
Seperti janji Rain kemarin, jika hari ini dia akan mengajak Faiha untuk bertemu dengan Keluarga besarnya dan melihat rumah baru mereka.
Rain juga mengajak Alzam beserta Syahlaa, untuk berkunjung ke rumah Keluarga besarnya.
Rain sendiri sudah menghubungi ke dua orang tuanya sejak kemarin, jika dia ingin datang berkunjung ke rumah mereka.
Ke dua orang tua Rain, sudah menunggu mereka semua, serta sudah menyiapkan ini dan itu, untuk menyambut kedatangan menantu baru di Keluarga mereka.
Dari apartemen milik Rain, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di kediaman Keluarga besarnya Rain.
Masih sama seperti biasanya, Faiha menatap kagum bangunan rumah yang ada di depannya, karena dia masih belum percaya, jika Keluarga besar dari suaminya memang benar-benar dari kalangan orang kaya.
Sekarang, ada rasa minder di dalam hati Faiha melihat rumah mewah milik ke dua orang tua sang suami.
" Ayo Fai sayang, kita masuk ",, kata Rain kepada Faiha.
" Fai malu Kak, rasanya Fai minder dan tidak pantas menjadi istrinya Kakak ",, kata Faiha kepada Rain.
" Kamu bicara apa sayang, ada-ada saja deh ",, jawab Rain kepada Faiha.
" Justru Kakaklah yang tidak pantas mendapatkan wanita sholehah seperti kamu sayang ",, kata Rain sambil mencubit hidung Faiha.
Faiha langsung menggelengkan kepalanya kepada Rain, sambil memeluk erat lengan sang suami, ketika Rain ingin melangkah masuk ke dalam rumah.
" Ayolah Fai, kita sudah di tunggu sama Mama dan Papa ",, kata Rain kepada Faiha.
Alzam yang baru saja ke luar dari dalam mobil bersama Syahlaa, dia pun menegur Rain dan Faiha, yang malah asik berbincang sendiri dan tidak segera masuk ke dalam rumah.
" Kalian berdua kenapa,?? bukannya masuk malah mengobrol dulu di sini, ayo ",, kata Alzam kepada Rain dan Faiha.
" Biasa Kakak ipar, dia lagi mode manja, minta di gendong ",, jawab Rain menggoda Faiha.
Faiha reflek mencubit pinggang Rain karena merasa gemas, dan Rain yang di cubit seperti itu oleh Faiha, dia langsung saja tertawa geli.
" Ayo Kak Rain, Faiha, jangan berdiri di sini terus ",, kata Syahlaa juga kepada mereka berdua.
" Tuh lihat, Kakak ipar kamu sudah mengkode kita ",, kata Rain kepada Faiha.
" Jika Kak Syahlaa Kakak ipar Faiha, kenapa Kak Syahlaa memanggil Kakak dengan panggilan Kakak?? ",, jawab Faiha kepada Rain.
Rain, Syahlaa, Alzam, langsung saling pandang membenarkan perkataan dari Faiha tadi.
Dan karena bingung tidak bisa menjawab, akhirnya Rain mengajak masuk saja semua orang ke dalam rumah ke dua orang tuanya.
Kedatangan Rain dan yang lainnya langsung di sambut sangat ramah sekali dari semua orang, dari Mama Maria, Papa Charles, bahkan dari Kakek serta Nenek dan adik perempuannya Rain beserta suami dan anaknya pun juga ada di situ.
" Halo Faiha, kamu tambah cantik sayang, ayo sini mari silahkan masuk ",, kata ramah dari Mama Maria kepada Faiha dan semuanya.
Faiha hanya bisa tersenyum canggung, karena dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang di katakan oleh Mama mertuanya tadi.
Perbincangan hangat pun terjadi dari semua orang, terutama dari Papa Charles dan Mama Maria, yang sedang mencoba membahas resepsi pernikahan Rain dan Faiha, yang sebentar lagi akan mereka adakan di Prancis.
Jika Rain, Alzam, Syahlaa dan Faiha sedang berkunjung ke rumah Papa Charles, beda halnya dengan Ezio yang sedang bersama Zarina.
Malam harinya ketika jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lebih lima belas menit, Zarina tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
Zarina terbangun, karena dia merasa lapar, sebab belum makan malam tadi, karena ketiduran.
Karena berhubung sudah malam, dan lampu kamar sudah di matikan oleh Ezio, Zarina mencoba membangunkan sang Papi, yang sedang tertidur sangat lelap sekali di sampingnya.
" Papi ",, panggil Zarina.
Panggilan pertama dan ke dua Ezio tidak mendengar, karena Ezio benar-benar sangat lelap sekali tidurnya.
" Papi ",, panggilan ke sekian kalinya dari Zarina, akan tetapi Ezio masih tidak mendengar.
" Papi Zalina lapal ",, kata Zarina kepada Ezio.
Karena Ezio tidak mendengar terus panggilan darinya, akhirnya Zarina menangis tersedu-sedu di samping Ezio.
