
Deg
Dira melotot setelah sadar dengan apa yang sudah ia lakukan, malu tentu saja iya, merasa marah pun ada, kenapa disaat status pun belum jelas atasannya itu sudah berani menciumnya.
Ingin sekali Dira mengumpat dan memaki dirinya sendiri yang dengan mudahnya terbuai dengan sentuhan lembut Arlan yang notabene hanyalah berstatus atasannya
Dira segera turun dari gendongan Arlan seketika keduanya merasakan sama-sama canggung dan salah tingkah
Dira dengan terpaksa langsung masuk ke dalam kamar mandi walaupun harus menahan sakit di bagian punggungnya tapi itu lebih baik dari pada ia menahan malu di hadapan laki-laki yang masih berstatus atasannya itu dan belum jelas status kedepannya
Selesai dengan urusannya di dalam kamar mandi Dira pun langsung keluar dan betapa terkejutnya Dira saat melihat Arlan yang ternyata sudah berdiri di depan pintu
" Pak Arlan sedang apa disini!" tanya Dira sedikit gugup
" Sudah selesai?" bukan menjawab Arlan malah balik bertanya dan Dira mengangguk pelan
" Biar aku menggendong mu" ucap Arlan yang hendak membungkukkan tubuhnya
" Ti.. tidak usah pak, saya bisa jalan sendiri" sahut Dira menolak dengan sopan seraya menggeser badannya memberi jarak
Dengan langkah pelan Dira berjalan menuju tempat tidur, selang infusnya sudah di lepas membuat gadis itu kini mudah untuk bergerak
Besok adalah jadwal terakhir Dira untuk terapi jika hasilnya sudah jauh lebih baik maka sudah diperbolehkan pulang
Dira naik ke atas tempat tidurnya, Arlan terus saja memperhatikan gerakan Dira yang tengah menyelimuti tubuhnya dengan selimut
" Apa kamu mau istirahat?" tanya Arlan dan Dira hanya menjawab dengan anggukan kecil
" Emmm.... maaf soal yang tadi" ucap Arlan datar membuat Dira langsung menoleh ke arah laki-laki tersebut
Saat kedua mata mereka bertemu dengan cepat Dira langsung membuang pandangannya
" Apa kamu marah?" tanya Arlan membuat Dira mendengus kesal
" Jelas aku marah, kenapa dia tiba-tiba menciumku padahal kami tidak memiliki hubungan apa-apa dan sekarang bahkan dia malah bertanya seperti itu" batin Dira
" Kenapa diam saja?" tanya Arlan lagi
Dira menghela nafas berat lalu menatap Arlan dengan tatapan yang sulit di artikan
" Boleh aku tahu kenapa pak Arlan melakukan itu?" tanya Dira dengan gemuruh hati yang berkecamuk saat pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirnya
Arlan terdiam, bingung harus menjawab apa. haruskah dia mengutarakan isi hatinya yang sebenarnya pada gadis yang berada di hadapannya saat ini atau menunggu waktu yang tepat
Arlan nampak bimbang namun ucapan Dira membuatnya menatap ke arah gadis itu
" Apa sebenarnya tujuan pak Arlan melakukan ini semua pada saya? apa hanya sekedar ingin membalas budi karena saya sudah menyelamatkan Ayla dan juga bayinya? jika memang benar saya rasa semuanya sudah jauh dari kata cukup, selama ini pak Arlan sudah banyak meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjaga dan merawat saya jadi saya pikir semua sudah impas dan katakan pada Ayla dan pak Al saya ucapkan banyak terima kasih, jadi pak Arlan mulai besok bisa bekerja dengan tenang kembali karena tanggung jawab pak Arlan untuk merawat saya sudah selesai. besok saya akan pulang jadi saya ucapkan banyak terima kasih kepada pak Arlan yang sudah banyak membantu saya " tutur Dira panjang lebar
Arlan membulatkan matanya saat mendengar penuturan Dira
" Apa kamu marah?" tanya Arlan
" Marah? untuk apa marah? mana mungkin saya marah sama pak Arlan yang merupakan atasan saya" jawab Dira dengan menahan rasa sesak di hatinya dan pura-pura tersenyum
" Apa kamu marah dengan sikap ku yang sudah lancang menci_" belum selesai dengan ucapannya Dira sudah lebih dulu memotong kata-katanya
"Sudah jangan bahas itu lagi, anggap saja tidak pernah terjadi. bukankah hal itu sesuatu yang sudah biasa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan dengan bersikap semaunya kepada bawahannya? jadi untuk kali ini saya tidak akan menganggap hal itu pernah terjadi sudah sebaiknya pak Arlan juga melupakan hal bodoh itu" ucap Dira terkekeh kecil yang langsung membuat Arlan semakin tertohok
" Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Arlan dengan melipat tangannya di dada
" Status apa maksud kamu?" tanya Arlan
" Status sebagai anak yatim-piatu yang hanya tinggal di sebuah rumah gubuk bersama kakek dan nenek ku dan juga karyawan magang yang enggak tahu kapan lulusnya" jawab Dira sambil berusaha untuk tersenyum
" Lalu kenapa memangnya dengan itu semua, apa ada yang salah dengan status anak yatim-piatu?" Arlan kembali bertanya
" Bukan hanya kamu yang berstatus anak yatim-piatu aku pun sama dan kamu jauh lebih beruntung karena masih memiliki kakek dan nenek mu yang begitu menyayangi mu " lanjut Arlan
" Aku pun anak yatim-piatu bahkan di usiaku yang baru menginjak usia 7 tahun kedua orang tua ku meninggal akibat kecelakaan dan aku tidak memiliki siapapun di dunia ini, bahkan aku sampai tinggal di sebuah panti asuhan sampai akhirnya aku bertemu dengan keluarga Kusuma dan mereka lah yang sudah membantu ku untuk sekolah sampai lulus kuliah bahkan hingga sekarang aku yang kini menjadi asisten Al sampai detik ini" cerita Arlan membuat Dira terhenyak mendengarnya
Ternyata nasib keduanya sama sudah tidak memiliki orang tua.
