Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
[POV Alex] Ch 95 - Mencari Alasan


Aaron kembali terduduk lemas. Dia tidak bisa berkata-kata. Sepertinya dia dilema, antara harus menolak atau menerima tanggung jawab yang diperintahkan oleh Papa.


"Nak... Kamu paham situasinya sekarang? Kakakmu sudah menodai gadis itu. Dia harus bertanggung jawab. Kamu harus mengikhlaskan gadis itu. Biarkan kakakmu bertanggung jawab atas perbuatannya. Puk... puk... puk..." Papa menepuk-nepuk bahuku. Aku tidak menjawab apapun. Lidahku seolah-olah kelu. Bibirku menjadi bisu. Aku enggan berkata-kata lagi.


Setiap melihat dua manusia itu yang ada hanya kemarahan. Keinginanku untuk membunuh Aaron masih besar. Aku begitu muak dengan semuanya!!


Aku memutuskan untuk kembali ke kamar Dino dan mengabaikan orang-orang yang memanggilku. Perasaanku masih mendidih oleh amarah. Aku belum bisa memaafkan keduanya!!


***


Mama mengirimiku pesan untuk kembali ke rumah dan menghadiri acara pertunangan tertutup yang diadakan oleh keluarga. Sepertinya keluarga Pak Adrian mau menerima niat baik keluargaku untuk meminang Diana sebagai calon istri kakakku. Aku tidak tahu apakah keluarga Diana tahu alasan sebenarnya atau tidak. Aku tidak mau peduli lagi.


Perasaan dendam dan amarah itu masih ada. Perasaan itu sepertinya tidak akan pernah hilang sebelum mereka meminta maaf dengan tulus. Itupun kalau Aku memaafkannya.


Sepertinya tidak ada penyesalan dari keduanya. Diana maupun Aaron tidak mencoba untuk menghubungiku. Perasaanku semakin sakit.


Aku perlu melampiaskan perasaan ini pada hal-hal lain. Aku tetap merokok dan minum-minuman keras. Perasaan terkhianati membuat harga diriku terluka. Perasaan terbuang membuat kepercayaan diriku menjadi rendah. Hal itu mendorongku untuk melakukan pembuktian diri.


Aku mulai bermain-main dengan gadis lain sebagai ajang pembuktian diri. Membuktikan bahwa Aku masih menarik di mata mereka.


Aku memilih gadis secara random. Memeluk, mencium dan mencumbunya sembari membayangkan wajah Khansa. Tidak ada gadis yang menolakku. Sepertinya Aku masih memiliki cukup daya tarik di mata mereka.


***


Aku melupakan waktu. Entah sudah berapa lama Aku tidak pergi ke sekolah. Setiap hari Mama ke rumah Dino hanya untuk membujukku. Pada akhirnya Aku masuk sekolah, dengan syarat Aku tetap tinggal di rumah Dino sampai waktu yang tak ditentukan.


Sekolah, mengingatkanku pada Khansa. Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja? Aku ingin bertemu dengannya.


Di kelas, Aku tidak melihat keberadaan Diana. Mungkin dia memiliki alasan yang sama sepertiku. Terlalu malas ke sekolah karena terlalu banyak masalah. Aku memutuskan untuk pindah ke kursi lain. Sikapku yang seperti ini menimbulkan spekulasi teman-teman yang lain. Aku sudah tidak peduli lagi dengan pandangan mereka.


Ketika jam istirahat tiba, Aku memutuskan untuk ke kelas Khansa. Dari jauh Aku sudah bisa mengenali sosoknya. Gadis itu sedang menelungkupkan wajahnya. Ingin sekali Aku berlari dan memeluknya. Menangis di bahunya. Tapi Aku sadar Aku tidak memiliki hak apa-apa.


Melihat wajah Khansa membuat hatiku terhibur. Setidaknya pada saat ini Aku tidak mengingat kejadian itu lagi.


Aku menatap Khansa. Dia gadis yang polos dan lugu. Dia berbeda dengan Diana atau gadis-gadis lainnya. Dia begitu murni.


Aku sadar kondisi kejiwaanku yang tak stabil ini akan membawa dampak buruk bagi Khansa. Aku takut nantinya akan merusak kepolosannya. Aku harus menjauhinya.


Selamat tinggal Khansa. Jaga dirimu baik-baik. Bila emosiku sudah stabil, Aku akan segera kembali padamu. Tunggu Aku.


***


Pada suatu hari, Aku melihatnya. Diana kembali ke sekolah lagi. Dia tampak seperti biasa. Bergaul dengan teman-teman yang lain layaknya tak terjadi apa-apa.