Lama kelamaan suara tangisan dari Zarina mengganggu Ezio, dan akhirnya Ezio terbangun juga dari tidurnya.
" Zarina, kamu kenapa sayang?? ",, tanya Ezio kepada Zarina.
" Sini peluk Papi, kamu pasti sedang mimpi buruk ya?? ",, tanya Ezio sambil memeluk Zarina.
Zarina reflek menggelengkan kepalanya kepada Ezio.
" Zalina lapal, dalitadi Papi Zalina panggil tidak bangun-bangun ",, jawab Zarina sambil terisak.
Ezio langsung merasa bersalah mendengar jawaban dari Zarina, dan dia lalu memeluk Zarina lagi sambil meminta maaf.
" Sekarang Papi sudah bangun, ayo akan Papi buatkan makanan untuk Zarina ",, kata Ezio kepada Zarina.
Zarina langsung mengangguk kepada Ezio, dengan wajah masih banyak sisa air matanya.
" Yuk Papi gendong, cantiknya hilang nanti kalau anak Papi menangis begini ",, kata Ezio sambil mengusap wajah Zarina yang berlinang air mata.
Ezio dan Zarina lalu ke luar dari dalam kamar menuju ke dalam dapur.
Waktu yang sudah menunjukkan pukul satu dinihari tidak membuat Ezio enggan membuatkan makanan untuk Zarina.
Walau makan malam mereka tadi belum tersentuh sama sekali, namun Ezio masih tetap membuatkan makanan untuk Zarina.
" Zarina mau spaghetti?? ",, tanya Ezio kepada Zarina.
" Apa itu payeti Papi?? ",, tanya Zarina kepada Ezio.
Ezio langsung saja tertawa cukup keras, ketika Zarina tidak bisa menyebutkan kata spaghetti.
" Spaghetti sayang, bukan payeti ",, kata Ezio kepada Zarina.
" Spaghetti itu seperti mie, sebentar akan Papi buatkan khusus Princes Papi, sekarang Zarina duduk dulu di sini ya ",, kata Ezio sambil menududukkan Zarina di meja dapur.
Memasak spaghetti tidak membutuhkan waktu yang lama, masakan simple namun enak, dan pada akhirnya spageti ala Papi Ezio pun sudah selesai di masak.
" Zalina mau Papi ",, kata Zarina ketika sudah melihat spagetinya.
Zarina yang memperhatikan dari awal sampai akhir dan melihat sendiri hasil spaghetti buatan sang Papi, sekarang perutnya terasa semakin lapar sekali.
" Ayo sini makan sama Papi ",, kata Ezio sambil mengajak Zarina untuk duduk di kursi meja makan.
Ezio baru kali ini makan selarut itu, dan makanan yang dia makan pun cukup berat, namun Ezio tidak mempedulikannya, yang terpenting Zarina suka.
Sebelum makan, Zarina berdoa terlebih dahulu, dan suara Zarina ketika berdoa, terdengar khas di telinga Ezio.
Zarina dengan tangan mungilnya, mencoba menyuapkan satu sendok spaghetti tadi ke dalam mulutnya, dan ternyata Zarina sangat menyukai spaghetti buatan sang Papi.
" Enak Papi ",, kata Zarina.
Zarina sangat lahap sekali ketika makan spaghetti yang ada di depannya, dan Ezio yang melihat Zarina sangat lahap memakan spaghetti buatannya, dia sangat senang sekali, ada kebahagiaan sederhana yang tidak pernah dia rasakan sama sekali di dalam hatinya.
Selesai makan, Zarina meminta Ezio membacakan dongeng terlebih dahulu, walau mata Ezio sudah mulai mengantuk lagi, tapi dia tetap paksakan membacakan dongeng untuk Zarina.
Akhirnya, Zarina bisa tertidur juga ketika waktu sudah menunjukkan pukul empat dini hari.
" Selamat tidur Princes Papi ",, kata Ezio sambil mencium kening Zarina.
Ezio ikut tidur juga sambil memeluk tubuh sang putri dengan sangat sayang sekali.
Pagi harinya ketika sudah bangun dan baru saja selesai mandi, seumur-umur Ezio yang tidak pernah menguncir rambut, dia harus mengurus Zarina yang mempunyai rambut panjang.
Bagi Ezio mengurus Zarina yang sedikit membuatnya susah adalah jika di suruh untuk menguncir rambutnya, untung saja Zarina memakai kerudung, jadi walau berantakan Ezio menguncir rambutnya, setidaknya tidak kelihatan.
" Kita ke kantor sebentar ya sayang, Papi ada perlu sama Paman Barry, nanti setelah dari kantor, seperti janji Papi, kita akan pergi ke kebun binatang, ok ",, kata Ezio kepada Zarina.
Zarina hanya mengangguk saja kepada Ezio, dan mereka lalu pergi ke kantor sebentar, setelah itu mereka menikmati waktu kebersamaan mereka di kebun binatang yang ada di kota mereka.
Itulah pagi Ezio dan Zarina, yang sangat di nikmati sekali oleh Ezio, karena tidak setiap saat dia bisa bersama sang buah hati seperti saat ini.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...