DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
RENCANA


Meninggalkan Rain sejenak, kita beralih ke Ezio sebentar.


Ezio selama ini terus berusaha untuk menyembuhkan sang Papa dengan terapi dan terapi.


Karena keadaan dari Papa Fransisco sudah mulai membaik sejak kemarin, akhirnya Papa Fransisco sudah diijinkan pulang oleh Dokter yang menanganinya pada hari itu juga.


Ezio dan Mama Ingrid merasa sangat senang sekali melihat perkembangan sang Papa yang sudah semakin bagus, walau Papa Fransisco saat ini harus duduk di kursi roda untuk sementara waktu.


Setiap hari ada Dokter pribadi yang datang ke mansion Papa Fransisco, untuk mengterapi syaraf-syarafnya Papa Fransisco.


Apapun akan Ezio lakukan, supaya sang Papa cepat segera sembuh dan bisa dia ajak berkunjung ke Indonesia, menemui Zarina.


Ezio begitu sangat rindu sekali dengan Zarina, yang bisa dia lakukan jika sedang rindu dengan Zarina, hanya memandangi semua fotonya Zarina dan menonton videonya Zarina yang ada di dalam ponselnya.


Walau Ezio bisa menghubungi Alzam, karena Alzam sudah memberikannya kartu namanya, tapi Ezio belum siap, dia rasanya sangat sungkan sekali.


Jadi, yang bisa Ezio lakukan hanya menahan rasa rindunya itu untuk sang buah hati, padahal Alzam sendiri juga tidak apa-apa, jika Ezio akan menghubunginya untuk melihat Zarina.


Ketika Ezio di telepon oleh Rain dan Rain malah mematikannya secara sepihak kemarin, membuatnya merasa kebingungan sendiri.


Terlebih lagi, pertemuan penting dengan Perusahaan Edoardo Company akan berlangsung beberapa hari lagi, membuat Ezio semakin kalut saja, sebab Rain ketika di telepon balik malah tidak bisa.


Setelah Rain menghubungi Faiha kemarin, Rain bergantian menghubungi Ezio, dan Ezio langsung merasa tenang, sebab Rain bisa menemukan jalan ke luar dari permasalahan mereka tentang meeting dengan Perusahaan Edoardo.


Keesokan harinya, karena akan menyambut tamu penting, Ezio mempersiapkan segalanya untuk terlihat lebih baik, dari ruang meeting, jamuan dan juga semua berkas-berkas penting yang di butuhkan, Ezio sudah menyiapkannya semua.


Sampai waktu sudah menunjukkan jam makan siang pun, Ezio masih berdiam diri di dalam ruang kerjanya, untuk mengerjakan berkas-berkas tersebut.


Di saat Ezio sedang sibuk dengan komputernya, tiba-tiba saja dia mendengar pintu ruang kerjanya di ketuk dari luar, dan di saat Ezio sudah menyuruhnya masuk, ternyata yang mengetuk pintunya adalah Barry.


" Ada apa Barry?? ",, tanya Ezio sambil melirik sekilas ke arah Barry.


" Tuan, ini sudah jam makan siang, apa anda tidak mau makan siang terlebih dahulu, atau mau saya pesankan sesuatu?? ",, tanya Barry kepada Ezio.


" Kamu pesankan makanan kesukaanku saja Barry, saya masih banyak pekerjaan yang belum saya kerjakan ",, jawab Ezio tanpa melihat ke arah Barry.


" Baik Tuan Ezio, kalau begitu saya permisi ",, jawab Barry kepada Ezio.


Ezio hanya mengangguk saja kepada Barry, dan Barry pun setelahnya berlalu ke luar dari dalam ruang kerja Ezio, untuk membelikan makan siang seperti yang di inginkan oleh Ezio tadi.


Ezio yang tidak bisa menyelesaikan berkas yang sedang di ketiknya, dia pun mencoba menelpon Rain yang sudah sampai di Yayasan milik Abi Aasim.


