
Di ruangan yang di dominasi oleh warna putih, Sasa membuka kedua matanya dan melihat ke sekeliling ruangan.
Melihat selang infus yang bertengger di salah satu tangannya membuat dia sadar kalau saat ini dirinya tengah berada di sebuah rumah sakit
" Alhamdulillah, Sa akhirnya loe sadar juga" ucap Mina yang terlihat dengan jelas raut kekhawatiran di wajahnya, Mina yang baru keluar dari toilet merasa lega saat melihat sahabatnya sudah siuman
" Kenapa gue bisa ada di sini?" tanya Sasa nampak bingung
" Loe tadi pingsan" sahut Mina
" Pingsan?" beo Sasa dan Mina mengangguk Pelan
Sasa nampak mengingat-ingat kejadian beberapa waktu lalu sebelum ia berakhir di tempat tidur rumah sakit
" Bukannya gue tadi lagi di taman bersama Ayla ya dan tiba-tiba loe_?"
Deg
Sasa baru mengingat kejadian sebelum ia tidak sadarkan diri dan seketika dia pun langsung terduduk dengan wajah panik
Mina pun sudah ketar ketir melihat ekspresi Sasa
" Mi Hendrik_?" tanya Sasa tak kuasa melanjutkan pertanyaannya
" Sa bang Hendrik masih belum sadar" jawab Mina hati-hati
Jlep
Dada Sasa terasa begitu sesak rasanya seperti dihantam bongkahan batu besar
" Hendrik?" Sasa tidak kuasa menahan tangisnya
" Gue mau melihat keadaannya Mi!" Sasa dengan kasar mencabut sendiri jarum infus yang menancap di tangannya dan hal itu tentu saja membuat Mina terkejut bukan main dengan reaksi Sasa yang tiba-tiba itu
" Sa loe apa-apaan sih, liat tangan loe mengeluarkan darah!" ucap Mina yang langsung panik melihat darah yang berceceran di lantai karena ulah Sasa yang dengan kasar mencabut jarum infus dari tangannya
Sasa tidak menghiraukan ucapan Mina seraya memegangi tangannya yang sedikit nyeri Sasa melangkah keluar ruangan
Ceklek
Saat berada di ambang pintu bertepatan dengan pintu ruangan yang terbuka dari luar
" Sasa!" Ayla yang baru saja datang kembali bersama Al setelah tadi sempat pulang untuk mengantarkan Aliza terkejut melihat Sasa yang sudah berada di depan pintu
" Loe mau kemana Sa, dan tangan loe kenapa?" tanya Ayla khawatir melihat keadaan Sasa
" Gue mau melihat keadaan Hendrik Ay, gue harus menemuinya!" Ucap Sasa di sela Isak tangisnya
" Tapi tangan loe kenapa sampai berdarah kayak gitu?" tanya Ayla
" Dia mencabut jarum infusnya dengan paksa!" Jawab Mina yang sudah berdiri di belakang Sasa
" Gue harus pergi Ay!" Sasa menerobos begitu saja Ayla dan Al yang sedang berdiri di depan pintu
" Sa!" panggil Mina
" Apa loe tahu bang Hendrik berada di mana sekarang?" Teriakan Mina mampu membuat langkah Sasa berhenti seketika
Mina, Ayla dan Al berjalan menghampiri Sasa yang terlihat tubuhnya sedikit bergetar
Ayla merangkul bahu Sasa memberikan ketenangan " Kita ketempat bang Hendrik sama-sama Sa, tapi sebelumnya obati dulu ya tangan loe!" ucap Ayla
Sasa dengan cepat menggelengkan kepalanya
" Enggak Ay, gue enggak apa-apa luka ini enggak ada apa-apanya, gue mau melihat keadaan Hendrik sekarang Ay!" ucap Sasa dengan suara serak karena menangis
" Yaudah kalau begitu kita kesana aja sekarang tapi kamu yakin tangan kamu itu tidak apa-apa?" tanya Al untuk meyakinkan kondisi Sasa
" Iya pak saya yakin" sahut Sasa
Mereka berempat akhirnya pergi ke ruang ICU dimana Hendrik tengah berada dalam pantauan dokter
Saat sampai di depan ruangan yang bertuliskan ruang ICU mereka melihat Andi yang tengah duduk bersama kedua orangtua Hendrik
" Bunda... Ayah ..!" Sasa langsung menghampiri kedua orang tua Hendrik dan menangis dalam pelukan bundanya Hendrik
" Sa yang sabar ya sayang, kamu harus kuat sayang ya demi Hendrik" ucap bunda Tia bundanya Hendrik
