
Mina membulatkan matanya sempurna saat tahu siapa yang dengan seenaknya menarik tangannya begitu saja
" Lepas!" sentak Mina saat dirinya sudah berada di sebuah taman yang ada di gedung tersebut
" Mau kemana kamu?" tanya pria yang kini tengah memasukkan tangannya ke saku celana dengan seringai senyum mengejek
" Kan tadi udah di bilang mau pulang, lagian ngapain sih pake acara ngintilin segala, awas loh ada yang marah enggak tanggung jawab aku sih" Sergah Mina
" Enggak akan ada yang marah, tenang aja udah jinak" sahutnya
" Udah ah aku mau balik, sana masuk lagi nanti dicariin ayang mbeb pujaan hatinya menghilang"
" Siapa bilang orang dia udah tahu, tuh orangnya!"
Mina menoleh ke arah yang di tunjuk dan benar saja ada seorang wanita yang sedang tersenyum seraya melambaikan tangannya
" Aku enggak enak mas udah sana samperin kasihan itu nungguin" ucap Mina tidak enak hati
" Yang lebih enggak enak lagi aku kalau membiarkan kamu pulang dalam keadaan hati yang sedang tidak baik-baik saja " sahutnya membuat Mina tercengang
Deg
" Jangan ngaco deh sok tahu jadi orang" ketus Mina mengelak
" Aku tahu kamu tuh orangnya kayak gimana, walaupun perkenalan kita cukup singkat tapi aku tahu bagaimana karakter seorang Mina Adzkia"
" Ihh... sok jadi cenayang, tebakan mas salah aku baik-baik aja dan aku mau pulang sekarang karena masih ada urusan penting" Mina hendak pergi namun langkahnya terhenti
" Urusan apa? menata kembali hati yang kini sedang retak?"
Mina menghela napas panjang lalu menjawab tanpa menoleh
" Jangan asal bicara, hati aku masih utuh dan tidak ada yang retak "
" Yakin?"
"Iya, aku enggak apa-apa mas jadi tidak usah mengkhawatirkan aku begitu, aku tidak mau terjadi kesalahpahaman yang berujung kemarahan dan pertengkaran!"
" Wajar aku khawatir sama kamu Mina karena aku sudah menganggap kamu seperti adik aku sendiri "
Glek
Mina langsung membalikkan badannya menatap pria yang kini tengah tersenyum kearahnya
" Mas_?"
" Apa, jangan pura-pura terharu kayak gitu!" selorohnya
" Siapa yang terharu, aku cuma enggak mau aja terjadinya kesalahpahaman dengan sikap mas yang seperti ini ke aku, karena bagaimanapun wanita itu hatinya mudah banget tergores mas walaupun dia bilang enggak apa-apa padahal hatinya bergemuruh menahan sesak" ucap Mina yang tanpa sadar seolah tengah mengatakan isi hatinya saat ini
" Dia tidak akan marah, karena mas sudah mengatakan sama dia buat mas kamu adalah adik kecil mas"
" Mas... mas.. walaupun di depan dia bilang iya enggak apa-apa tapi sebenarnya di dalam hati dia itu marah dan enggak terima, jadi udah ah sana pergi kasihan tuh kelamaan nungguin"
" Biarin aja, kalau dia enggak terima dan marah ya udah enggak apa-apa itu namanya bukan jodoh"
" Dihh.... ngomongnya kok kayak gitu, kalau dia beneran dengar marah loh"
"Lah kan memang benar, aku sih bicara apa adanya, kalau dia marah dan tidak terima yaudah biarkan saja toh aku mencari seseorang yang mau menerima aku apa adanya dan bisa mengerti sikap dan sifat aku"
" Dan kalau enggak bisa bersatu bukan jodoh itu namanya, jadi ngapain di pusing-pusingin. jodoh itu tidak akan kemana meskipun terpisah oleh jarak dan waktu jika sudah berjodoh pasti akan bertemu jua"
" Ihh, sok bijak banget"
" Bukan sok bijak tapi itu memang faktanya "
" Cinta akan menemukan jalannya sendiri dan jodoh tidak akan pernah tertukar kalau pun sempat tertukar pasti dia akan kembali lagi pada pemilik yang sesungguhnya" Mina terpukau dengan kalimat yang diucapkan laki-laki yang sudah cukup dekat dengannya saat ini
" Mas pandai bermain kata rupanya ya pantas aja bisa menjinakkan singa betina menjadi baik dan lembut sekarang" ucap Mina seraya terkekeh
" Wushh.... orangnya dengar marah loe dikatain singa betina" Mina langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya
" He... he... maaf, tapi kan itu memang nyatanya. Karena mas mbak Nia sekarang banyak banget perubahan dan itu bagus sih kuping jadi adem enggak mendengar omelannya yang terkadang enggak jelas" jujur Mina membuat Rino laki-laki yang sudah menganggap Mina seperti adiknya sendiri itu merasa gemas dengan kejujurannya
" Curhat nih ceritanya?" Mina cengengesan lalu menoleh kearah mba Nia yang masih setia menunggu dan melambaikan tangannya
Flashback On
Rino yang melihat kesedihan di wajah Mina tidak tenang jika membiarkan Mina pulang sendiri dalam keadaan hati yang mungkin sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja
Karena merasa khawatir dia pun langsung mengejar Mina dan saat hendak menyusul, Rino berpapasan dengan Nia yang memang ingin menghampirinya
" Loh mas mau kemana kok kelihatan cemas kayak gitu?" tanya Nia
" Mina? memangnya ada apa dengan Mina?" tanya Nia mengerutkan keningnya
" Nanti aja aku jelasin, sekarang mending ikut aku aja mengejar tuh anak " sahut Rino yang langsung menarik tangan Nia untuk ikut bersamanya
" Jangan salah paham jika aku mengkhawatirkan Mina, kamu tahu sendiri kan dia sudah aku anggap seperti adik aku sendiri" ucap Rino seraya menggandeng tangan Nia mengikuti langkahnya
" Iya mas, insyaallah aku mengerti" sahut Nia
" Itu dia, aku kejar dia dulu ya,aku cuma mau memastikan itu anak baik-baik aja"
" Iya mas" sahut Nia
Rino pun berlari mengejar Mina dan Nia hanya memperhatikan keduanya dari jauh sampai akhirnya dia pun memutuskan untuk mengikuti keduanya saat Rino menarik Mina dan membawanya ke taman
Flashback off
" Udah enggak usah khawatir soal Nia aku bisa jelasin ke dia nanti"
" Udah deh mas, aku baik-baik aja enggak usah khawatir, hati ini masih utuh dan tidak ada yang retak sama sekali" Mina berusaha meyakinkan Rino yang entah kenapa begitu perhatian kepadanya
" Benarkah? jika melihat ke sana apa kabar hati kanu? apa beneran dia masih baik-baik saja dan tidak ada yang retak?" tanya Rino menunjuk ke arah seorang pria yang sedang menggandeng tangan gadis kecil dan disampingnya ada wanita cantik sedang tersenyum kearah sang pria
Mereka terlihat seperti keluarga yang harmonis dan bahagia, berjalan beriringan sambil melempar senyum. sungguh siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa iri dibuatnya
Mina membelalakkan matanya saat netranya mengikuti arah pandangan Rino
Jlep
Ada luka tapi tidak berdarah, Mina merasakan nyeri dan sesak di dadanya melihat pemandangan indah namun menggores luka
Tanpa sadar air mata yang sedari tadi di tahannya pun akhirnya berjatuhan dengan sendirinya
" Apa masih bilang hati kamu baik-baik saja?" tanya Rino berjalan mendekati Mina yang masih menatap ke arah laki-laki yang selama ini dalam diam sangat di rindukannya
Mina langsung tersentak sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya, dengan kasar gadis itupun menyeka air matanya lalu tersenyum getir.
Gadis itu berusaha untuk tetap tersenyum walaupun begitu dipaksakan
" Aku baik-baik saja mas, tidak ada yang retak dan masih baik-baik saja" ucap Mina berbohong dengan memalingkan wajahnya tidak ingin Rino tahu kalau dia habis menangis padahal dengan jelas Rino sudah melihatnya menangis
" Baguslah kalau memang begitu kenyataannya, aku enggak perlu khawatir lagi sekarang" sahut Rino dan Mina menganggukkan kepalanya
" Iya, mas enggak perlu khawatir lagi" sahut Mina yang berusaha untuk tidak lagi menangis
" Apa kamu yakin?" tanya Rino memastikan lagi
" Iya mas, kalau gitu aku pulang ya mas itu mba Nia masih nungguin mas aku merasa tidak enak jadinya" ucap Mina seraya tersenyum
" Aku antar !"
" Enggak usah mas, aku bawa mobil sendiri" sahut Mina cepat
" Aku pulang ya mas, Assalamualaikum!"
" Tapi Mina_" belum selesai Rino bicara Mina sudah berlalu pergi dengan sedikit berlari
" Wa'alaikum salam" ucap Rino
" Dasar anak itu?" gumam Rino menggeleng-gelengkan kepalanya
Mina menghentikan langkahnya, senyum yang begitu manis dari pria yang selama ini begitu dirindukannya masih sangat jelas terbayang dalam ingatannya
Namu sayang senyum itu bukan lagi untuknya, Mina merasa dadanya semakin sesak air matanya akhirnya kembali tumpah.
" Kenapa rasanya sesakit ini? aku tidak pernah menduga akan sesakit ini, kenapa aku begitu bodoh dan air mata ini kenapa sih harus keluar lagi, buat apa aku menangis, dasar bodoh?" Mina memaki dirinya sendiri lalu menghapus air matanya dengan kasar
" Dia itu bukan siapa-siapa kamu Mina, sadar dong ngapain pakai ditangisin seperti orang bodoh"
" Pacar bukan apa bukan tapi sok-sokan sakit hati loe, jangan kayak orang patah hati karena di selingkuhin deh loe"
" Udah jangan nangis lagi dong, ingat Mina dia bukan siapa-siapa, oke!" monolog Mina berusaha untuk bersikap biasa saja dan mengendalikan perasaannya
Sudah berusaha sekuat hati untuk menyadarkan posisi dirinya yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Andi, tapi lagi-lagi ia harus menahan luka hatinya sendiri tatkala secara tidak sengaja netranya menatap pemandangan yang membuat dadanya semakin sesak
" Tidak usah dilihat kalau tidak kuat!" Mina membulatkan matanya saat seseorang yang tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan
Deg
_