
Andre menatapku dengan tajam, membuatku tak kuasa membalas tatapannya. Aku merasa terintimidasi. Perasaan bersalah menghantuiku.
Meskipun Aku tidak mencintainya, namun Aku menerimanya sebagai pacarku. Selama dua bulan ini dia memperlakukanku dengan sangat baik. Namun Aku benar-benar menyia-nyiakan kebaikannya.
Aku tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Bahkan sikapku selalu kasar padanya. Namun Andre tidak pernah tersinggung dengan sikap-sikapku.
Seharusnya Aku tidak pernah menerima perasaan Andre kalau pada akhirnya Aku akan menyakiti hatinya. Karena terdorong perasaan kasihan dan mungkin hatiku bisa terbuka dengan orang lain, Aku menerimanya.
Pada kenyataannya hatiku tetap untuk Alex. Bahkan tubuhku pun sekarang menjadi milik Alex.
Perasaan bersalah semakin menumpuk di hatiku. Aku menemui Alex dan tidur dengannya masih berstatus sebagai pacar Andre. Aku benar-benar menjadi wanita murahan dan tak tahu diri.
"Sha?" Andre memotong lamunanku.
"Bisa Kamu katakan alasan yang sebenarnya?" Andre terdiam, mengambil napas dalam-dalam. "Apa karena Kamu belum bisa membuka hatimu untukku? Aku bersedia menunggumu Sha. Kalau Kamu menolak lamaranku saat ini, tidak apa-apa. Kita tetap akan berpacaran. Aku akan menunggumu siap dan melamarmu kembali..."
"Tidak Mas."
"Maksudnya?"
"Aku ingin hubungan Kita sampai di sini saja. Lebih baik Kita berteman saja..."
"Sha! Kalau Kamu marah karena Aku melamarmu, Aku akan mencabut lamaranku. Anggap saja Aku tidak pernah melamarmu. Hubungan Kita akan kembali seperti semula. Tapi please Sha... Aku tidak ingin hubungan Kita berakhir. Kamu tahu kan, Aku sudah menyukaimu dalam waktu yang lama? Aku sayang Kamu Sha... Please, jangan akhiri hubungan Kita..." Suara Andre tampak memelas. Dia memegang tanganku, memohon untuk tidak mengakhiri hubungan Kami.
Mataku perih karena airmata. Aku menatap Andre dengan sedih. Menatap wajahnya lekat-lekat. Mengapa bukan pria ini yang kucintai? Pria yang tulus mencintaiku? Pria yang memiliki niat serius untuk menikahiku?
Mengapa Aku harus mencintai pria yang sama dalam waktu yang lama? Mengapa perasaanku tidak bisa berubah? Mengapa hatiku tidak membiarkan pria ini masuk?
Sekelebat pikiran melintas di benakku.
Andre... Akankah Kamu menyukaiku 12 tahun yang lalu? Akankah Kamu menganggapku ada dan tidak mengabaikanku? Akankah Kamu memperlakukan Aku dengan baik ketika orang lain bahkan tidak menyadari kehadiranku?
Karena Alex melakukan itu semua untukku. Alex ada ketika orang lain tidak ada. Alex yang membuatku menjadi orang yang berharga. Alex yang membuatku menjadi Khansa yang sekarang.
Andre... Andaikan Kita bertemu belasan tahun lalu, akankah Kamu seperti ini? Menyayangiku dengan tulus dan memperlakukanku dengan baik?
"Hiks..." Tanpa sadar Aku terisak. Isakan karena kasihan pada Andre. Isakan karena mengetahui alasan sebenarnya Aku tidak bisa melepas Alex dari hatiku.
"Khansa... Mengapa menangis? Jangan menangis sayang..." Andre berusaha merengkuhku dalam pelukan, namun Aku menolak pelukannya dengan halus.
"Ja-jangan sentuh Aku Mas..."
"Jangan menangis Sha. Please, Aku ingin hubungan Kita terus berlanjut..."
"Tapi Aku tidak bisa Mas."
"Kenapa Sha? Apa yang harus kulakukan agar bisa mengubah pikiranmu? Aku akan melakukan apa saja Sha... Please Sha... Aku tidak ingin putus..."
"Aku tidak mencintaimu Mas."
"Iya Sha, Aku tahu hal itu. Aku bersedia menunggumu..."
"Aku mencintai pria lain." Aku mencoba tegas.
"APA?!!" Andre mendongak, menatapku dengan tak percaya.
"Tapi Aku bicara jujur Mas. Ada pria lain yang kucintai. Itu mengapa Aku tidak bisa menerima perasaanmu..."
