
Saat ini semua orang sedang pada berdiri semua, ketika Alzam membangunkan Ezio, dan Alzam sesama laki-laki, dia bisa melihat apa arti dari air mata yang sedang di ke luarkan oleh Ezio.
Alzam melihat ketulusan dan benar-benar penyesalan yang mendalam di mata Ezio.
" Jangan seperti ini Tuan Ezio, anda sangat tidak pantas melakukannya ",, kata Alzam ketika sudah membangunkan Ezio.
" Tapi saya merasa pantas Tuan, karena kesalahan yang sudah saya perbuat kepada Syahlaa, saya sendirilah yang membuat saya tidak mempunyai harga diri lagi ",, jawab Ezio kepada Alzam.
" Jangan berbicara seperti itu Tuan, saya bukan Tuhan, dan Syahlaa pun juga sama seperti kita semua, jadi yang bisa menilai tinggi rendahnya derajat seseorang cuma Tuhan saja ",, kata Alzam kepada Ezio.
" Anda orang baik Tuan, tidak seperti saya, dan saya merasa senang, setidaknya Zarina bisa mendapatkan Ayah sambung yang baik seperti anda ",, kata Ezio kepada Alzam sambil tersenyum.
Alzam yang mendengar pujian dari Ezio, dia langsung saja tersenyum.
" Bolehkah saya memeluk anda Tuan, sebagai permintaan maaf saya kepada anda ",, kata Ezio lagi kepada Alzam.
" Silahkan Tuan ",, jawab Alzam dengan ramah sambil tersenyum.
Ezio pun langsung saja memeluk Alzam dengan erat sekali, untuk meluapkan rasa bersalahnya kepada Alzam.
Mereka berpelukan dan di saksikan oleh Syahlaa, Rain, dan juga Lionel.
Setelah puas memeluk Alzam, Ezio langsung beralih menatap ke arah Syahlaa lagi, yang masih berdiri di samping Alzam.
" Syahlaa, maukah kamu memaafkan atas semua kesalahan yang sudah saya perbuat dulu kepadamu?? ",, tanya Ezio dengan lembut kepada Syahlaa.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Ezio, Syahlaa langsung memeluk erat lengan Alzam sambil menatap ke arahnya.
Alzam yang melihat wajah Syahlaa seperti itu, dia langsung saja mengangguk, sambil tersenyum kepada Syahlaa.
" Baiklah Tuan Ezio, saya akan memaafkan anda, tapi dengan satu syarat ",, jawab Syahlaa kepada Ezio.
" Apapun syaratnya, saya akan memenuhinya Syahlaa, saya berjanji ",, kata mantap dari Ezio kepada Syahlaa.
" Jangan pisahkan saya dengan Zarina, karena sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan anda mengambil dia dari saya!! ",, kata Syahlaa kepada Ezio.
" Baik Syahlaa, saya berjanji kepadamu, tapi saya juga punya satu permintaan kepadamu, apakah kamu mau mengabulkannya untukku?? ",, kata Ezio kepada Syahlaa.
" Apa itu?? ",, tanya Syahlaa kepada Ezio.
" Tolong ijinkan saya, jika saya ingin bertemu dengan Zarina, jangan jauhkan dia dari saya, karena setelah mengetahui Zarina benar-benar anak kandung saya, lebih baik saya mati daripada harus berpisah dengannya, sama seperti dirimu Syahlaa ",, jawab Ezio kepada Syahlaa.
Sebelum menjawab, Syahlaa mengalihkan pandangannya lagi ke arah Alzam.
Dan Alzam langsung saja mengangguk kepada Syahlaa, jika dia juga mengijinkan apa yang diinginkan oleh Ezio tadi.
" Baiklah, jika itu memang permintaan anda Tuan Ezio, akan saya ijinkan, tapi ingat,!! anda harus memenuhi semua janji anda tadi, karena anda adalah seorang laki-laki yang di pegang penuh semua perkataannya!! ",, jawab Syahlaa kepada Ezio.
" Terimakasih Syahlaa, saya akan memenuhi semua janji saya kepadamu, karena saya bukan orang yang suka ingkar janji ",, kata Ezio kepada Syahlaa sambil mengangguk dan juga tersenyum.
