DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
KELUARGA DWAYN


Meninggalkan Syahlaa dan baby Aara, kita akan beralih ke Ezio dan Zarina lagi.


Akhirnya, mobil yang Ezio dan Zarina naiki sampai juga di rumah super mewah milik Ezio.


Ezio langsung membawa masuk Zarina ke dalam kamarnya, untuk mendapatkan kehangatan yang diinginkan.


Ezio juga menyuruh koki yang bekerja di rumahnya, untuk membuatkan minuman hangat untuk Zarina.


" Kita sudah berada di rumah sayang ",, kata Ezio kepada Zarina.


" Masih dingin Papi ",, kata Zarina.


Ezio berusaha sebisa mungkin membuat tubuh Zarina tidak menggigil lagi dengan cara menyelimutinya dengan selimut tebal miliknya, lalu memperbesar suhu penghangat ruangan yang ada di rumahnya, serta dia dekap dengan sangat erat.


" Tidurlah, supaya rasa dinginnya berkurang ",, kata Ezio kepada Zarina.


Zarina hanya diam saja, dan dia mulai memejamkan matanya, ketika dia merasakan nyaman di dekap erat oleh sang Papi.


Ezio berdoa, semoga Zarina tidak demam, karena perubahan suhu yang tiba-tiba tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Ketika baru beberapa menit memeluk Zarina, pintu kamar Ezio terdengar sedang diketuk dari luar.


" Papi membuka pintu kamarnya dulu ya sayang ",, bisik Ezio kepada Zarina.


Zarina hanya mengangguk saja kepada sang Papi, dan Ezio yang sudah turun dari atas ranjang, dia langsung berlalu ke arah pintu untuk membukakan pintunya, ternyata yang datang adalah koki yang tadi disuruhnya membuatkan minuman hangat untuk Zarina.


" Tuan Ezio, saya sudah membuatkan susu coklat hangat untuk Nona Zarina, dan ini juga bubur hangat yang bisa membuat perut nyaman ",, kata sang koki kepada Ezio.


" Bawa masuk ",, kata Ezio.


Koki tersebut lalu mendorong troli makanan itu untuk dibawa masuk ke dalam kamar Ezio.


" Sini ",, kata Ezio menyuruh diletakkan di samping ranjang.


" Baik Tuan ",, jawab sang koki.


" Kamu ke luar, nanti akan saya panggil, jika sudah selesai ",, kata Ezio lagi kepada sang koki.


" Baik Tuan Ezio, permisi ",, kata sang koki itu lagi.


Koki itu langsung saja undur diri dari dalam kamar Ezio untuk kembali ke dalam dapur lagi, sedangkan Ezio langsung mencoba membangunkan Zarina untuk meminum susu coklat hangat dan bubur yang sudah dibuatkan untuknya.


" Makan dulu yuk sayang, ini Papi punya susu hangat untukmu ",, kata Ezio kepada Zarina.


Zarina berusaha bangun dari rebahannya, sambil mengeratkan mantel milik sang Papi, dan Zarina lalu mencoba membuka mulutnya ketika sedang disuapi oleh Ezio.


Di saat Ezio sedang asik menyuapi Zarina makan, tiba-tiba ponsel miliknya yang ada di atas meja samping ranjang, berbunyi dan bergetar.


" Papi angkat teleponnya sebentar ya sayang ",, kata Ezio.


Zarina hanya mengangguk saja kepada sang Papi, dan ternyata yang sedang menelpon Ezio sekarang adalah sang Mami, yaitu Mami Ingrid.


Sambil menyuapi Zarina makan bubur, Ezio juga sambil menerima telepon dari sang Mama.


" Halo Ma ",, kata Ezio.


" Halo Ezio, apa kamu sudah pulang ke Prancis?? ",, tanya Mama Ingrid.


" Sudah Ma, baru saja Ezio sampai di rumah bersama Zarina ",, jawab Ezio.


