DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Kondisi Dira


Arlan yang sedari semalam tidak bisa tidur karena begitu mencemaskan keadaan gadis yang sudah mengisi relung hatinya kini bisa bernafas dengan lega. Pasalnya pagi ini dokter yang baru saja memeriksa keadaan Dira mengatakan kondisi Dira sudah melewati masa kritisnya bahkan kondisinya menunjukkan perkembangan yang luar biasa, kesehatannya semakin mengalami kemajuan dan akan segera dipindahkan ke ruang perawatan.


Rasa lelah dan kantuknya kini telah menguap begitu saja ketika melihat Dira sudah ada di hadapannya. walaupun gadis itu masih setia memejamkan mata tapi setidaknya dia kini sudah bisa berada di dekatnya tidak lagi terhalang oleh dinding kaca yang menjadi pemisah dan juga memakai baju khusus segala saat ingin melihat kondisi Dira


Arlan meraih tangan Dira yang terasa sangat dingin lalu menggenggamnya


"Dira aku mohon sadarlah, banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu" ucap Arlan yang kini tengah duduk di kursi yang berada di samping brankar Dira


" Maaf... maafkan aku karena baru menyadari perasaan ini, aku tidak akan pernah memaafkan diri ku sendiri jika kamu tidak mau membuka matamu, kau tahu aku tidak pernah merasa takut seperti ini, melihat tubuhmu yang dipenuhi oleh berbagai macam alat medis yang menempel membuat hatiku terasa sakit, aku sendiri tidak tahu kenapa rasanya aku ingin menghajar duriku sendiri yang tidak bisa menjaga dan melindungi mu"


" Andai saja aku bisa menggantikan posisi mu saat ini aku rela, aku tidak sanggup melihat mu seperti ini terus "


Tanpa disadari air mata Arlan menetes begitu saja hingga jatuh mengenai tangan Dira yang tertancap selang infus


" Dira cepatlah buka matamu, nenek dan kakekmu pasti sudah sangat merindukan mu, mereka pasti bertanya-tanya tentang kepergian mu beberapa hari ini. maafkan aku yang tidak bisa bicara jujur pada mereka tentang keadaanmu, aku takut mereka syok melihat keadaan mu yang seperti ini, aku tidak ingin mereka bersedih karena itu aku tidak memberitahu mereka, maafkan aku Dira yang terlalu pengecut" Arlan kembali menitikkan air matanya


Semalam Arlan sempat mendatangi rumah kakek dan neneknya Dira berniat ingin memberitahu keadaan Dira yang sebenarnya namun ketika melihat keadaan neneknya yang terlihat dalam keadaan kurang sehat dan batuk-batuk membuat Arlan membatalkan niatnya dan memilih berbohong mengatakan kalau Dira sedang berada di luar kota dan memintanya untuk menjaga dan memenuhi apa yang dibutuhkan mereka.


Awalnya sang nenek merasa sedih tapi karena sikap perhatian Arlan terhadap mereka membuat nenek dan kakek Dira pun akhirnya kembali ceria.


Mereka pun sangat menyukai Arlan dan menganggapnya sudah seperti cucu mereka sendiri padahal mereka baru beberapa jam mengenal Arlan


" Dira, cepatlah sadar kakek dan nenek mu sudah sangat merindukan mu bukan mereka saja aku juga sangat merindukan si gadis cereboh yang selalu mengusik hati dan pikiran ku selama ini" Arlan meraih tangan Dira dan mengecupnya


" Aku merindukan mu Dira!" Arlan menatap wajah pucat Dira yang masih memejamkan matanya


Ceklek


Pintu ruangan terbuka masuk seorang dokter dan suster yang mengekor di belakangnya


" Dokter" Arlan buru-buru mengusap air matanya dan segera berdiri dari duduknya


" Pak Arlan!" sapa dokter Syarif


" Maaf ya pak saya mau periksa pasien dulu, silahkan tunggu di luar dulu ya pak!" ucap dokter Syarif dengan sopan