" Anda silahkan duduk kembali Tuan Ezio, mari, tidak enak jika kita berbicara sambil berdiri terus seperti ini ",, kata Alzam dengan ramah kepada Ezio.
Ezio hanya tersenyum tipis, dan dia lalu kembali duduk di sofa yang tadi dia duduki.
" Jika boleh tahu, di mana Zarina?? ",, tanya Ezio kepada Alzam.
" Dia sedang tidur di dalam kamar ",, jawab Alzam kepada Ezio.
" Tuan ....... ",, kata Ezio yang tidak tahu siapa nama Alzam.
" Perkenalkan nama saya Alzam Chafik Afnan Hasanain Tuan Ezio, silahkan anda mau memanggil saya siapa?? ",, kata Alzam yang mengerti perkataan Ezio.
" Alzam Chafik....?? ",, kata Ezio seperti mengingat sesuatu.
" Apakah anda seorang Kapten kapal pesiar Tuan Alzam?? ",, tanya Ezio kepada Alzam.
" Iya, dulu, dan bagaimana anda bisa tahu akan hal itu Tuan?? ",, tanya Alzam kepada Ezio dengan ekspresi yang cukup terkejut.
Tidak cuma Alzam saja, tapi Syahlaa dan juga Rain bahkan Lionel, juga ikut terkejut ketika Ezio bisa mengetahui pekerjaan dari Alzam.
" Anda pasti lupa, karena ini sudah cukup lama sekali, sekitar lima tahun yang lalu ",, jawab Ezio kepada Alzam.
" Dulu saya pernah menyewa kapal pesiar, tapi bukan atas nama saya, tapi atas nama teman saya, dan ketika saya diberitahu siapa Kapten yang mengoperasikan kapalnya, saya hanya tahu namanya saja, Alzam Chafik A. H ",, kata Ezio lagi kepada Alzam.
" Iya, Alzam Chafik A. H itu nama saya, karena mereka lebih suka memanggil saya dengan panggilan Alzam Chafik ketika berlayar ",, jawab Alzam dengan ramah kepada Ezio.
Sekarang Alzam dan semua orang sudah tahu, bagaimana Ezio bisa mengetahui pekerjaannya yang dulu sebagai seorang Kapten kapal.
" Oh ya sayang, tolong buatkan minum untuk tamu kita dong ",, kata Alzam kepada Syahlaa.
" Baiklah Ayah ",, jawab Syahlaa kepada Alzam.
" Eh, tidak perlu Syahlaa, saya hanya sebentar saja ke sininya ",, cegah Ezio kepada Syahlaa.
Syahlaa pun langsung kembali duduk lagi, ketika di cegah oleh Ezio.
" Selain untuk meminta maaf, saya juga ingin menyampaikan sesuatu lagi kepada kalian semua, terutama kamu Syahlaa dan juga Zarina ",, kata Ezio lagi kepada Syahlaa.
" Apa itu?? ",, tanya Syahlaa kepada Ezio.
" Bolehkah saya mengajak Zarina untuk bertemu dengan Papa Syahlaa, karena Papa benar-benar sangat ingin melihat Zarina ",, jawab Ezio kepada Syahlaa.
" Tidak!! ",, dengan tegas Syahlaa menjawab.
" Saya tidak mengijinkannya, bisa jadi itu cuma akal-akalan anda saja Tuan Ezio, dan lalu anda ingin membawa kabur Zarina lagi dari sisi saya!! ",, lanjut lagi perkataan Syahlaa kepada Ezio.
Ezio langsung saja menggelengkan kepalanya kepada Syahlaa.
" Tidak Syahlaa ",, kata Ezio kepada Syahlaa.
" Papa saat ini benar-benar sedang s3k4r4t Syahlaa, nyawa Papa sudah berada di ujung tanduk, dan dia benar-benar ingin melihat Zarina, sebelum dia meninggal, karena jantung Papa sudah sangat lemah sekali ",, kata Ezio lagi kepada Syahlaa.
" Benar Syahlaa, Tuan Fransisco keadaannya sudah sangat mengkhawatirkan sekali, tolong ijinkanlah Zarina untuk bertemu dengannya satu kali ini saja ",, kata Lionel ikut berbicara juga.
