DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
KUNJUNGAN TIDAK TERDUGA


Akhirnya, setelah drama pingsan yang dialami oleh Faiha, Faiha pun sadar juga, dan saat ini dia seperti orang linglung yang baru saja mendapatkan keajaiban.


" Kakak, tadi Fai bermimpi jika Faiha sedang hamil, semoga saja, itu segera diijabah sama Allah ",, kata Faiha.


Rain yang mendengar perkataan Faiha, langsung tersenyum gemas, karena selain wajah sang istri yang menggemaskan, sikapnya terlihat seperti anak kecil.


" Aamiin, ayo sini minum obatnya dulu sayang ",, jawab Rain sambil mengambilkan vitamin kehamilan untuk Faiha.


" Obat apa ini Kakak,?? Faiha tidak sakit ",, kata Faiha.


" Ini obat penunjang kehamilanmu Fai, kamu itu tidak bermimpi, saat ini kamu memang benar-benar sedang hamil, dan karena terlalu syok, kamu jadinya pingsan ",, jawab Rain sambil mencubit mesra hidung Faiha.


" Fai hamil,?? jadi Fai tidak bermimpi Kakak?? ",, tanya Faiha.


" Iya sayang ",, jawab Rain sambil mengangguk.


Faiha tiba-tiba langsung menangis sambil mengusap perutnya yang terlihat sedikit berisi.


" Kamu kenapa menangis Faiha?? ",, tanya Rain.


" Fai masih tidak percaya, jika Fai akan segera diberikan keturunan oleh Allah Kakak, Fai terharu ",, jawab Faiha sambil menangis.


" Ini amanah sayang, kita harus menjaganya sebaik mungkin, sekarang ayo minum dulu vitamin kehamilannya ",, kata Rain.


Faiha langsung mengangguk dan dia juga langsung meminum vitamin yang diberikan oleh sang Bidan tadi.


" Kita ke luar yuk Kak ",, kata Faiha setelah meminum vitaminnya.


" Apa kamu yakin,?? apa kamu tidak beristirahat saja di sini?? ",, tanya Rain.


" Aku yakin Kakak, sudah yuk kita ke luar, masa jam segini kita berada di dalam kamar, tidak enak sama yang lain ",, jawab Faiha.


" Iya sudah ayo ",, jawab Rain.


Faiha dan Rain, lalu ke luar dari dalam kamar untuk bergabung dengan Umi Anum, Syahlaa dan juga Alzam.


Zarina yang ada di situ, dia terus mencium sayang dan merasa gemas dengan sang adik yang sangat lucu sekali itu.


" Kamu sudah baikkan Fai?? ",, tanya Umi Anum.


" Sudah Umi, hanya cuma sedikit pusing saja ",, jawab Faiha.


" Apa bukannya lebih baik, kamu istirahat saja di dalam kamar?? ",, tanya Umi Anum lagi.


" Tidak perlu Umi, nanti jika Fai sudah tidak kuat, Fai akan beristirahat di dalam ",, jawab Faiha sambil tersenyum.


" Oh ya Rain, Faiha sedang hamil muda, memangnya apa tidak masalah jika dia naik pesawat perjalanan jauh nanti pulang ke Prancis?? ",, tanya Alzam.


" Iya aku juga berpikir begitu Afnan, masih bingung, aku takut jika Faiha kecapekan karena kelamaan di dalam pesawat ",, jawab Rain kepada Alzam.


" Jika nanti mau pulang, lebih baik konsultasikan dulu kepada tenaga medis Kak, Bidan atau Dokter, untuk berjaga-jaga ",, saran Syahlaa.


" Iya pasti Syahlaa, dan kita-kira Dokter yang bagus di sini di mana ya?? ",, tanya Rain kepada Syahlaa dan Alzam.


" Ada satu yang aku cocok sejak kehamilannya Syahlaa, tempatnya ada di kota, tidak terlalu jauh ko dari sini, paling sekitar tiga puluh menit sudah sampai ",, jawab Alzam kepada Rain.


Dan perkataan Alzam langsung dianggukin oleh Syahlaa.


" Baiklah, nanti kita bisa coba periksa ke sana, iya kan Fai ",, jawab Rain.


" Iya Kakak ",, jawab Faiha sambil tersenyum.


Ketika mereka semua sedang pada asik berbincang, telinga mereka semua tiba-tiba teralihkan dengan suara motor serta mobil yang berhenti di depan rumah.


Semua orang langsung saja ke luar dalam rumah ke depan teras, untuk melihat siapakah yang sedang datang ke rumah barunya Alzam.


" Papiiiiiiiii ",, teriak Zarina.


Dan ternyata orang yang datang itu adalah Ezio, yang diantarkan oleh salah satu pengurus pondok sebagai penunjuk jalan ke rumah Alzam.


Ezio seperti biasa akan menyambut hangat sapaan dari Zarina dengan merentangkan ke dua tangannya.


Sedangkan yang lainnya, langsung tersenyum ramah menyambut kedatangan Ezio sendirian, tidak bersama Mama Ingrid maupun Papa Fransisco.


" Tuan Ezio, mari silahkan masuk ",, kata ramah dari Alzam sang tuan rumah.


