
Ayla dan Al kini sudah berada di rumah orangtuanya yaitu mama Ambar dan papa Kusuma
" Assalamualaikum ma, pah!" ucap keduanya saat memasuki rumah besar tersebut
" Wa'alaikum salam!" jawab mama dan papa bersamaan dengan wajah berseri
" Sini duduk sayang!" ucap mama Ambar menyuruh anak dan menantunya duduk
Mereka kini tengah duduk di sofa yang berada di ruang TV
" Wajah kamu kok kelihatan pucat sayang, kamu sakit?" tanya Mama Ambar yang tengah memperhatikan keadaan Ayla
Ayla tersenyum lalu menoleh ke arah Al, mama Ambar menautkan kedua alisnya melihat gelagat aneh pada anak dan menantunya.
" Ayla enggak kenapa-napa mah, dia hanya butuh istirahat yang cukup dan tidak boleh kecapean karena harus menjaga kondisi kesehatannya dan juga_" Al menjeda ucapannya dengan senyum yang begitu merekah
" Dan juga apa Al? jangan bikin Mama penasaran deh!" Sela mama Ambar
" Emm...calon anak kami mah, pah" lanjut Al membuat mama dan papa Al membulatkan matanya
" Maksud kamu Ayla sedang hamil?" tanya mama Ambar begitu antusias
" Iya mah!" jawab Ayla sambil mengulas senyumnya
" Alhamdulillah, selamat ya sayang!" ucap Ambar begitu merasa bahagia lalu memeluknya
" Mah enggak nyangka ya kita sebentar lagi akan mempunyai cucu!" binar bahagia tercetak jelas di wajah pria paruh baya itu
" Iya pah" Timpal mama Ambar " Semoga kehamilan kamu lancar ya sayang tidak ada kendala sampai melahirkan nanti" doa mama Ambar untuk kehamilan menantunya
" Amin terima kasih ya mah!" Ayla merasa sangat bersyukur memiliki mertua yang begitu menyayanginya
" Yasudah sayang, ayok kita istirahat dulu!" Al beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada sang isteri
" Iya mas" Ayla menyambut uluran tangan Al
" Mah, pah kami istirahat dulu ya!" pamit Ayla
" Iya sayang" sahut mama Ambar
Ayla dan Al kini sudah berada di dalam kamar, merebahkan tubuhnya yang sedikit terasa lemas
" Mas!" panggil Ayla saat melihat Al yang baru saja keluar dari kamar mandi
Al menghampiri Ayla sambil menggosokkan handuk kecil di kepalanya " Ada apa sayang?" tanya Al mendekati Ayla yang kini tengah duduk bersandar di sandaran tempat tidur
" Mas aku kepikiran Laura, bagaimana kalau dia mengatakan yang tidak-tidak pada bibi" ucap Ayla begitu cemas
" Kamu tidak usah pikirkan hal itu sayang, yang harus kamu pikirkan sekarang cukup kesehatan mu dan juga calon anak kita" tutur Al seraya mengusap perut Ayla yang masih rata
" Iya mas, tapi tetap saja aku kepikiran soal mereka, aku takut rumah peninggalan orang tuaku mereka jual " Ayla nampak sedih
Al tersenyum lalu mengusap punggung tangan Ayla " Kalau soal rumah itu kamu tidak perlu khawatir, rumah itu akan selamanya menjadi milikmu mereka tidak akan pernah bisa menjualnya" terang Al
Ayla mengerutkan keningnya " Maksudnya apa mas?"
" Rumah itu sekarang adalah milikmu, aku sudah mengurus semuanya dan sudah atas namamu sayang" ucap Al yang langsung membuat Ayla tercengang
" Ru... rumah itu sudah atas namaku?" Al mengangguk mengiyakan
" Bagaimana bisa mas?" Ayla nampak bingung
" Menurut pengacara keluarga mu yang selama ini mengurus hak ahli waris dari mendiang orangtuamu, rumah, perusahaan yang paman mu kelola selama ini dan juga seluruh kekayaan yang ada, akan berpindah alih atas namamu sang ahli waris setelah kamu dewasa dan sudah menikah " terang Al
" Dan semua itu sudah diurus oleh pengacara keluarga Rahman dan juga pengacara keluarga Erlangga!" lanjutnya
" Lalu bagaimana dengan bibi dan paman?" tanya Ayla
" Paman mu tidak berkeberatan, karena dia memang menyadari semua itu milik mendiang kakaknya dan kamu adalah sebagai ahli warisnya. tapi bibimu untuk saat ini masih belum diberi tahu " Jawab Al
" Aku tidak akan mengambilnya dari mereka mas jika paman masih mau menempati rumah itu aku tidak masalah mas asal tidak dijual" ucap Ayla
" Iya, jadi untuk masalah rumah itu kamu sudah tidak perlu khawatir lagi" ucap Al
" Iya mas"
" Iya mas" Ayla tersenyum
" Oiya mas, apa tidak ada yang ingin kamu jelaskan padaku tentang Laura?" tanya Ayla menatap penuh selidik laki-laki yang ada di hadapannya saat ini
Al merangkak naik ke atas tempat tidur setelah meletakkan handuk kecilnya digantungan handuk
" Menjelaskan tentang apa sayang?" tanya Al
" Menurut mas?" Ayla bukan menjawab tapi malah balik bertanya
" Apa tentang yang tadi di hotel?" Ayla mengangguk
Karena takut isterinya salah paham Al pun memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Ayla dari awal dia masuk kamar tersebut sampai saat kedatangannya.
