DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Mengakui kesalahan


Al baru saja terjaga dari tidurnya dan ternyata sudah ada mama Ambar yang baru saja selesai membantu Ayla untuk membersihkan diri.


" Mah!" panggil Al


Mama Ambar dan Ayla menoleh ke arah sofa dimana Al tengah duduk menatap ke arah mereka berdua


" Kamu sudah bangun Al? bagaimana kondisi kamu apa masih mual?" tanya mama Ambar


Al menggeleng pelan " Sudah tidak mah"


" Itu di atas meja ada pecel pesanan kamu Al" ucap Mama Ambar menunjuk ke arah meja yang ada di hadapan Al


" Terima kasih mah!" ucap Al antusias lalu membukanya


" Sayang kamu mau?" tawar Al


Ayla menggeleng " Enggak mas, aku sudah kenyang, buat mas aja;"


Al makan dengan lahap tanpa ada rasa mual sedikit pun, mama Ambar dan Ayla merasa lega setidaknya ada asupan makanan yang masuk ke dalam perut Al yang sedari tadi ditolaknya


Selesai makan Al membuka ponselnya dan ia melihat ada notif pesan video dari Arlan


Al membuka video tersebut dan seketika matanya membola melihat perbuatan Nola yang sedang mendorong Ayla sampai terjatuh.


" Ada apa Al?" tanya mama Ambar yang melihat perubahan pada raut wajah putranya itu


Al beranjak dari duduknya dan menghampiri Ayla sebelum menjawab pertanyaan dari mamanya


" Sayang boleh mas tanya?" Ayla bergeming menatap bingung pada suaminya yang menampakkan wajah seriusnya


" Mas mau bertanya apa?" tanya Ayla


" Apa selama ini kamu sering mendapat perlakuan tidak baik dari karyawan yang lain, dan mereka sering menghina mu iya?" tanya Al serius


Ayla terdiam, baginya dihina dan di perlakukan buruk oleh karyawan yang lain tidak jadi masalah selama tidak membahayakan dirinya tapi sekarang bahkan dirinya sedang berada di rumah sakit dalam keadaan lemah


" Iya mas" jawab Ayla takut-takut


" Sudah mama duga sebelumnya" sela mama Ambar


" Kenapa kamu tidak pernah cerita sama mas?"


Ayla tidak berani menatap Al yang terlihat merasa kecewa


Ayla tertunduk dia sungguh merasa takut dengan tatapan Al saat ini


" Al kamu ini apa-apaan sih, mama tau kamu ini sedang kesal dengan isterimu tapi apa kamu lupa Ayla itu tidak boleh stres apalagi tertekan begini!" ucap mama Ambar memarahi putranya yang sudah membuat Ayla ketakutan


" Maaf, aku cuma khawatir" ucap Al yang sudah melembutkan suaranya


" Sekarang kamu tidak sendirian tapi ada kehidupan lain di perutmu yang harus kamu jaga dan lindungi. sebagai suami dan juga calon ayah aku harus bisa menjaga kalian berdua, itu adalah tanggung jawab aku jadi aku harap kamu mengerti jika nanti mungkin aku akan mengambil keputusan yang membuat mu sedikit kecewa" ucap Al yang seketika membuat hati Ayla mencelos takut Al marah dan meninggalkannya


" Ap... apa kau akan meninggalkan ku mas?" ucap Ayla lirih


" Bodoh, kenapa kamu punya pikiran sedangkal itu, bukan itu maksud ku tapi aku ingin kamu dirumah saja dan setelah kejadian ini aku ingin mengumumkan tentang status pernikahan kita agar tidak ada lagi yang berani mencemooh mu dan merendahkan mu!" ucap Al tegas


"Tapi mas_!"


" Tidak ada tapi-tapian lagi, untuk kali ini menurutlah, ini semua demi keselamatan mu dan juga calon anak kita!" sela Al


" Benar apa yang dikatakan suami kamu sayang, semua demi kebaikan kalian berdua." ucap mama Ambar


" Iya mah, maafin aku mas!" ucap Ayla


" Iya sayang enggak apa-apa, yaudah sekarang kamu fokus aja ya dengan kesehatan kamu dan juga calon anak kita"


" Iya mas" Ayla pun patuh


Sudah hampir satu Minggu Ayla dirawat di rumah sakit, Ayla benar-benar harus bedrest, Al sama sekali tidak mengizinkan Ayla untuk turun dari tempat tidur karena itupun berdasarkan saran dari dokter yang menangani Ayla


Selama Ayla di rumah sakit Al hanya fokus dengan kesehatan isterinya dan untuk masalah kantor Al sudah mempercayakannya kepada Arlan.


Untuk masalah kasus yang menyebabkan Ayla sampai di larikan ke rumah sakit untuk sementara Al tunda dulu sampai kondisi kesehatan Ayla benar-benar pulih.


Al sudah memberitahu Arlan untuk mengawasi Nola dan juga Dira.


Semua yang berada dalam satu ruangan dengan Ayla merasa heran karena sudah hampir satu Minggu Ayla tidak masuk ke kantor tanpa keterangan apapun.


Mina dan Sasa merasa khawatir karena selama itu juga Ayla tidak berkomunikasi dengan mereka ditambah lagi dengan Al yang juga tidak masuk kantor.


Ada perasaan bersalah dan juga menyesal karena sudah berbuat tidak baik terhadap Ayla, Dira ingin bertanya kepada Arlan mengenai kondisi Ayla setelah masuk rumah sakit tapi setiap kali berhadapan dengan laki-laki itu lidah Dira seakan kelu tidak bisa bicara.