" Hendrik pasti akan baik-baik saja. kita doakan saja ya sayang!" Sasa mengangguk setelah terurai pelukan keduanya
" Apa sebenarnya yang terjadi dengan Hendrik bunda, kenapa Hendrik sampai mengalami kecelakaan?" tanya Sasa disela isak tangisnya
" Namanya juga musibah Sa, kita tidak ada yang tahu kapan musibah itu menimpa kita seperti halnya kecelakaan yang menimpa Hendrik, ini sudah takdir Sa, sekarang yang harus kita lakukan adalah banyak-banyak berdoa aja semoga Allah senantiasa selalu melindungi Hendrik dan mengembalikan kesadarannya" ucap ayahnya Hendrik dengan bijak
Tapi walaupun demikian mereka tetap menyayangi Sasa karena mereka juga tahu alasan yang membuat Sasa belum siap menerima pinangan putranya itu
" Bagaimana keadaan Hendrik sekarang bunda?" tanya Sasa
" Masih kritis dan semoga saja malam ini Hendrik bisa melewati masa kritisnya" jawab bunda Tia
" Bun apa boleh Sasa melihat keadaan Hendrik, Sasa ingin bicara dengan Hendrik bun" pinta Sasa memohon
" Tapi Hendrik masih belum sadar sayang" Bunda Tia mengelus rambut Sasa dengan lembut
" Tidak apa-apa bun, siapa tahu setelah mendengar suara Sasa bisa membuat Hendrik cepat sadar" ucap Hendra ayahnya Hendrik
" Ayah akan tanyakan dulu pada dokter yang menangani Hendrik!" ucap Ayah Hendra yang langsung berlalu menuju ruangan dokter
Setelah beberapa menit ayah Hendra sudah kembali dan datang bersama dokter yang menangani Hendrik
" Saat ini kondisi pasien dalam keadaan kritis dan tidak sadarkan diri tapi meskipun dia tidak bisa merespon apa-apa tapi sebagian besar pasien yang berada di bawah alam sadarnya itu bisa mendengar suara orang-orang disekitarnya ya semoga saja hal itu bisa membuat pasien memiliki semangat yang tinggi untuk tetap bertahan dan tetap semangat untuk hidup" terang dokter menjelaskan keadaan Hendrik pada keluarganya
" Jadi boleh dok saya melihat keadaannya?" tanya Sasa
" Boleh, asal tetap mengikuti prosedur yang berlaku di rumah sakit ini " pesan dokter
" Baik dokter, terima kasih!" ucap Sasa
" Sama-sama"
Saat ini Sasa sudah berada di dalam ruangan dimana Hendrik tengah berbaring lemah dengan berbagai macam alat medis di tubuhnya
Air mata Sasa tak kuasa lagi ia bendung dengan langkah gontai Sasa mendekati brankar Hendrik
Sasa membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya sendiri rasa sungguh tidak percaya laki-laki yang selalu memberinya semangat, selalu menghibur dikala ia merasa sedih dan dengan segala keusilannya selalu mampu membuatnya tertawa kini laki-laki itu hanya berbaring lemah diatas tempat tidur dengan mata yang tertutup rapat
" Hiks.... Hiks..." Sasa terisak walaupun sudah sekuat hati untuk tidak menangis tapi tetap saja pertahanannya seketika roboh tak kuasa melihat orang yang terkasih dalam keadaan tidak berdaya
Rasa takut, khawatir sedih dan menyesal kini bercampur menjadi satu, Sasa menyesal karena sudah mengabaikan perasaan Hendrik selama ini tidak pernah sekalipun ia mengerti posisi Hendrik yang sudah sangat bersabar dalam menghadapi dirinya yang terkadang begitu egois
" Hendrik!" Pekik Sasa tertahan rasanya lidahnya begitu kelu memanggil namanya saja terasa begitu sakit
" Maafkan aku Hen, maaf... selama ini aku sudah selalu saja mengabaikan perasaan kamu, aku terlalu egois tapi kamu tidak pernah mengeluh sedikitpun. Apa kau tau Hen baru saja aku bicara pada Ayla kalau aku akan berusaha untuk berdamai dengan masa lalu ku dan aku ingin mengatakan padamu aku mau menikah dengan mu Hen, tapi ... Hiks.... Hiks... kenapa kamu malah seperti ini Hen, apakah aku ini tidak pantas bahagia bahkan disaat aku ingin sudah memantapkan hatiku untuk menerima pinangan mu kau malah berbaring lemah seperti ini" Sasa mengusap air matanya dengan kasar
