
Kembali lagi ke dalam Negeri, lebih tepatnya di Pesantren milik Abi Aasim.
Semenjak Abi Aasim mengetahui jika Faiha menyukai Rain, Abi Aasim seperti menyeleksi secara diam-diam semua pengurus Pondok Pesantren laki-laki yang belum pada menikah di Yayasannya, tanpa sepengetahuan dari Faiha atau yang lainnya, kecuali Aaqil.
Karena Aaqillah orang yang di tunjuk oleh Abi Aasim untuk mengumpulkan semua informasi tentang para pengurus pesantren laki-laki.
Aaqil awalnya merasa biasanya saja, ketika mendapatkan perintah seperti itu oleh Ayah mertuanya.
Hanya saja, ketika Abi Aasim bertanya ini dan itu tentang mereka semua, membuat jiwa penasaran Aaqil muncul kepermukaan.
Contohnya saja saat ini, Aaqil yang sedang mengajar tiba-tiba di suruh menghadap Abi Aasim di ruang kerja milik Abi Aasim.
" Apakah Abi memanggil Aaqil?? ",, tanya Aaqil setelah mengucapkan salam tadi.
" Iya Aaqil, duduklah ",, jawab Abi Aasim kepada Aaqil.
Aaqil pun langsung saja duduk di kursi samping Abi Aasim.
" Di antara ke tiga orang ini, siapakah ibadahnya yang paling rajin?? ",, tanya Abi Aasim kepada Aaqil, sambil menunjuk ke tiga foto laki-laki pilihannya.
" Ke tiganya rajin Abi, yang Ismail, dia suka mengerjakan selain yang wajib seperti sholat sunnah, puasa sunnah, dan dia juga tampan Abi ",, jawab Aaqil kepada Abi Aasim.
" Yang ini Akbar, dia anaknya baik, Aaqil sudah mengenal dia cukup lama, sopan, dan suka berceramah ",, kata Aaqil lagi kepada Abi Aasim.
" Lalu yang ini yang Fajar?? ",, kata Abi Aasim sambil menunjuk fotonya Fajar.
" Fajar juga baik orangnya Abi, dia sangat sabar sekali sebagai laki-laki, bahkan selama Aaqil mengenal Fajar, Aaqil tidak pernah melihat Fajar marah sama sekali ",, jawab Aaqil kepada Abi Asim.
" Jadi menurut kamu, di antara ke tiga laki-laki ini, siapa yang pantas untuk Faiha?? ",, tanya Abi Aasim kepada Aaqil.
" Huh,?? Faiha?? ",, kata terkejut Aaqil kepada Abi Aasim.
" Apakah Abi akan menjodohkan Faiha dengan salah satu dari ke tiga laki-laki ini Abi?? ",, tanya Aaqil kepada Abi Aasim.
" Iya, dan sebenarnya Abi ingin meminta pendapat kepada Afnan, tapi kamu tahu sendiri, Kakak kamu itu sedang ada masalah yang cukup rumit sekarang ",, jawab Abi Aasim kepada Aaqil.
" Apakah Abi yakin ingin menjodohkan Faiha?? ",, Aaqil memberanikan diri bertanya lagi.
" Maksud Aaqil, bukannya lebih baik jika kita bertanya terlebih dahulu kepada Faiha, apakah dia sudah mempunyai laki-laki yang dia sukai atau belum?? ",, kata Aaqil lagi kepada Abi Aasim.
" Faiha sudah ada laki-laki yang dia sukai Aaqil ",, jawab Abi Aasim kepada Aaqil.
" Hanya saja, Abi kurang menyetujuinya ",, lanjut lagi perkataan Abi Aasim kepada Aaqil.
" Abi, jika boleh tahu, siapakah laki-laki yang di sukai oleh Faiha?? ",, tanya Aaqil kepada Abi Aasim.
" Tuan Rain ",, jawab jujur Abi Aasim kepada Aaqil.
" Ha,?? Tuan Rain?? ",, kata Aaqil dengan ekspresi sangat terkejut.
" Iya Tuan Rain, dan kamu tahu sendiri jika Tuan Rain berbeda agama dengan kita Aaqil, Abi tidak setuju, karena Abi ingin anak-anak Abi ada yang menuntun menuju ke surganya Allah ",, jawab Abi Aasim kepada Aaqil.
" Afnan menikah dengan Syahlaa yang mualaf, karena Afnan yang akan membimbing Syahlaa, tapi jika Faiha, Abi tidak mau jika Faiha yang membimbing Tuan Rain ",, kata Abi Aasim lagi kepada Aaqil.
" Apakah Abi sudah menanyakan kepada Faiha, apakah Tuan Rain akan berpindah agama sama seperti kita?? ",, tanya Aaqil lagi kepada Abi Aasim.