Membicarakan sola Rain, ketika Faiha melihat Rain dan Alzam tidak kunjung ke luar dari dalam mobil, membuatnya melangkahkan kakinya ke arah samping kemudi, dan alangkah terkejutnya Faiha ketika melihat Rain mimisan seperti itu.


" Astaghfirullah Kak Rain, kenapa Kak Rain mimisan seperti itu?? ",, tanya Faiha sambil menampilkan wajah terkejutnya.


" Tidak apa-apa Faiha, tenanglah Kakak tidak kenapa-kenapa ",, jawab Rain menenangkan Faiha.


" Ayo Kak Afnan, ajak Kak Rain ke luar dulu dari dalam mobil ",, kata Faiha kepada Alzam.


Sesuai perkataan dari Faiha, Alzam pun langsung mengajak Rain untuk ke luar dari dalam mobilnya.


Setelah ke luar dari dalam mobil, Alzam tentu saja langsung mengajak Rain untuk masuk ke dalam rumah.


Ketika Alzam dan Rain mengucapkan salam, membuat Abi Aasim dan Umi Anum langsung ke luar dari dalam rumah, dan mereka berdua langsung merasa khawatir melihat Rain sedang menutup hidungnya dengan tisu yang sudah berwarna merah.


" Astaghfirullah Nak Rain, kenapa dengan hidungnya?? ",, tanya Umi Anum kepada Rain.


" Tidak apa-apa Umi, ini hanya mimisan biasa ",, jawab Rain kepada Umi Anum.


" Biasa bagaimana Rain, kamu mimisan lho, bukan mengeluarkan darah karena lecet ",, kata Alzam kepada Rain.


" Aku sudah biasa begini Afnan, jika sedang merasa kecapekan, apalagi di tambah sedang banyak pikiran dan pekerjaan, pasti tubuhku langsung ngedrop dan mimisan seperti ini ",, jawab Rain kepada Alzam.


" Fai, tenang ya, Kakak tidak apa-apa ",, kata Rain kepada Faiha, yang sedang menampilkan wajah khawatirnya.


Abi Aasim hanya diam saja, karena Abi Aasim seperti terlihat sedang memikirkan sesuatu, dan ketika berbicara, perkataan dari Abi Aasim sungguh sangat mengejutkan untuk semua orang.


Dan benar saja, Alzam, Faiha, Rain serta Umi Anum, langsung merasa sangat terkejut sekali.


Abi Aasim sudah memikirkan itu sejak semalam, dan Abi Aasim juga tidak sembarangan memutuskan masalah tersebut, terlebih lagi ini tentang masalah pernikahan.


" Apa maksud dari perkataan Abi?? ",, tanya Umi Anum kepada Abi.


" Abi merasa tidak enak Umi, Rain dan Faiha kan belum menikah, tapi Rain sudah sering tidur di Yayasan kita, Abi takut ini bisa menimbulkan fitnah dan perkataan yang kurang sedap dari orang-orang, terutama para tetangga serta penghuni Yayasan di sini Umi ",, jawab Abi Aasim kepada Umi Anum.


" Walau mereka tidak akan ada yang berani menegur, tapi setidaknya kita tahu sendiri, apalagi Keluarga kita, termasuk Keluarga yang di nilai taat beragama oleh semua orang ",, lanjut lagi perkataan dari Abi Aasim kepada Umi Anum dan masih di dengar oleh semua orang.


" Benar apa kata Abi, bagaimana kalau Rain dan Faiha menikah siri saja dulu Abi, sampai surat-surat pengantar pernikahan dari Prancis sudah ke luar ",, saran Alzam kepada Abi Aasim.


" Boleh, Abi setuju, asal ada syaratnya ",, jawab dari Abi Aasim.


" Apa syaratnya Pak Kyai?? ",, tanya Rain kepada Abi Aasim.