" Kamu jahat Hendrik, kamu mendiamkan aku disaat aku sudah berusaha menerima mu untuk menjadi calon suamiku, apa cinta dan kasih sayang mu yang selalu kamu ucapkan itu semuanya palsu? kau membohongi ku Hendrik kau tidak tulus mencintai ku, aku kecewa padamu, Hiks.... Hiks...!" Sasa meluapkan semua perasaannya
" Jika kamu tidak mau bangun juga terserah padamu saja Hen, aku akan membencimu karena kau sudah mempermainkan perasaan ku, aku pastikan aku akan pergi dari kehidupan mu jika kamu tidak mau membuka matamu sekarang!" ancam Sasa
" Aku hitung sampai tiga, kalau kamu tetap ingin tidur seperti itu tidur lah tapi setelah kau bangun nanti kau tidak akan bisa melihat ku lagi karena saat itu aku pasti sudah jauh meninggalkan mu, jadi sadar sekarang buka matamu atau hubungan kita cukup sampai di sini?" Sasa menahan gejolak hatinya yang terus meronta-ronta, ia berusaha untuk tidak menangis lagi walaupun faktanya air matanya dengan tidak tahu dirinya kembali menetes lagi
Sasa menghapus air matanya dengan kasar lalu mendekatkan wajahnya pada Hendrik lalu membisikkan kata-kata di telinganya
" Teruslah tidur sepuasmu aku membencimu Hendrik, kau mempermainkan ku, setelah aku sudah berharap padamu dan sudah menerima pinangan mu kau malah sekarang yang menolak menikah dengan ku jadi jangan salahkan aku jika aku membuka hatiku untuk pria yang benar-benar tulus mencintai ku, dan aku akan segera menikah dengannya dan pada saat kau sadar nanti maka saat itu aku sudah menjadi isteri orang lain!"
" Aku pergi Hendrik, jaga dirimu baik-baik!" ucap Sasa kembali menghapus air matanya dengan kasar
Setelah mengatakan itu Sasa pun keluar dari ruangan Hendrik, namun baru sampai depan ruangan tubuh Sasa seketika melorot ke lantai dengan Isak tangis yang terdengar begitu memilukan
Ayla dan Mina langsung berhamburan menghampiri Sasa begitu juga dengan bunda Tia
Sasa dibantu kedua sahabatnya untuk berdiri setelah berdiri bunda Tia yang tidak tega melihat kondisi Sasa langsung menarik tubuhnya kedalam pelukannya
Sasa kembali terisak siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa iba
" Sabar sayang, jangan seperti ini!" Bunda Tia mengusap-usap punggung Sasa
" Kenapa Hendrik jahat bunda, disaat Sasa ingin menerima pinangannya dan berusaha berdamai dengan masa lalu Sasa kenapa Hendrik malah seperti ini bunda, Hiks... Hiks...!"
" Sasa baru ingin memberitahu Hendrik malam ini bunda, kalau.... kalau Sasa mau menikah dengannya, Hiks.... hiks... ta... tapi... Hendrik malah... Huwaaa!" tangis Sasa pun pecah
" Kamu harus sabar sayang dan yakin Hendrik akan baik-baik saja, bunda yakin demi kamu dia pasti akan segera sadar sayang!" ucap bunda Tia
" Bunda, ayah yang masuk duluan ya!" ucap ayah Hendra karena melihat istrinya tengah menenangkan hati calon menantunya maka pria paruh baya itu memilih masuk duluan
" Iya Yah!" ucap bunda Tia
Saat ayah Hendra masuk ke dalam ruangan Hendrik, ia tiba-tiba dikejutkan dengan beberapa dokter yang sudah berada di dalam ruangan tersebut dan tengah melakukan tindakan medis pada Hendrik
Deg
Jantung Hendra berpacu sangat cepat, apalagi terlihat dengan jelas raut-raut wajah para tim medis begitu yang nampak begitu tegang
" He... Hendrik!" ucap Hendra terbata dengan bola mata yang membulat sempurna
" Pu... putraku, Hiks... Hiks.... ,!" Ayah Hendra menitikkan air matanya ia tidak kuasa lagi menahan tangisnya melihat keadaan putranya saat ini