" Bersama Zarina?? ",, tanya Mama Ingrid terdengar terkejut dan juga senang.


" Iya Ma ",, jawab Ezio.


Mendengar jawaban dari Ezio, Mama Ingrid langsung merubah panggilan teleponnya dengan panggilan video call, dan itu langsung diangkat oleh Ezio.


" Lihatlah ada Nenek sayang ",, kata Ezio kepada Zarina.


" Halo Zarina cucu Nenek, lho kamu kenapa sayang, kamu sedang sakit ya?? ",, kata Mama Ingrid ketika melihat wajah Zarina.


" Tidak Ma, Zarina hanya kedinginan saja, karena suhu tubuhnya belum bisa menyesuaikan dengan suhu dingin yang ada di sini ",, jawab Ezio kepada sang Mama.


" Perbanyak makan ya sayang, supaya kamu tidak sakit, besok Nenek sama Kakek akan berkunjung ke situ, untuk membelikan makanan yang sehat untukmu, ok Princess?? ",, kata Mama Ingrid kepada Zarina.


Zarina hanya mengangguk saja kepada Mama Ingrid, dan Mama Ingrid merasa sangat senang sekali karena Ezio bisa pulang bersama Zarina.


" Oh ya Ma, Ezio tutup dulu teleponnya ya Ma, Ezio sedang mengurus Zarina sekarang ",, kata Ezio.


" Iya, tidak apa-apa, jaga Zarina ya Ezio, jangan sampai dia demam ",, kata Mama Ingrid.


" Iya Mama ",, jawab Ezio, dan sambungan video call mereka akhirnya terputus.


" Zalina sudah kenyang Papi, mau tidul ",, kata Zarina.


" Iya tidurlah sayang, mau Papi temani lagi?? ",, kata Ezio.


" Tidak mau, Zalina mau sama boneka saja ",, jawab Zarina.


" Baiklah, kalau begitu Papi ke kamar mandi sebentar ya sayang ",, kata Ezio.


Zarina lagi dan lagi hanya mengangguk saja kepada sang Papi.


Sebelum berlalu menuju ke dalam kamar mandi, Ezio memanggil asisten yang ada di rumahnya untuk membawa ke luar troli makanan tadi ke dalam dapur.


Setelah itu, barulah Ezio bersih-bersih badannya sebelum dia ikut tidur dengan Zarina.


Ezio yang sudah selesai mandi, dia hanya tersenyum saja melihat sang putri sudah cukup lelap dalam tidurnya, dan Ezio pun lalu ikut merebahkan badannya di samping Zarina, walau waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi.


" Zarina ",, kata Ezio sambil mencoba membuka matanya.


" Tangan kamu panas sekali ",, kata Ezio lagi.


Ezio lalu menempelkan tangannya di dahi Zarina, dan ternyata Zarina sedang demam saat ini.


" Astaga panas sekali tubuh kamu sayang ",, kata Ezio merasa khawatir.


Ezio lalu mengambil air hangat untuk dia mengompres Zarina menggunakan handuk kecil.


Walau saat ini Zarina sedang demam, namun dia tidak rewel sama sekali, bahkan dia masih nyenyak dalam tidurnya.


Ezio benar-benar merawat Zarina, dan ketika melihat Zarina tidak rewel, matanya malah tiba-tiba terserang kantuk lagi, dan dia lalu memilih memejamkan matanya kembali.


Sekitar pukul delapan pagi, Ezio terbangun, karena ponselnya berdering dengan sangat kencang sekali.


Dengan keadaan masih mengantuk, Ezio lalu mengangkat sambungan teleponnya yang ternyata dari sang sahabat, yaitu Lionel.


" Halo ",, kata Ezio.


" Astaga Ezio, apakah kamu masih tidur sekarang?? ",, kata Lionel.


" Iya, ada apa kamu menelponku?? ",, tanya Ezio.