" Aku benar-benar minta maaf atas kelancangan sikap ku yang tadi, jujur saja itu aku lakukan karena aku sudah tidak tahan lagi menahan perasaan ku yang ingin segera memiliki mu Dira" ucap Arlan dengan degup jantung yang bergemuruh
Dira terkejut dan terbelalak mendengar ungkapan Arlan
" Dira maukah kamu menikah dengan ku dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?" ucap Arlan yang kini sudah duduk di tepi tempat tidur meraih tangan Dira yang terasa begitu dingin karena menahan kegugupannya
Dira nampak syok dan menatap tak percaya pria yang merupakan atasannya itu tengah melamarnya, apakah ini mimpi? batin Dira
Melihat Dira yang nampak diam saja Arlan seketika merasa khawatir, apakah Dira marah dan akan membencinya tapi sekuat hati Arlan berusaha untuk menerima apapun yang menjadi keputusan Dira nantinya
" Aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang" ucap Arlan
" Kenapa pak Arlan mengatakan hal itu, apa pak Arlan yakin dengan perasaan bapak terhadap saya?" tanya Dira yang masih belum percaya dengan apa yang Arlan katakan
" Tentu saja yakin" jawab Arlan tegas
" Atas dasar apa? apa pak Arlan cinta sama saya?" tanya Dira yang seketika membuat Arlan terdiam
Cinta? apakah dia sudah mencintai gadis itu? Arlan pun masih belum menyadari perasaannya terhadap Dira seperti apa dan sebesar apa?
" Apa pak Arlan tidak bisa menjawabnya? jika ragu sebaiknya pak Arlan pikirkan baik-baik ucapan bapak tadi, saya ini cuma karyawan magang biasa loh pak yang lulus kuliah juga belum tentu, jadi jangan buang-buang waktu pak Arlan dengan gadis seperti saya ini" ucap Dira sedikit diselingi candaan dan Arlan menarik napas panjang mencerna ucapan Dira
" Aku memang tidak tahu bagaimana perasaan aku yang sebenarnya terhadap mu Dira tapi aku hanya ingin kamu tahu satu hal, saat kamu berbaring lemah dalam keadaan tidak sadarkan diri bahkan ketika dokter menyatakan kalau kamu dalam keadaan kritis aku merasakan separuh jiwaku seakan lepas dari ragaku, hatiku sakit melihat beberapa alat medis menempel di seluruh tubuh mu, seandainya bisa ingin rasanya aku menggantikan posisimu waktu itu, setiap hari aku selalu berdoa dan berharap kamu segera membuka matamu, walaupun kecil kemungkinan tapi aku selalu optimis jika kamu pasti akan segera sadar dan melihat keberadaan ku" ungkapan hati Arlan
Dira terdiam mendengarkan ungkap hati atasannya itu dengan mata yang sudah menganak sungai
" Aku tidak tahu apakah itu yang dinamakan cinta? karena setiap kali bersama mu aku merasakan perasaan begitu nyaman. perasaan yang belum pernah aku rasakan pada wanita manapun, kamulah satu-satunya wanita yang sudah menjungkir balikkan duniaku Dira bersama mu membuat hariku lebih berwarna jadi sekali lagi aku ingin mengatakan kepada mu Dira" Arlan menjeda ucapannya
" Dira maukah kau menikah dengan ku?" ucap Arlan kembali kali ini Arlan menatap manik mata Dira penuh dengan cinta dan Dira bisa merasakan ketulusan Arlan dari sorot matanya yang tidak ditemukan kebohongan
Dira melepaskan genggaman tangan Arlan lalu menundukkan wajahnya
" Ma... maaf pak sepertinya aku tidak bisa" ucap Dira yang seketika membuat raut wajah Arlan berubah
Jlep
Arlan membuang pandangannya ke sembarang arah menahan rasa sakit hatinya atas penolakan Dira, seakan perjuangannya selama ini berakhir sia-sia. cinta yang mekar kini sudah harus layu sebelum dipetik
Arlan dengan wajah lesu langsung beranjak berdiri
" Maafkan saya pak!" ucap Dira
Arlan tersenyum kecut menahan gejolak hatinya yang hancur berkeping-keping