DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Kecelakaan


Seorang gadis tengah duduk di taman dengan pandangan mata yang lurus ke depan.


Berkali-kali gadis itu menghela napas panjang berusaha untuk menenangkan perasaannya yang terasa begitu gunda gulana


" Udah lama nunggu?" tanya Ayla yang baru saja datang lalu mendudukkan dirinya di bangku kosong yang ada di sebelah Sasa gadis yang sejak tadi duduk sendirian di taman tersebut.


" Eh, loe udah datang Ay!" ucap Sasa yang terkesiap dari lamunannya


" Iya, maaf kelamaan nungguin ya?"


" Enggak juga, gue belum lama juga kok datangnya" sahut Sasa


" Oiya, Aliza mana?" tanya Sasa yang tidak melihat keberadaan Aliza datang bersama Ayla


" Aliza bersama papanya, tuh disana!" jawab Ayla seraya menunjuk Al dan Aliza yang sedang bermain ayunan dan berada tidak jauh dari tempat mereka duduk


" Pak Al itu papa dan suami yang hebat ya Ay dan kelihatan banget dia sangat sayang sama Aliza" ucap Sasa yang pandangannya mengarah kepada Al dan Aliza


" Iya, Alhamdulillah banget gue juga sangat bersyukur memiliki suami yang begitu sabar, penyayang dan juga bertanggung jawab, sangat mengayomi keluarga" tutur Ayla yang pandangan matanya sama-sama tertuju pada anak dan ayah yang sedang bermain ayunan tersebut


" Iya Ay loe beruntung banget" ucap Sasa


" Mina dan Dira juga, kalian sama-sama beruntung memiliki suami yang begitu baik dan bertanggung jawab" lanjutnya


" Elo juga bisa seperti kami Sa" ucap Ayla dan Sasa hanya menimpali dengan tersenyum


" Gue enggak yakin Ay" sahutnya sendu


" Kenapa enggak yakin?" Ayla mengerutkan keningnya


" Gu.. gue_"


" Masih takut? masih trauma?" selak Ayla dan Sasa menganggukkan kepalanya


" Gue udah berusaha untuk melupakan semuanya Ay, tapi rasa takut itu terus saja menghantui pikiran gue" ucap Sasa nampak begitu sendu


" Loe harus bisa berdamai dengan masa lalu loe Sa, jangan biarkan masa lalu itu membuat loe terus terbelenggu dengan perasaan takut yang berkepanjangan, loe bisa lihat sendiri kan bagaimana mas Al, kak Arlan dan juga Kak Andi mereka juga laki-laki, sama seperti Hendrik dan gue bisa lihat dari sikapnya selama ini Hendrik juga sangat sayang sama loe Sa, dia juga sudah berusaha untuk bersabar buat menunggu kesiapan loe tapi kalau Loe nya malah seperti ini terus-menerus bisa-bisa yang ada Hendrik bakal lelah juga Sa" tutur Ayla


" Ya berarti itu enggak jodoh Ay!" sahut Sasa dengan entengnya


" Mau Hendrik ataupun laki-laki yang lain pun akan bersikap sama Sa kalau loe nya masih aja berada dalam lingkaran masa lalu loe tentang perbuatan ayah Loe yang sebenarnya enggak semua laki-laki itu sama Sa"


Sasa diam pikirannya mencerna setiap kata yang Ayla lontarkan


" Sa coba deh loe ngertiin posisi Hendrik sekali-kali, dia itu sudah sabar banget loh Sa buat ngertiin loe, buat nungguin Loe" saran Ayla


" Buang jauh-jauh rasa takut loe itu Sa, lihatlah ketulusan cinta Hendrik selama ini ke elo, dia bahkan tidak pernah mengeluh sedikitpun kan dan selalu nurut apa yang loe mau?" Sasa mengangguk membenarkan ucapan Ayla


" Kalau loe kayak gini terus loe bisa-bisa jadi perawan tua, mau loe emangnya? enggak kasihan gitu sama nyokap Loe yang udah kepingin banget putrinya berumah tangga dan mempunyai cucu?."


Sasa terdiam hatinya semakin gunda gulana, mampukah ia melawan rasa takutnya itu? dia sangat takut akan nasibnya kelak, seandainya ia menikah lalu bagaimana jika suaminya itu akan meninggalkan dirinya disaat hamil, apa lagi jika dia ternyata tidak bisa melahirkan anak sesuai dengan keinginan sang suami, dia takut hal yang menimpa ibunya terulang lagi pada dirinya.