"Hahaha... Aku tidak percaya. Kalau alasanmu putus denganku karena ini, jangan harap Aku mau membiarkanmu pergi..."
"Aku sudah tidur dengannya Mas!"
Tawa hambar Andre langsung berhenti. Mulutnya terkatup rapat. Dia menatapku dengan sangat tajam.
"Bercandamu sudah tidak lucu lagi Sha. Hentikan itu, Aku tidak suka."
"Aku tidak bercanda Mas! Aku sudah tidur dengannya! Kemarin malam! Kemarin malam Kami melakukannya!" Aku berteriak, berusaha menyadarkan Andre. Memang terdengar jahat, tapi Aku harus memberitahu kenyataan yang sebenarnya. Aku tidak ingin Andre terlalu berharap padaku.
Wajah Andre terlihat pucat pasi. Dia menatapku dengan tatapan mengawang-ngawang. Pijaran rasa tak percaya, terluka, kecewa, sedih bertaburan di sorot matanya. Dia menatapku lekat-lekat. Berusaha mencari titik kebohongan di wajahku.
"Ka-kamu bercanda kan Sha?" Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. "Ka-kamu pasti bercanda... Ti-tidak mungkin gadis polosku melakukan hal itu... Hahaha, Kamu pasti bercanda Sha, iya kan?"
"Aku tidak bercanda Mas!! Kalau Kamu tidak percaya, Aku bisa melakukan test untuk membuatmu percaya. Aku benar-benar telah tidur dengannya. Aku begitu mencintainya. Karena itu Aku rela melakukannya."
"Aarrggghhhh!! Aarrrrghhh!!" Tiba-tiba secara mengejutkan Andre berteriak-teriak sembari menjambaki rambutnya. Matanya nampak merah karena amarah dan emosi lain yang bercampur di dalamnya.
Andre menatapku dan meraih kedua bahuku. Dia mengguncang-guncang bahuku dengan kuat.
"Siapa laki-laki itu?!! Siapa dia?! Aku akan membunuhnya!! Aku akan membunuhnya!!" Andre berteriak dengan lantang. Sepertinya dia sudah benar-benar kehilangan pikirannya.
"Arrrghhh!! Arrrghhh!!Arrghhhh!!" Andre berteriak-teriak. Dia memukul-mukulkan tangannya pada sofa. Sedetik kemudian dia menutup wajahnya. Tubuhnya gemetar. Andre menangis.
Aku menjadi wanita paling berdosa di muka bumi. Hatiku sakit melihatnya seperti itu. Aku tahu rasanya sakit hati. Namun sekarang Aku membuat orang lain patah hati. Andre pasti kecewa. Aku benar-benar telah menyakiti hatinya.
"Maaf... Maafkan Aku Mas... Maaf..." Dengan ragu Aku menepuk-nepuk punggung Andre. Tubuh pria itu tetap gemetar. Dia menangis tanpa suara. Getaran tubuhnya menunjukkan semuanya.
"Tega Kamu Sha... Tega..." Suara parau bercampur isak tangis terdiam. Andre benar-benar patah hati.
Aku ikut menangis.
Maaf... Maafin Aku Mas... Maaf Aku telah menyakitimu. Seharusnya sedari awal Aku tidak menerima perasaanmu. Dengan begitu Aku tidak akan memberi harapan palsu. Mas Andre... Lupakan Aku... Temukanlah wanita yang baik untukmu. Yang mencintaimu dengan tulus. Jangan wanita sepertiku. Wanita kotor dan murahan ini tidak pantas bersanding denganmu. Semoga Kamu bahagia Mas.
"Dimana laki-laki itu? Aku ingin bertemu dengannya..." Setelah tangisan yang panjang, Andre mengusap airmata di pipinya dan menatapku. Aku jadi gugup.
"Un-untuk apa Mas?"
"Aku ingin memastikan dia akan bertanggung jawab padamu. Aku ingin memastikan dia pria baik-baik. Setelah memastikan dan yakin, baru Aku akan merelakanmu untuknya. Kapan Aku bisa bertemu dengannya?" Tatapan Andre sangat teguh. Aku takut membayangkan bagaimana sikap Andre bila tahu cerita yang sebenarnya.
"I-itu tidak perlu Mas. Di-dia bertanggung jawab kok Mas. Di-dia akan membawaku bertemu dengan orangtuanya. Dia akan menikahiku..."
Dan Aku berbohong tanpa melihat wajahnya.
***
Poor U Khansa 😩
Happy Reading 😑