" Kamu tetap tanggung jawab menikahi Faiha secara agama dan Negara, karena saya tidak mau anak perempuan saya merasa di rugikan di sini, walau sebenarnya menikah siri adalah sah di mata Agama ",, jawab Abi Aasim kepada Rain.


" Akan tetapi walau sah, tetap saja menikah siri akan merugikan pihak wanita di kemudian harinya ",, kata Abi Aasim lagi kepada Rain.


" Apa kamu mengerti Nak Rain?? ",, tanya Abi Aasim kepada Rain.


" Baik Pak Kyai, saya mengerti, dan saya berjanji akan menikahi Faiha secara agama dan juga Negara jika surat-surat pengantarnya sudah ke luar ",, jawab mantap dari Rain kepada Abi Aasim.


Sedangkan Faiha sendiri, dia hanya bisa diam saja sambil mendengarkan Abi Aasim dan Rain berbicara.


Jujur di dalam hati, Faiha merasa deg-degan sekali, dan juga merasa sangat bahagia, tapi tidak bisa di pungkiri Faiha juga merasa sedikit takut, takut jika Rain tidak akan bisa menepati janjinya, untuk menikahinya secara Agama dan juga Negara.


Semua kembali kepada Qodarullah, jika Rain memang benar-benar jodohnya, semuanya akan di permudah jalannya oleh Allah.


" Saya pegang perkataan kamu Nak ",, jawab Abi Aasim kepada Rain.


Rain langsung mengangguk mantap kepada Abi Aasim.


Ketika mereka semua sedang berbincang, tiba-tiba saja ponsel milik Rain berbunyi dan bergetar, Rain lalu meminta ijin kepada semua orang untuk mengangkat sambungan teleponnya yang ternyata dari Ezio.


Di situ tidak ada Syahlaa, sebab dia sedang beristirahat siang bersama Zarina, di rumah yang mereka tinggali.


Sepeninggal dari Rain, Abi Aasim, Alzam, Umi Anum serta Faiha, langsung membicarakan perihal pernikahan Rain dan Faiha, yang rencananya ingin Abi Aasim laksanakan keesokan harinya, sebab semakin cepat akan semakin lebih baik.


Rain yang sudah selesai menerima telepon dari Ezio, dia kembali lagi ke sofa yang tadi dia duduki.


" Rain, Abi ingin kamu besok menikahi Faiha, bagaimana, apa kamu setuju Rain?? ",, tanya Alzam kepada Rain.


Rain cukup terkejut, sebab itu sangat cepat sekali, dan sebelum dia menjawab perkataan dari Alzam, dia reflek menatap ke arah Faiha terlebih dahulu.


" Baiklah, aku setuju Afnan jika itu yang terbaik, dan bisa menghindarkan kita semua dari fitnah ",, jawab Rain kepada Alzam.


" Ok, semuanya akan saya atur ",, kata Alzam.


" Atur kamu saja Afnan, undang semua orang yang tadi sudah Abi sebutkan sebagai saksi, pernikahan mereka Nak ",, kata Abi Aasim kepada Alzam.


" Baik Abi ",, jawab Alzam kepada Abi Aasim.


" Kalau begitu biarkan Nak Rain beristirahat dulu, pasti dia capek, lihat saja wajahnya masih terlihat pucat begitu ",, kata Umi Anum kepada semua orang.


Abi Aasim dan Alzam hanya mengangguk saja mendengar perkataan dari Umi Anum, sedangkan Faiha dia terus curi-curi pandang ke arah Rain yang juga selalu meliriknya.


Setelahnya, Alzam dan Rain pun langsung kembali ke dalam pendopo ke dua yang Alzam dan Syahlaa tinggali.


Alzam yang sudah sampai di pendopo ke dua, dia langsung saja bercerita tentang Rain dan Faiha kepada Syahlaa yang akan menikah besok, Syahlaa yang mendengar cerita dari sang suami, dia juga setuju serta merasa senang, dan Syahlaa lalu berdoa semoga semuanya lancar dan di mudahkan oleh Allah.


...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...


...***TBC***...