DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Senyum yang mengiris hati


" Sayang tolong jangan seperti ini!" kesal Al mencekal pergelangan tangan Ayla


Ayla tersenyum lalu melepaskan tangan Al dari tangannya


" Saya permisi pak!" ucap Ayla yang langsung pergi begitu saja tak menghiraukan ucapan Al


Deg


Al mendengus kesal marahnya Alya kali ini sungguh menakutkan, lebih baik Ayla memarahinya dan memukulnya dari pada bersikap seperti orang asing


Al terpaksa menahan dirinya untuk membujuk isterinya yang sedang marah, ia kini berusaha untuk tetap fokus meeting dengan PT Hutama Jaya


Selesai meeting Al kembali ke ruangannya dengan tergesa-gesa.


" Al!" panggil Arlan yang berhasil membuat langkah Al terhenti


" Ada apa?" tanyanya


"Ayla marah tapi kali ini kemarahannya ia lampiaskan dengan sikapnya yang tidak biasa!" sahut Al


" Maksudnya?" Arlan nampak bingung


" Ayla bersikap tidak seperti biasanya, sejak kembali dari restoran Ayla menganggap gue hanya sebagai atasannya aja, sikapnya juga dari tadi begitu formal" Ucap Al seraya menghela nafasnya berat


" Gue lebih suka dia marah-marah dan bila perlu pukul gue dari pada sikapnya yang seperti ini, selalu tersenyum tapi senyum yang sangat mengerikan" ucap Al jujur


" Kenapa memang dengan senyumnya, bukankah itu malah bagus kalau dia tersenyum berarti dia enggak marah dan baik-baik aja kan?"


Al menggelengkan kepalanya " Loe enggak kenal Ayla Lan, justru kalau Ayla tidak menangis dan tidak marah-marah itu berarti kemarahannya itu sudah sangat besar dan untuk menutupi kesedihannya dia bersikap seperti itu pura-pura tersenyum padahal hatinya menjerit dan menangis" terang Al


" Oh begitu, sulit juga dong ya kali ini loe membujuknya"


Al menghela napas panjang membenarkan apa yang dikatakan Arlan


" Yaudah sebaiknya cepat selesaikan masalah kalian, biar urusan kantor gue yang urus" ucap Arlan


" Oke,Loe emang sahabat gue yang bisa diandalkan!" ucap Al


" Iya dong tapi jangan lupa bonus akhir tahun gue double ya !" tawa Arlan


"SiaLaN Loe soal bonus aja cepet loe" Al meninju bahu Arlan pelan


" Ha...ha ..!" Arlan tertawa


_______


" Sayang!" Al menghampiri Ayla yang tengah sibuk di depan layar laptopnya


" Sayang!" panggil Al lagi karena Ayla masih saja bergeming


" Sayang jangan seperti ini, bicaralah!" seru Al menarik lengan Ayla hingga membuat Ayla tergeser dan menoleh kearah Al


" Ada apa pak, maaf saya sedang fokus dengan pekerjaan saya jadi tidak tahu kalau pak Al memanggil saya" ucap Ayla dengan sopan


" Sudah cukup sayang, hentikan sikapmu yang tidak jelas ini!" bentak Al membuat Ayla terhenyak dan diam mematung tanpa ekspresi


Melihat Ayla yang nampak ketakutan membuat Al merasa bersalah " Maafkan mas sayang, bukan maksud mas membentak kamu tapi mas enggak tahu harus bagaimana jika kamu bersikap kayak gini sama mas" ucap Al yang sudah melembutkan suaranya


" Mas lebih baik melihat kamu marah sama mas, maki mas pukul mas dari pada kamu bersikap kayak gini, seolah-olah mas ini orang lain" Ungkap Al


" Maafin mas sayang!" ucap Al mencondongkan tubuhnya lalu menarik Ayla kedalam dekapannya


Ayla bergeming tidak membalas pelukan Al tubuhnya seperti patung.