" Sa asal loe tahu ya nasib orang itu berbeda-beda, enggak semuanya sama bahkan nasib anak kembar pun juga beda-beda jadi jangan Loe samakan nasib ibu Loe sama nasib loe, bisa ajakan nasib loe jauh lebih beruntung dari nasib ibu loe" terang Ayla berusaha untuk membuka jalan pikiran sahabatnya itu


" Tapi bagaimana kalau ternyata nasib gue justru lebih buruk dari nasib ibu gue?" tanya Sasa nampak begitu putus asa


" Husss!"sentak Ayla


" Kalau ngomong itu yang benar Sa, jangan ngasal kayak gitu enggak baik, ingat loh ucapan itu adalah doa jadi berkata dan berpikirlah yang baik-baik, jangan sembarangan menebak-nebak sesuatu yang belum tentu terjadi"


Sasa terdiam, apa yang Ayla katakan memang tidak ada yang salah, semua benar tapi apakah dia berani untuk menghadapinya tanpa ada rasa takut yang sering menghantui pikirannya


" Dengar ya Sa, kebahagiaan itu loe sendiri yang harus membuatnya, jika loe ingin hidup bahagia maka cobalah untuk melawan rasa takut Loe itu dan buatlah hidup loe bahagia, sayangi dan cintailah diri loe sendiri Sa, jangan biarkan kesedihan, kebencian dan juga rasa takut loe itu membuat kebahagiaan loe sendiri tertutup bahkan terkunci seumur hidup, loe harus berusaha lebih keras lagi Sa untuk membahagiakan diri loe sendiri"


" Sungguh rugi Sa loe berlama-lama terkurung pada kekejaman yang sudah ayah loe lakukan sementara orang itu hidup tenang-tenang aja di sana tanpa memikirkan nasib loe sama sekali, apa loe enggak merasa rugi Sa, membuang-buang waktu loe hanya untuk hal yang tidak berarti apa-apa dan lebih banyak merugikan diri Loe sendiri?" tekan Ayla


Sasa tergugu dan tidak kuasa lagi menahan tangisnya, untuk pertama kali nya Ayla melihat sisi rapuh sahabatnya itu, selama ini Ayla hanya melihat Sasa adalah gadis yang selalu suka tersenyum dan juga sangat ceria, dia tidak pernah tahu kalau dibalik senyuman sahabatnya itu ada sebuah luka yang teramat besar


Ayla menarik Sasa kedalam pelukannya dan membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.


" Menangislah Sa, jika hal itu bisa membuat hati Loe lebih tenang, lupakanlah kesedihan yang selama ini mengganjal di hati loe Sa, dan setelah ini jadilah Sasa yang baru, Sasa yang mau berbagi suka dan dukanya dengan sahabat-sahabatnya dan tidak lagi memendam kesedihannya seorang diri!" ucap Ayla seraya mengusap punggung Ayla


" Bahagiakanlah diri loe sendiri Sa!" ucap Ayla lagi


Setelah merasa jauh lebih tenang Sasa pun mengurai pelukan Ayla, dia menghapus air matanya dengan kasar lalu tersenyum pada Ayla


" Apa yang loe bilang itu benar Ay, semua yang udah gue lakukan itu sangat merugikan diri gue sendiri, gue terus terpuruk pada apa yang sudah orang itu lakukan sementara mungkin disana dia sama sekali tidak mengingatnya , mungkin sedang tertawa bahagia dengan kehidupannya dan juga keluarga barunya" lanjutnya lagi


Ayla hanya tersenyum didalam hati wanita itu berharap apa yang Sasa katakan benar-benar akan dia lakukan dan bisa membuat dirinya bahagia


" Gue, Mina dan juga Dira pasti akan selalu mendukung Loe Sa, ingat loe tidak sendirian dan jika merasa ada yang mengganjal di hati ceritakanlah pada kami!" pesan Ayla


" Iya, terima kasih banyak, loe memang sahabat gue!"


" Ya sebagai sahabat bukankah sudah sepantasnya kita saling membantu?"


Sasa Tersenyum lalu tiba-tiba gadis itu teringat dengan sosok Hendrik laki-laki yang beberapa bulan ini sudah menjadi kekasih hatinya


" Ay, gu.. gue.. gue ingin berbicara dengan Hendrik dan gue akan mencoba untuk belajar menerimanya dan melawan rasa takut itu, emmm.... apa menurut loe dia masih mau ya menerima gue?" tanya Sasa


Ayla menepuk bahu Sasa lalu tersenyum " Hendrik itu sangat mencintai loe Sa, tentu saja dia akan menerima loe!" sahut Ayla


" Semoga kami benar-benar berjodoh ya Ay!"