" Baik dokter"


Arlan keluar dari ruangan Dira dan duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan tersebut


Setelah selesai memeriksa keadaan Dira, dokter Syarif pun keluar dari ruangan tersebut bersama suster yang menemaninya


Arlan langsung beranjak dari duduknya setelah melihat dokter Syarif sudah keluar


" Dokter bagaimana perkembangannya?"tanya Arlan antusias


" Alhamdulillah, keadaannya semakin mengalami peningkatan. ajak terus dia berbicara walaupun saat ini dia dalam keadaan tidak sadar tapi dari alam bawah sadarnya dia masih bisa mendengar suara-suara orang yang berada di dekatnya, terus beri motifasi pada dirinya agar cepat sadar dan mau membuka matanya" tutur dokter Syarif


" Baik dokter, terima kasih banyak" ucap Arlan


" Sama-sama" sahut dokter Syarif lalu pamit untuk pergi


Setelah dokter Syarif pergi Arlan pun kembali masuk ke dalam ruangan Dira


Arlan duduk di kursi semula menatap lekat wajah Dira " Kamu bisa mendengar suara ku tidak?" tanya Arlan dengan tangan yang sudah menggenggam jemari dingin Dira


Ditatapnya wajah pucat Dira dengan penuh kasih " Kalau kamu bisa mendengar suara ku, ada hal yang ingin aku katakan kepada mu tapi janji ya setelah mendengar suara ku nanti kau harus segera bangun" ucap Arlan


" Aku ingin mengatakan apa yang aku rasakan saat ini, apa boleh?' Arlan tertawa sendiri lalu menatap Dira kembali dengan tatapan yang tidak biasanya


" Aku enggak tahu sejak kapan merasakan sesuatu yang berbeda setiap kali bertemu dengan mu, aku sering marah dan membentakmu itu semata-mata karena aku merasa gugup dan juga malu kalau kau tahu bagaimana perasaan ku ini kepadamu. mungkin aku terlalu egois dan terlalu pengecut karena tidak berani berhadapan dengan mu apalagi untuk menyatakan perasaan ku yang sebenarnya terhadap mu, aku sungguh tidak memiliki keberanian itu. mungkin jika kau benar-benar bisa mendengar ucapan ku saat ini kau pasti akan mentertawakan aku, iya kan?" Arlan menarik napasnya dalam-dalam


" Cepatlah buka matamu Dira, katakan pada ku apa yang harus aku lakukan agar kau segera sadar dan mau melihat ke arahku?" ucap Arlan yang berubah sendu. Dadanya semakin terasa sesak karena melihat Dira yang masih saja enggan membuka matanya


" Dira aku... aku.. aku mencintaimu!" ucap Arlan seraya menitikkan air matanya


Tubuh lelaki itu bergetar hebat, meskipun dokter sudah mengatakan kalau keadaan Dira kini sudah mengalami peningkatan untuk sembuh tetap saja Arlan merasa sedih menatap wajah Dira yang pucat dan tangan yang terasa begitu dingin.


" Aku mohon cepatlah sadar Dira, jangan buat aku takut" ucap Arlan disela Isak tangisnya


Tiba-tiba tubuh Dira kejang-kejang dan sontak saja hal itu membuat Arlan tersentak kaget dan juga panik.


" Dira kamu kenapa? Dira... Dira!" teriak Arlan disela kepanikannya terus memanggil nama Dira


Arlan lalu dengan cepat menekan tombol darurat yang berada di atas kepala Dira


Tidak berapa lama dokter Syarif datang bersama beberapa suster ikut masuk ke dalam ruangan tersebut


" Tolong bapak keluar dulu ya pak!" ujar seorang suster menyuruh Arlan untuk keluar ruangan sedangkan dokter Syarif kini tengah memeriksa kondisi Dira


Di luar ruangan Arlan begitu panik dan khawatir dengan keadaan Dira yang tiba-tiba kejang.