" Apakah hari ini kamu tidak berangkat ke kantor?? ",, tanya Lionel.


" Tidak, Zarina sedang sakit, aku harus menjaganya di rumah ",, jawab Ezio.


" Kan ada Isabella Ezio di sana dan juga Ayahnya, kenapa kamu yang repot sampai tidak berangkat ke kantor ",, kata Lionel.


" Zarina ada bersamaku sekarang, dia ada di Prancis ",, jawab Ezio.


" Serius Ezio,?? kamu diperbolehkan membawa Zarina oleh Isabella?? ",, tanya Lionel.


" Papi mau pipis ",, kata Zarina dengan tiba-tiba, dan suara Zarina terdengar jelas di telinga Lionel.


" Sudah dulu, ada tugas negara ",, jawab Ezio langsung mematikan sambungan teleponnya.


Setelah itu, Ezio langsung membantu Zarina untuk buang air kecil di dalam kamar mandi.


Zarina yang sudah ke luar dari dalam kamar mandi, keadaannya langsung di cek oleh Ezio, dan ternyata sudah turun demam yang dialaminya tadi.


" Syukurlah tidak panas lagi ",, kata Ezio.


" Mau makan apa sayang?? ",, tanya Ezio kepada Zarina.


" Payeti ",, jawab Zarina.


" Ok, siap laksanakan, ayo kita ke dapur, akan Papi buatkan spaghetti untukmu ",, kata Ezio.


Zarina langsung merasa senang sekali, walau itu cuma spaghetti.


Ezio langsung menggendong Zarina di belakang punggungnya untuk dia ajak ke dalam dapur.


Jika mood Ezio baik, itu membuat perasaan semua pekerja yang ada di rumah Ezio juga ikut membaik, dan keberadaan Zarina di samping Ezio, membuat para pekerja di rumah itu merasa sangat terbantu sekali.


Sebab Zarina bisa membuat Ezio lebih banyak tertawa, tersenyum dan tidak mudah marah kepada mereka semua.


Ketika spaghetti yang di masak oleh Ezio sudah selesai, Ezio dan Zarina langsung menikmatinya bersama di ruang makan.


Di saat sedang asik makan, pandangan mereka berdua teralihkan dengan kedatangan dari Mama Ingrid dan Papa Fransisco.


" Cucu Nenek sedang makan ya, makan apa sayang?? ",, kata Mama Ingrid kepada Zarina.


" Payeti Nenek ",, jawab Zarina.


" Oh spaghetti, apa Zarina tidak mau membaginya dengan Nenek?? ",, kata Mama Ingrid.


" Ini ambillah Nek ",, jawab Zarina.


" Maunya Nenek disuapi Zarina ",, kata Mama Ingrid.


Zarina dengan tangan kecilnya, lalu mencoba menyuapi Mama Ingrid, dan Mama Ingrid langsung tersenyum senang akan hal itu.


Papa Fransisco yang melihat, dia tidak mau kalah dengan Mama Ingrid dan ikut mencoba menggoda Zarina.


" Kakek mau juga dong Zarina ",, kata Papa Fransisco.


" Tidak mau, nanti habis ",, jawab Zarina dengan polos.


Jawaban polos dari Zarina langsung membuat Papa Fransisco, Mama Ingrid dan Ezio, langsung tertawa terbahak-bahak.


Sungguh bodoh orang-orang yang sudah menyia-nyiakan seorang anak, apalagi ketika melihat berita di televisi ada seorang bayi dibuang, sungguh sangat miris sekali, dan tidak punya hati sama sekali orang tuanya.


Padahal dengan kehadiran anak, akan membawa keceriaan dan kebahagiaan yang tidak pernah kita dapatkan dari siapapun, termasuk dari suami sekalipun.


Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka, dan dosa-dosa kita semua, baik yang di sengaja maupun tidak.


Aamiin.


...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...


...***TBC***...