapi kita naik mobil sendiri ya Abi, biar jika sewaku-waktu ingin pulang tidak merepotkan Abi dan Kak Afnan ",, jawab Iffah.


" Terserah kamu saja ",, jawab Abi Aasim.


" Kalau begitu Ayah mau mengambil mobil dulu ya Umma, Abi ",, pamit Aaqil.


" Iya hati-hati di jalan Ayah ",, jawab Iffah, sedangkan Abi Aasim hanya mengangguk saja kepada Aaqil.


Aaqil langsung berlalu pergi untuk mengambil mobil miliknya sendiri yang berada di rumah, dan rumahnya sendiri juga tidak terlalu jauh jaraknya dengan rumah Alzam.


Setelah semuanya sudah siap, mereka semua langsung segera menuju ke puskesmas, untuk melihat keadaannya Syahlaa bersama baby Aara.


...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...


...***TBC***...