Arlan mengusap wajahnya kasar dan berjalan mondar-mandir di depan ruangan dengan hati yang tidak tenang


" Lan loe sedang apa? kenapa Loe malah mundar-mandir begitu? bagaimana keadaan Dira?" tanya Al yang baru saja sampai bersama Ayla


Arlan menghela nafasnya berat lalu mendudukkan dirinya kasar di kursi tunggu yang berada di depan ruangan itu.


Al dan Ayla saling melempar pandangan apalagi saat ini Arlan tengah menutup wajahnya dengan kedua tangannya


" Ada apa Lan?" tanya Al seraya menepuk bahu Arlan


" Di.. Dira tadi tiba-tiba mengalami kejang-kejang" jawab Arlan dengan wajah yang masih menunduk


" Kejang-kejang? bukannya tadi kata kak Arlan kondisi Dira sudah mengalami kemajuan?" tanya Ayla yang merasa sangat mengkhawatirkan kondisi Dira


" Tadi memang kata dokter kondisi kesehatan Dira sudah mengalami kemajuan tapi enggak tahu kenapa tiba-tiba aja dia langsung kejang-kejang seperti itu" jawab Arlan dengan sendu


" Terus sekarang bagaimana keadaannya? kenapa loe malah duduk di sini?" tanya Al


" Di dalam sedang ada dokter yang tengah menangani Dira, semoga aja Dira dalam keadaan baik-baik aja!" ucap Arlan nampak frustasi


" Berdoa saja, semoga Dira cepat segera sadar" ucap Al


Ayla kini tengah duduk di kursi yang tidak jauh dari Arlan, air matanya pun kini sudah tidak dapat ia bendung lagi mendengar kabar Dira yang tadi sempat kejang-kejang membuat hatinya begitu takut.


" Sayang, sudah jangan menangis lagi ya, tidak baik untuk kesehatan kandungan kamu. percayalah Dira pasti akan segera sembuh. kamu harus kuat jika kamu sendiri lemah seperti ini bagaimana dengan Dira, dia membutuhkan mu sayang, membutuhkan semangat dari kamu!" tutur Al berusaha untuk menghibur isterinya yang sedang menangis


" Tapi mas aku takut, aku takut Dira tidak bisa bertahan" ucap Ayla dengan terisak


" Cukup Ayla, jangan bicara lagi, Dira gadis yang kuat aku yakin dia pasti bisa bertahan. camkan itu!" Marah Arlan seraya beranjak dari duduknya dan menatap tajam kepada Ayla


" Lan loe apa-apaan sih, kok loe malah bentak-bentak isteri gue ?"marah Al yang tidak terima Ayla dibentak oleh Arlan


Arlan bergeming dan tidak menanggapi ucapan Al matanya terus terfokus kepada pintu yang masih tertutup rapat


" Mas sudah, mungkin suasana hati kak Arlan sedang tidak baik. aku yang salah mas karena sudah berbicara sembarangan" ucap Ayla meredakan tangisnya dan berusaha untuk kuat


Tidak berapa lama pintu ruangan pun terbuka " Dokter bagaimana keadaan Dira? kenapa tadi dia bisa kejang-kejang seperti itu?" tanya Arlan yang sudah berada di hadapan sang dokter


Dokter Syarif tersenyum sekilas lalu menepuk bahu Arlan


" Teruslah berdoa tunjukkan betapa besarnya rasa sayang dan cinta mu terhadap calon istrimu itu semoga setelah ini Dira akan segera membuka matanya!" ucap sang dokter lalu pamit pergi di ikuti beberapa suster yang memang datang bersamanya


Setelah kepergian dokter Syarif, Arlan pun segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan Dira dan seketika mata Arlan pun terbelalak