" Sayang!" ucap Al seraya mengurai pelukannya


Al terkejut bukan main dengan kata-kata yang Ayla lontarkan


" Apa maksud ucapan mu itu?" tanya Al dengan menahan emosinya


" Maksud ku, sudah seharusnya aku sadar diri siapa aku dan dimana posisiku, tidak seharusnya aku yang hanya seorang asisten menunggu atasannya untuk memenuhi janjinya yang mengatakan ingin makan siang bersama, apalagi sampai menelponnya berkali-kali untuk mencari tahu dan nyatanya mungkin hanya menjadi pengganggu kesibukan atasannya itu, padahal seharusnya aku tidak perlu mempedulikan ucapannya, menunggu sampai aku lupa jika bayi yang ada di dalam perut ku pun butuh makan"


Jegerrr


Ucapan Ayla sungguh menohok, Al tercekat rasanya lidahnya kelut sulit untuk bicara.


Al diam menundukkan kepalanya, ia merasa sangat bersalah kepada isterinya yang sudah menjanjikan untuk makan siang bersama tapi nyatanya dia lupa dan malah makan siang bersama klien wanita yang tidak sengaja Ayla pun melihatnya


Jelas wanita itu marah, apalagi saat ini dia tengah berbadan dua, sakit hati, hancur, kecewa tentu itu yang wanita itu rasakan ketika suaminya mengingkari janjinya bahkan telponnya pun diabaikan begitu saja dan yang lebih parahnya wanita itu melihat dengan mata kepalanya sendiri suaminya tengah makan siang bersama wanita lain sedangkan di kantor ia menunggunya dengan menahan lapar


Ayla kembali tersenyum dan menatap Al dalam-dalam " Kamu tidak perlu merasa bersalah, tenang saja aku pastikan kalau aku akan baik-baik saja" ucap Ayla yang tidak lepas dari senyum di bibirnya


" Kita pulang sekarang!" tegas Al lalu meraih tas Ayla dan menarik tangan Ayla untuk ikut dengannya pulang


Ayla tidak menolak ia mengikuti langkah Al yang tengah menggenggam tangannya


Sesampainya di dalam mobil Ayla dan Al saling diam tidak ada yang bicara satu sama lain, hingga mobil sudah sampai di depan rumah pun tidak ada yang bicara.


Ayla turun lebih dulu mendahului Al masuk ke dalam rumah.


Karena mama Ambar dan papa Kusuma tidak ada, rumah terasa sangat sepi. Saat masuk ke dalam rumah Ayla berpapasan dengan bi Nani yang baru saja keluar dari arah dapur


" Sudah pulang non Ayla" sapa bi Nani


" Eh iya bi" Sahut Ayla dengan tersenyum ramah


" Saya ke atas dulu ya bi, mau bersih-bersih gerah, panas banget bi!" ucap Ayla


" Iya non!" sahut bi Nani


Ayla langsung melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya


Sesampainya di kamar Ayla meletakkan tas selempangnya di tempat biasa ia menggantungkan tas setelah itu mengambil baju ganti lalu masuk ke dalam kamar mandi


Ceklek


Pintu kamar dibuka oleh Al dan dia tidak melihat keberadaan Ayla.


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi dan itu menandakan Ayla saat ini sedang berada di dalam kamar mandi


Al duduk di tepi tempat tidur menunggu Ayla selesai dengan ritual mandinya.


Setelah 20 menit berlalu Ayla pun keluar dari dalam kamar mandi.


" Kamu mau langsung mandi mas, aku sudah menyiapkan airnya!" ucap Ayla lalu berjalan ke walk in closet untuk menyiapkan baju ganti untuk suaminya


" Sayang!" panggil Al saat Ayla meletakkan baju ganti untuknya diatas tempat tidur


Ayla tersenyum tipis " Mandi dulu mas biar seger, diluar itu panas pasti mas gerah juga kan dari tadi!" ucap Ayla dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya


Hati Al benar-benar terasa teiris dengan sikap Ayla yang seolah baik-baik saja


" Sayang !"


" Aku tunggu di bawah ya mas, aku akan menyiapkan makan malam untuk kita" ucapnya masih dengan memperlihatkan senyumnya yang menusuk


Ayla pun langsung mengayunkan kakinya keluar dari kamar sedangkan Al masih bergeming menatap pintu yang kini sudah kembali tertutup


" Oh tuhan kenapa rasanya sesakit ini?" gumam Al mendesak sesak