Brukk


" Ma... maaf... maafkan saya pak saya tidak sengaja!" ucap Dira tanpa tahu siapa yang ditabraknya terus saja membungkuk karena merasa bersalah


" Kau lagi... kau lagi!" suara bariton yang sungguh tidak asing ditelinga Dira


Dira memberanikan diri untuk mendongak dan menatap ke sumber suara


Deg


Jantung Dira seakan ingin melompat keluar saat tahu siapa yang baru saja ditabraknya


" Maafkan saya pak Arlan!" ucap Dira gugup seraya membungkuk


" Sudahlah lupakan!" Arlan kembali melangkahkan kakinya


" Pak Arlan!" seru Dira berusaha memberanikan diri


Arlan menghentikan langkahnya tanpa menoleh menunggu Dira meneruskan kata-katanya


" Maaf pak, apa boleh saya tahu bagaimana kondisi Ayla saat ini?" tanya Dira yang terlihat begitu gugup dan sedikit bergetar


Arlan menoleh dan menatap Dira dengan tajam membuat Dira semakin gugup" Untuk apa kau bertanya tentang Ayla?"


Dira langsung menundukkan pandangannya tidak berani menatap pria yang ada di hadapannya " Sa.. saya hanya khawatir pak" sahur Dira


" Khawatir?" Arlan tersenyum miring


" Apa kamu yakin mengkhawatirkannya?" tanya Arlan menatapnya sinis


" Ya.. yakin pak, melihat ada darah di kaki Ayla sa...saya merasa khawatir takut terjadi apa-apa dengannya" ucap Dira terbata-bata


Semenjak kejadian yang membuat Ayla pingsan bahkan sampai dilarikan ke rumah sakit dan sampai berhari-hari Ayla tidak masuk kantor membuat Dira merasa sedikit bersalah dengan keadaan Ayla bahkan kini dia selalu menghindar dari Nola karena sejak bergaul dengan Nola dirinya jadi bersikap jahat pada Ayla yang sebenarnya tidak pernah berbuat jahat kepadanya.


Selama Ayla tidak masuk kantor Dira memang menjadi sosok yang lebih pendiam dan selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya dan dia melakukan itu demi menghindari ajakan Nola, dan itupun tidak luput dari pengawasan Arlan.


Berbanding terbalik dengan Nola, tidak melihat keberadaan Ayla di kantor justru dia merasa sangat senang bahkan sampai membuat Ayla terjatuh dan merintih kesakitan pun bukannya membuat Nola merasa bersalah tapi malah membuatnya merasa puas karena sudah berhasil membuat Ayla menderita.


" Jika pak Arlan bertemu dengan Ayla sampaikan maaf saya pak, saya menyesal karena selama ini sudah bersikap buruk padanya padahal Ayla sama sekali tidak pernah mengusik dan mengganggu kehidupan saya, saya menyesal pak!" ucap Dira tertunduk dengan air mata yang sudah jatuh begitu saja tanpa izin


" Baiklah, akan aku sampaikan. mulai sekarang bekerjalah yang dengan benar, perusahaan ini menerima kalian magang di tempat ini untuk menimba ilmu bukan berbuat sesuatu yang bahkan akan merugikan diri kalian sendiri" ucap Arlan begitu tegas dan berwibawa


" I.. iya pak, saya mengaku bersalah!" ucap Dira


" Karena kamu sudah mengakui kesalahan mu maka kali ini kamu aku maafkan tapi untuk pak Al dan Ayla biar nanti mereka sendiri yang memberi keputusan memaafkan mu atau tidak, sekarang bekerjalah dengan baik dan tunggu hukuman mu sampai pak Al dan Ayla kembali masuk ke kantor " ucap Al


" Hu... hukuman?" Dira nampak membelalakkan matanya


" Iya, selama ini pak Al diam bukan berarti beliau tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya sebelum Ayla pingsan, dan kau ada di sana juga bukan?"


Jlep


Dira bergeming pertanyaan Arlan sungguh bagaikan belati yang dilempar tepat mengenai jantungnya


" Pak Al saat ini tengah fokus dengan kesehatan Ayla yang mengharuskannya berbaring di tempat tidur selama hampir satu Minggu ini, jadi kamu bisa menebak kan bagaimana kondisi rekan kerjamu itu?"


" Jadi untuk sementara waktu hukuman untuk para pelaku yang sudah membuat Ayla berbaring di rumah sakit di tunda dulu sampai kondisi kesehatan Ayla benar-benar pulih" terang Arlan


" Nola, dia temanmu kan?" tanya Arlan


" I... iya pak" sahut Dira


" Jangan katakan apapun padanya, biarkan dia tahu dengan sendirinya dan menerima akibat dari perbuatannya sendiri" tegas Arlan


" Ba... baik pak!" ucap Dira


" Ya sudah, kembalilah bekerja!"


" Baik pak"


Arlan melenggang pergi namun baru beberapa langkah ia menghentikan langkahnya


" Jadilah dirimu sendiri Dira! jangan mudah terpengaruh dengan ucapan orang lain yang belum tentu baik untuk mu, belajarlah untuk menghargai orang lain bukan sibuk mencari-cari kesalahannya!" ucap Arlan sebelum pergi dan mampu membuat Dira mematung ditempat dengan gemuruh yang menyentak hatinya