Melihatnya membuatku kembali mengingat kejadian itu. Perasaan sakit hati karena dikhianati, harga diri yang terluka, dan rendahnya kepercayaan diri menguasaiku.


Hal itu kembali mendorongku untuk melakukan hal-hal diluar kebiasaanku. Merokok, mencoba minum-minuman keras, dan mencumbu banyak gadis, kapanpun dan dimanapun.


Kali ini pun tak terkecuali. Rasa muak dan jijik pada Diana mendorongku untuk mencumbu siapa saja yang ada di depanku. Kebetulan kali ini Aku mencumbu Briana, gadis yang sedari dulu tampak tertarik padaku.


Aku menarik tangan Briana dan tanpa sadar membawanya ke tempat itu. Aku mendorong tubuhnya hingga menempel pada tembok dan mencium bibirnya dengan rakus.


Ya, saat ini Aku sedang mencium Khansa. Khansa... Aku begitu ingin menciummu, tapi Aku tidak ingin merusakmu. Aku pengaruh buruk untukmu. Aku harus menjauhimu.


Aku mencumbu Khansa. Mengeksplore kehangatan bibirnya. Mencicipi rasa manisnya. Menekan tubuhnya agar mendekat padaku. Memberitahunya bahwa Aku menginginkannya.


KLAAAANGGG


Suara itu membuyarkan fantasiku. Aku segera melepaskan ciuman itu dan menjauhkan tubuh Kami. Perasaan jijik kembali melandaku begitu Aku tahu bahwa gadis yang kucumbu bukan Khansa.


Aku menoleh untuk melihat asal suara.


DEG


Jantungku seolah berhenti berdetak. Tubuhku tak bisa bergerak. Aku melihat Khansa asli berdiri tak jauh dari tempatku berada!!


Perasaan takut melandaku. Khansaku telah melihatku!! Dia telah melihat keburukanku! Dia tidak mungkin mau berteman denganku lagi!


"Khansa..." tanpa sadar mulut ini memanggilnya. Tubuh itu berbalik. Pancaran rasa terkejut bisa kulihat dengan jelas di wajahnya. Aku menyesal telah memanggil namanya.


Ekspresi wajahnya tampak sangat membenciku. Dengan satu kali gerakan, tubuh itu kembali berbalik dan berlari menjauh. Secara refleks Aku segera mengejar dan menarik tangannya.


"Khansa!!"


"Le-lepaskan Aku..." ucapnya. Suara Khansa tampak gemetar. Dia menangis. Perasaan bersalah menghantamku. Dia pasti shock karena sudah melihat adegan tak senonohku. Aku telah mencemari mata polosnya. Aku menarik Khansa dalam pelukanku.


"Sshhh... Maaf... Maafkan Aku... Jangan menangis lagi... Maafkan Aku..."


Entah berapa lama Aku memeluknya. Rasanya Aku tidak ingin melepas tubuhnya. Tubuh itu memberiku rasa nyaman. Aku menemukan kedamaian dari rasa amarah yang membelengguku selama ini.


Setelah tangisnya reda, Kami duduk bersebelahan. Khansa menanyakan alasanku melakukan semua hal yang menurutnya tak masuk akal. Bukannya jujur dan menceritakan masalahku yang sebenarnya, Aku malah menggodanya.


Kata-kataku berkebalikan dengan apa yang kualami. Hal itu membuat Khansa marah, hingga kata-kata yang paling kutakuti keluar dari mulutnya.


"Aku benci Kamu Alex!!"


***


Kata-kata itu tertanam begitu kuat dalam pikiranku. Aku ketakutan. Aku takut Khansa benar-benar membenciku. Aku tidak ingin itu terjadi. Setidaknya Aku harus sedikit meluruskan kesalahpahaman ini.


Aku memacu motorku menuju rumah Khansa. Di sepanjang jalan pikiranku berputar. Berpikir hal apa saja yang harus kukatakan untuk membuat Khansa mau memahami dan menerima perubahanku ini.


Aku tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Aku tidak ingin mengumbar aib Diana maupun Aaron. Bagaimanapun bej*dnya, mereka tetaplah orang-orang yang pernah sangat dekat denganku. Aku tidak ingin menceritakan keburukan mereka pada orang lain, termasuk Khansa.


Hingga akhirnya Aku menemukan suatu jawaban. Aku menggunakan alasan putus dengan Diana sebagai awal mula perubahan sikapku.


***


Happy Reading 😉


NB : Maaf kalau Aku singkat dan percepat ya, agar sedikit lebih cepat alurnya 🙏