" Belum ",, jawab Abi Aasim kepada Aaqil sambil menggelengkan kepalanya.
" Lalu bagaimana jika Tuan Rain benar-benar menjadi jodohnya Faiha Abi,?? apa yang akan Abi lakukan,?? apakah Abi akan memisahkan mereka?? ",, tanya Aaqil kepada Abi Aasim.
" Entahlah Aaqil, Abi belum kepikiran sampai sejauh itu, namun sekarang bantu Abi memilihkan laki-laki yang tepat untuk Faiha ",, jawab Abi Aasim kepada Aaqil.
Aaqil langsung speechles, dia tidak tahu mau bertanya atau berbicara apa lagi kepada Abi Aasim.
Karena Aaqil sendiri sebenarnya kurang setuju dengan keputusan Abi Aasim yang ingin menjodohkan Faiha.
Walau sebenarnya, Aaqil juga setuju dengan perkataan dari Abi Aasim yang kurang setuju dengan Faiha yang menyukai Rain, tapi baik Aaqil dan Abi Aasim hanyalah manusia biasa yang cuma bisa berusaha serta bertawakal.
" Siapa Aaqil, diantara Ismail, Akbar dan juga Fajar, manakah yang pantas menjadi jodoh Faiha?? ",, tanya Abi Aasim lagi kepada Aaqil.
" Menurut Aaqil Ismail Abi ",, jawab Aaqil kepada Abi Aasim.
" Kenapa kamu memilih Ismail Aaqil?? ",, tanya Abi Aasim kepada Aaqil.
" Selain tampan, dia juga sangat tahu sekali mana yang sunnah, mana yang wajib, dan dia sangat tekun sekali beribadahnya ",, jawab Aaqil kepada Abi Aasim.
" Walau Ismail tidak suka berceramah seperti Akbar, tapi Aaqil yakin dia akan berceramah kepada keluarganya untuk menuju ke surganya Allah ",, kata Aaqil lagi kepada Abi Aasim.
" Dan walau dia tidak seperti Fajar, setidaknya dia pasti bisa mengontrol amarahnya seperti yang sudah dia pelajari selama ini tentang Agama Islam ",, lanjut lagi perkataan Aaqil kepada Abi Aasim.
" Baiklah, sementara Ismail yang akan menjadi pilihan kita berdua, tapi Abi ingin melihat dulu Ismail secara langsung, supaya Abi bisa menilainya sendiri ",, jata Abi Aasim kepada Aaqil.
" Dan Abi juga akan bermunajat kepada Allah untuk mencarikan jodoh yang terbaik untuk Faiha ",, kata Abi Aasim lagi kepada Aaqil.
" Baik Abi ",, jawab Aaqil kepada Abi Aasim.
Tidak tahukah Abi Aasim, jika semenjak Abi Aasim bilang, jika dia tidak menyetujui Faiha menyukai Rain, Faiha menjadi lebih murung dan tidak bern4f5u makan.
Faiha lebih cenderung diam, diam bukan karena dia marah kepada sang Abi, hanya saja dia sedang berusaha mengubur dalam-dalam perasaannya untuk Rain.
Namun, semakin berusaha Faiha mencoba, semakin dalam saja rasa suka dan mungkin sudah tumbuh menjadi benih-benih cinta untuk Rain.
Dada Faiha terasa sangat sesak dan sakit sekali, di saat dia sudah menemukan laki-laki yang ingin dia jadikan imam di dalam hidupnya, cintanya harus terhalang restu dari sang Abi, karena perbedaan Agama yang mereka anut.
Ingin sekali Faiha berkata kepada Abi Aasim, jika dia menyerah, menyerah untuk melupakan rasa sukanya itu kepada Rain.
Tapi Faiha takut, takut jika sang Abi marah kepadanya, dan tahu-tahu Abi Aasim akan menikahkannya esok hari dengan laki-laki lain, ketika Rain dan Alzam belum kembali pulang ke Indonesia.
Hanya pasrah yang bisa di lakukan oleh Faiha sekarang, dan Faiha selalu berdoa serta bermunajat kepada Allah, semoga diberikan jalan yang terbaik untuk setiap masalah yang sedang di hadapinya.
Entah siapapun jodohnya nanti, Faiha berdoa semoga dia bisa menjadi istri yang baik, dan bisa melangkah bersama menuju ke surganya Allah.
Sepertinya perjuangan Rain untuk mendapatkan Faiha cukup berat, dan jalan satu-satunya jika Rain ingin di restui oleh Abi Aasim, ya dia harus menjadi mualaf sama seperti Faiha.
...πππππππππππππ...
Semangat Rainπͺπͺ.
...βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ...
...***TBC***...