Saat ini Alzam, Ezio, Syahlaa, Rain, Faiha dan juga Umi Anum, sedang duduk bersama di ruang tamu rumah Alzam.


" Anda sendirian saja Tuan Ezio?? ",, tanya basa basi dari Alzam.


" Iya, Mama sedang tidak enak badan, akan tetapi mereka menitipkan salam dan juga hadiah untuk anak kalian berdua ",, jawab Ezio kepada Alzam.


" Biar saya ambilkan hadiahnya Tuan Ezio ",, kata Rain berinisiatif.


Ezio hanya mengangguk saja, dan Rain langsung berlalu ke luar untuk mengambil hadiah yang Ezio bawa di dalam mobil.


Tidak cuma ada satu atau dua macam hadiah yang Ezio berikan, melainkan ada dua puluh jenis hadiah yang semuanya mahal dan juga bermerek.


" Banyak sekali hadiahnya ",, kata Faiha.


" Iya Fai, itu kira-kira harganya berapa iya,?? bagus-bagus semua ",, bisik Umi Anum kepada Faiha.


" Yang pasti jutaan Umi, tidak mungkin Tuan Ezio memberikan barang murahan ",, jawab Faiha.


" Tuan Ezio, maaf, apakah ini tidak terlalu kebanyakan hadiah yang anda berikan kepada kami?? ",, tanya Syahlaa kepada Ezio.


" Tidak, bagi saya ini masih kurang banyak Syahlaa, karena anak kalian sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri seperti Zarina, bolehkan Tuan Alzam Chafik?? ",, jawab Ezio sambil tersenyum.


" Iya, tentu saja boleh Tuan ",, jawab ramah dari Alzam.


" Apakah Papi tidak membelikan hadiah juga untuk Zalina?? ",, tanya Zarina.


" Tentu saja ada dong sayang, nanti di cari ya, hadiahnya campur itu sama punya si dedek ",, jawab Ezio.


" Emm, namanya siapa Tuan Alzam Chafik?? ",, tanya Ezio kepada Alzam.


" Aara, panggil saja baby Aara Tuan ",, jawab Alzam sambil tersenyum ramah.


" Zarina, bolehkah Papi menggendong adik Aara sebentar?? ",, tanya Ezio.


Zarina langsung mengangguk mengiyakan, dan dia langsung berinisiatif untuk turun dari pangkuan sang Papi.


Melihat hal itu, Alzam langsung mengambil baby Aara dari gendongan Syahlaa, untuk dia berikan kepada Ezio, dan untuk pertama kali di seumur hidupnya Ezio menggendong seorang baby dengan tangannya sendiri.


" Dia sangat lucu sekali, apakah dia wajahnya sangat mirip dengan Zarina waktu kecil Syahlaa?? ",, tanya Ezio.


" Tidak terlalu mirip, tapi dia mirip ",, jawab Syahlaa yang membingungkan.


Ezio langsung menampilkan wajah kebingungannya mendengar jawaban dari Syahlaa, dan Alzam yang melihat wajah Ezio yang seperti itu, dia langsung tertawa pelan.


" Akan saya ambilkan album fotonya Zarina waktu dia baby Tuan, anda bisa melihatnya sendiri ",, kata Alzam.


" Boleh ",, jawab Ezio dengan sangat semangat.


Alzam beranjak berdiri dan berlalu menuju ke dalam kamarnya, dan ketika album foto itu sudah dia ambil, Alzam langsung membawanya ke luar untuk dia tunjukkan kepada Ezio.


Ezio langsung memberikan baby Aara lagi kepada Alzam, karena dia ingin melihat foto Zarina waktu bayi.


Ezio melihat dengan seksama, satu demi satu foto yang tercetak di dalam album tersebut, dari Zarina yang masih berumur satu hari, hingga dia berumur dua tahun, semuanya ada di situ.


Senyum terharu, mata berkaca-kaca langsung Ezio rasakan, terlebih lagi dadanya terasa menghangat, karena Zarina waktu bayi sangat mirip sekali wajahnya dengan dirinya ketika waktu bayi juga.


" Zarina mirip sekali dengan saya waktu saya masih bayi ",, kata Ezio sambil mengusap lembut foto Zarina waktu masih bayi.


" Sekarang anda tahu, di mana letak perbedaan antara Zarina dan baby Aara Tuan ",, jawab Alzam kepada Ezio.


" Iya, anda benar Tuan Alzam Chafik, emm bolehkah ini saya bawa pulang Tuan, untuk saya lihat ketika saya merindukan Zarina?? ",, tanya Ezio kepada Alzam.


" Kami masih mempunyai fotonya Tuan Ezio, bisa kami salinkan untuk anda, jika anda mau ",, jawab Syahlaa.


" Boleh, kalau bisa semua foto Zarina tolong berikan kepada saya Syahlaa ",, kata Ezio kepada Syahlaa.


Syahlaa hanya mengangguk saja kepada Ezio, dan Syahlaa lalu meminta tolong kepada Rain, untuk menyalinkan semua fotonya Zarina dari dia masih bayi hingga dia sudah besar seperti sekarang, ke dalam flashdisk kosong yang mereka miliki.


...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...


...***TBC***...