Alzam dan Syahlaa langsung saling pandang, begitupun dengan Rain, di mata mereka berdua Alzam, Syahlaa dan juga Rain melihat tidak ada kebohongan sama sekali.
Namun Alzam dan Syahlaa, masih merasa ragu dengan perkataan dari Ezio dan Lionel, terutama Ezio, karena mereka berdua takut jika di pisahkan lagi dari Zarina.
" Tolong Syahlaa, sekali ini saja, ampuni semua kesalahan Papa, karena Papa sudah benar-benar mendapatkan balasan atas semua kesalahannya dulu kepadamu ",, kata Ezio dengan sangat melas sekali.
" Dan Papa ingin sekali melihat Zarina sebelum dia meninggal, tolong Syahlaa, percayalah kepadaku ",, kata Ezio lagi sambil menangis cukup pilu.
Alzam yang sedang memandang Syahlaa, dia langsung saja mengangguk untuk mengijinkan Zarina di ajak pergi oleh Ezio.
" Percayalah ",,
Begitulah yang di katakan oleh Alzam sambil menggenggam erat tangan Syahlaa.
Syahlaa langsung saja mengangguk kepada Alzam, dan dia mencoba percaya perkataan dari sang suami.
" Tuan Ezio ",, kata Alzam kepada Ezio.
Ezio langsung saja mengusap air matanya untuk mendengarkan perkataan dari Alzam.
" Kami akan mengijinkan anda membawa Zarina, asal kami juga ikut dengan anda ke rumah sakit ",, jawab Alzam kepada Ezio.
Wajah Ezio langsung terlihat sangat cerah sekali mendengar jawaban dari Alzam.
" Baik Tuan Alzam Chafik, saya setuju, apapun perkataan anda, akan saya turuti, asal saya di ijinkan membawa Zarina saat ini juga ",, jawab senang Ezio kepada Alzam.
Belum sempat Alzam melanjutkan lagi perkataannya, tiba-tiba saja pintu kamar yang dekat dengan ruang tamu terbuka dari dalam.
Dan hal itu langsung mengalihkan pandangan dari semua orang, ke arah orang yang baru saja ke luar dari dalam kamar.
Dan orang itu ya tentu saja Zarina, yang baru saja bangun dari tidur lelapnya.
" Mama ",, kata Zarina dengan wajah khas bangun tidurnya.
Hati Ezio terenyuh, mata dia berkaca-kaca melihat wajah menggemaskan dari Zarina, yang benar-benar lucu ketika baru saja bangun tidur.
Ezio jadi teringat, ketika Zarina tidur bersamanya kemarin, ingatan itu akan selalu membekas di ingatan Ezio.
" Anak Mama sudah bangun ",, kata Syahlaa langsung memangku Zarina.
Mata Zarina yang sudah terbuka cukup lebar, dia langsung melihat ada Ezio juga di antara mereka semua, dan Zarina langsung menutupi wajahnya dari Ezio, yang sedang tersenyum manis kepadanya.
" Zarina sayang ",, panggil Ezio kepada Zarina.
" Enggak mau takut ",, jawab Zarina sambil menutupi wajahnya menggunakan boneka miliknya dan menggelengkan kepalanya.
Alzam yang melihat Zarina masih takut dengan Ezio, dia langsung saja mengambil alih Zarina dari pangkuan Syahlaa.
" Sini anak Ayah ",, kata Alzam kepada Zarina.
" Kenapa Zarina takut dengan Paman itu?? ",, tanya Alzam kepada Zarina yang sudah duduk di pangkuannya, sambil menggunakan Bahasa Prancis.
" Tidak mau, nanti di ajak pelgi jauh lagi, Zalina tidak mau Ayah, Zalina cuma mau sama Ayah dan Mama, tidak mau sama Paman itu ",, jawab jujur dan polos dari Zarina kepada Alzam, juga menggunakan Bahasa Prancis.
Dan jawaban Zarina, juga di dengar jelas oleh semua orang yang ada di situ.
Ada rasa bersalah di dalam hati Ezio, ketika mendengar jawaban jujur dari Zarina tadi.
Ezio lalu beranjak berdiri dari duduknya dan berlutut di hadapan Zarina yang sedang duduk di pangku Alzam.