Ayla tercengang mendengar cerita Al, ia merasa iba tapi juga kesal karena dengan seenaknya Laura menuduh Al yang sudah merenggut kesuciannya.
" Untung saja mas selalu bersamaku saat itu coba kalau satu atau dua jam saja mas jauh dari aku sudah pasti aku percaya mas atas tuduhannya itu." ucap Ayla dengan mata yang menyipit
" Ya tidak mungkinlah sayang, mana mungkin aku mendekati yang haram sementara yang halal aku anggurin, tentu aku lebih memilih yang manis dan nikmat dari pada yang pahit dan berduri" tutur Al
" Lalu apa hubungan Laura dengan tuan Diego mas?" tanya Ayla yang membuat Al langsung menatapnya
" Mas rasa tuan Diego lah yang sudah merenggut kesucian Laura, tapi bagaimana kejadiannya Laura sendiri tidak tahu persisnya bagaimana"
Ayla terkejut, tidak dapat dibayangkan bagaimana jika pamannya tahu keadaan Laura.
" Mas, apa paman dan bibi tau soal ini?" Al menggeleng
" Mas rasa belum"
" Apa sebenarnya yang terjadi ya mas, bagaimana bisa Laura sampai sejauh itu, meskipun dia suka keluar malam dan pergi ke club tapi aku tahu dia itu tidak pernah melakukan hal yang buruk"
" Mungkin karena pergaulan sayang, bisa saja dia ikut-ikutan dengan temannya" sahut Al
" Ya ampun mas, aku sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana kalau sampai paman dan bibi tahu soal ini, apalagi kalau Laura sampai_" Ayla menghentikan ucapannya
" Sampai apa sayang?" tanya Al dan bukannya menjawab Ayla malah mengusap perutnya sendiri
Al yang mengerti maksud ucapan Ayla, mengusap lembut pucuk kepala isterinya itu
" Semoga tidak sampai sejauh itu sayang, kita doakan saja yang terbaik untuk Laura" ucap Al
Ayla menarik napas dalam-dalam " Iya mas, semoga aja tidak ada hal buruk yang menimpanya!" ucap Ayla menimpali
_________
Sesampainya di rumah Laura langsung bergegas mencari ibunya.
" Ibu.... ibu ...!" teriak Laura seraya masuk ke dalam rumah
" Ada apa sih kamu pakai teriak-teriak segala?" Mira keluar dari arah kamarnya
" Bu ada kabar yang sangat mengejutkan bu, kalau ibu tahu ibu pasti akan marah" cerocos Laura menggebu-gebu
" Tahu apa?" tanya Mira
" Bu, Ayla ternyata bukan pindah ke mes bu tapi dia itu tinggal bersama kak Alveer, bahkan sekarang dia sedang hamil" jawab Laura yang membuat Mira membulatkan matanya sempurna mendengar penuturan Laura
"Ayla hamil?"
" Iya bu, dasar wanita mur*Han demi mendapatkan kak Al dia melakukan segala cara, pantas saja kak Al memutuskan perjodohan itu ternyata Ayla sangat licik, menikamku dari belakang bu!" ucap Laura dengan wajah yang dibuat sendu
" Ayla sungguh sangat keterlaluan, tapi dari mana kamu tahu tentang hal ini?" tanya Mira
" Aku mendengarnya sendiri saat tadi mengikuti mereka ke rumah sakit, Ayla pingsan dan setelah itu dokter menyatakan kalau Ayla tengah hamil" sahut Laura
" Benar-benar keterlaluan anak itu, Awas saja kalau dia datang ke sini ibu kasih pelajaran dia, apa mau dia rumah ini ibu jual!" geram Mira
" Bu, aku ingin kak Al bu, pinta Ayla untuk menyerahkan kak Al bu, aku yakin jika Ayla yang memintanya untuk menikah dengan ku, kak Al pasti tidak akan menolaknya" rengek Laura pada sang ibu
" Kamu tenang aja sayang, nak Al sudah berani menolak mu dan kini biarkan Ayla yang menolaknya, ibu mau tahu sampai mana keberanian anak itu bermain di belakang kita!" Mira tersenyum jahat
Laura tersenyum senang, dia berharap ibunya berhasil memisahkan Ayla dari Al dan dia yang akan memenangkan Al sebagai suaminya.