" Amin"


" Oiya, Mina kemana ya kok dari tadi belum juga datang katanya mau kesini?" tanya Sasa yang teringat dengan sahabatnya yang satu itu


" Mungkin masih di jalan" sahut Ayla


Dan benar saja tidak berapa lama Mina datang bersama Andi, tapi saat melihat kedatangan keduanya yang terlihat sedikit aneh membuat Ayla dan Sasa mengerutkan keningnya apalagi tercetak jelas dari raut wajah pasangan suami isteri itu ada kepanikan dan juga kekhawatiran


Mina dan Andi setengah berlari menghampiri Ayla dan Sasa yang tengah menatap keduanya dengan tatapan penuh tanda tanya


Al yang melihat kedatangan Mina dan Andi yang terlihat tergesa-gesa pun langsung menggendong Aliza lalu berjalan menuju kearah Ayla dan Sasa yang memang berada tidak jauh dari tempat dia dan Aliza bermain


" Sa..!" ucap Mina tercekat rasanya lidahnya begitu kelu dan sulit untuk digerakkan


" Ada apa?" Sasa yang melihat sikap Mina dan Andi yang nampak aneh pun seketika berdiri dari duduknya dan tiba-tiba saja muncul rasa khawatir, walaupun dia sendiri tidak tahu apa yang dia khawatirkan rasanya perasaannya berubah tidak enak


" Cepat, ada apa katakan Mi?" tanya Sasa sampai mengguncang bahu sahabatnya itu, apalagi bukannya menjawab Mina malah menangis


Sasa semakin panik melihat Mina yang menangis tanpa berkata apa-apa


" Kak Andi sebenarnya ada apa? kenapa Mina menangis?" tanya Ayla yang tadinya fokus dengan Sasa dan Mina kini beralih pada Andi


Sebelum Andi menjawab Mina tanpa bicara langsung menarik Sasa kedalam pelukannya dan tentu saja apa yang dilakukan Mina membuat Sasa semakin bertanya-tanya


" Mina, katakan ada apa sebenarnya? kenapa loe seperti ini?" tanya Sasa, Mina masih belum bisa menjawab sementara Andi menundukkan kepalanya lalu detik kemudian menarik napas dalam-dalam


" Kak Andi_!" beo Ayla


Andi pun menatap Ayla, Al lalu beralih pada Sasa yang masih dipeluk oleh Mina


" Emmmm.... Sasa kami harap loe bisa menguatkan diri loe ya, berita yang akan kami sampaikan mungkin akan membuat loe sedih tapi Loe harus kuat ya Sa" ucap Andi


Sasa dan Ayla membulatkan matanya sempurna, kata-kata harus kuat membuat jantung Sasa berdegup sangat kencang, apa sebenarnya yang terjadi kenapa Andi dan Mina sampai terlihat begitu khawatir terhadap dirinya batin Sasa


" Katakan Kak Andi, apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Sasa dengan Mina yang masih setia memeluknya


" Emmm .... " Andi nampak bingung menyampaikan berita yang mungkin bisa saja membuat gadis yang ada di hadapannya itu syok


Andi tiba-tiba mengkode Ayla untuk lebih mendekat ke pada Sasa dengan ekor matanya, Ayla yang mengerti pun langsung merangkul Sasa


Sasa yang merasakan tangan Ayla di bahunya menoleh pada Ayla, tatapan matanya seakan bertanya ada apa? dan Ayla yang mengerti arti tatapan Sasa pun menjawab dengan menggidikkan bahunya


" Sa... He... Hendrik!" ucap Andi terbata dan Mina yang berada di dalam pelukan Sasa pun semakin terisak


" Hendrik? ada apa dengan Hendrik?" bukan Sasa dan Ayla yang bertanya tapi kali ini malah Al yang sedari tadi penasaran akhirnya angkat bicara


" Emmm ... Hen... Hendrik kecelakaan Sa, dan kepadanya kritis!"


...Jegeerrrrr...


Bak petir di siang bolong, tubuh Sasa seketika lemas bagaikan tidak bertulang jika tidak berada di dalam pelukan Mina dan rangkulan Ayla gadis itu mungkin sudah jatuh ketanah


" He....Hendrik!" Sasa yang baru saja ingin berdamai dengan masa lalunya dan ingin memberikan kesempatan pada Hendrik tiba-tiba harapannya itu terhempas begitu saja setelah mendengar kabar tentang Hendrik


" Sasa!" teriak Mina dan Ayla bersamaan ketika tubuh Sasa lemas dan bahkan sudah hilang kesadaran