" Zarina sayang ",, kata Ezio sambil mengusap lembut pipi Zarina.
Walau Zarina masih merasa takut dengan Ezio, tapi karena berhubung ada Alzam dan Syahlaa di situ, dia hanya diam saja dan memandang Ezio dengan sangat lekat sekali.
" Maafkan kesalahan Papi yang sudah memisahkanmu dengan Mama ya sayang, Papi janji, Papi tidak akan menjauhkanmu lagi dengan Mama, Papi janji sayang ",, kata Ezio dengan sangat lembut sekali.
" Sebagai permintaan maaf Papi, maukah Zarina memeluk Papi?? ",, kata Ezio sambil menahan air matanya supaya tidak menetes.
Zarina langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah Alzam, ketika mendengar perkataan dari Ezio.
" Zarina sayang, jika ada orang yang berbuat baik kepada kita, kita harus membalasnya dengan perbuatan baik juga, dan jika ada yang berbuat jahat kepada kita, janganlah kita membalasnya, akan tetapi berilah pelukan hangat, rangkullah dia, supaya dia bisa tersadar dari kesalahannya ",, nasihat Alzam kepada Zarina.
" Jadi, Zarina tidak boleh mengabaikan orang yang sudah meminta maaf kepada Zarina ",, lanjut lagi perkataan Alzam kepada Zarina.
" Sana peluk Papi dulu dong ",, kata Alzam sambil menurunkan Zarina dari atas pangkuannya.
Zarina ragu, dia memandang Alzam lagi sebelum memeluk Ezio.
Sedang Ezio sudah menahan rasa haru di dalam dadanya, ketika mendengar nasihat dari Alzam kepada Zarina tadi.
Dan Alzam yang melihat Zarina melihat ke arahnya, dia langsung saja tersenyum manis sambil mengangguk.
Hingga akhirnya, Zarina pun mau memeluk Ezio tanpa ada rasa takut sama sekali di dalam hatinya, berkat dorongan dan pengertian dari Alzam tadi.
Ezio memeluk Zarina dengan sangat erat sekali, tanpa malu, air mata Ezio langsung mengalir dengan sangat deras sekali dari ke dua kelopak matanya.
Hingga membuat Lionel sang sahabat yang tidak pernah menangis, sekarang ikut meneteskan air matanya, karena terharu.
Begitupun dengan Rain, yang juga sama-sama terharu dan juga terenyuh melihat pengorbanan Ezio.
Ezio yang sudah melepaskan pelukan tubuh Zarina, dia langsung saja mencium dahi Zarina, sambil tersenyum sangat manis sekali.
Dan sekali lagi, Ezio membawa Zarina ke dalam pelukannya dengan perasaan begitu sangat senang sekali.
" Anak Papi ",, kata Ezio sambil memeluk Zarina.
Sedang Zarina kecil, dia hanya diam tidak tahu apa-apa, yang dia tahu cuma ikut memeluk Ezio yang sedang memeluknya.
Alzam dan Syahlaa, mereka tersenyum tipis melihat kedekatan Ezio kepada Zarina.
" Paman menangis?? ",, tanya Zarina kepada Ezio.
" Tidak sayang, Papi cuma merasa rindu dengan Zarina ",, jawab Ezio kepada Zarina.
" Maukah Zarina Papi gendong?? ",, tanya Ezio kepada Zarina.
Zarina reflek langsung mengangguk kepada Ezio.
Melihat anggukan Zarina, Ezio reflek langsung bangun dari berlututnya, untuk menggendong Zarina ke dalam pelukannya.
" Jangan pergi lagi dari kehidupan Papi sayang, Papi bisa gila nanti, peluklah Papi seperti ini terus sampai jantung ini tidak berdetak lagi di dalam tubuh Papi ",, kata batin Ezio sambil memeluk Zarina yang sedang berada di dalam gendongannya.
Ezio tidak lupa juga mencium pucuk kepala Zarina, yang tertutup hijab dengan sangat lembut sekali.
...⚕️⚕️⚕️⚕️⚕️⚕️⚕️⚕️⚕️⚕️⚕️⚕️⚕️...
Jujur author menangis mengetik bab ini, karena mencoba memposisikan sebagai Ezio😭.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...