Aku Hanya Figuran

Aku Hanya Figuran
[POV Alex] Ch 90 - Kau Membuatku Khawatir


Aku lega mengetahui alasannya menangis hanya karena masalah nilai. Aku sudah berpikiran hal-hal buruk yang lebih besar, misal terjadi sesuatu dengan keluarganya.


Dia terlihat manis sekaligus menyedihkan. Manis karena dia menangis untuk hal-hal sepele seperti ini. Menyedihkan, karena hal yang kuanggap sepele ini bisa menentukan masa depannya kelak.


Aku memperhatikannya. Dia benar-benar tampak seperti kucing kecil yang polos dan menyedihkan. Ingin Aku mengelus kepalanya dan mengatakan, *jangan menangis, semua akan baik-baik saja*.


"Mulai saat ini Aku akan menjadi tutormu. Siapkan otakmu untuk belajar, oke?" Untuk saat ini, hanya kata-kata itu yang bisa kuucapkan.


***


Beberapa hari selanjutnya Aku mengajari Khansa pelajaran yang tak dimengertinya. Aku senang melakukannya, karena Aku bisa lebih mengenalnya.


Khansa sebenarnya seorang gadis yang cerdas. Hanya saja dia mungkin butuh pembimbing untuk mengajari materi yang sulit dipahami.


Tidak sulit untuk membuatnya paham dengan semua penjelasanku. Dia benar-benar seorang murid yang pintar. Aku merasa bangga menjadi tutornya.


Seharusnya sekarang adalah hari ketiga Kami belajar bersama. Namun ketika Aku menoleh ke kursi belakang, Aku tidak melihat keberadaannya. Sedang dimana dia?


Aku berniat kembali mencarinya, namun Diana kembali datang dan mengajakku ke kantin.


Kejadian ini berlangsung selama beberapa hari. Aku merasa Khansa tengah menjauhiku. Ada apa ini? Apa Aku berbuat salah?


Sudah beberapa hari berlalu, namun sulit sekali untuk sekedar berkomunikasi dengannya. Hari ini Aku harus bisa berbicara dengannya.


Diana kembali datang ke kelasku. Kali ini Aku menolak ajakannya ke kantin dengan berbagai alasan. Setelah Diana pergi, Aku mulai mencari Khansa. Sepertinya Aku memiliki hobi baru sekarang, yaitu mencari anak kucingku yang hilang.


Aku mencari di beberapa tempat, termasuk di belakang gedung sekolah, namun Khansa tak kunjung kutemukan. Aku mulai mengkhawatirkannya. Dimana sebenarnya anak itu?


Ada satu tempat lain yang lupa tidak kudatangi, yaitu perpustakaan. Aku memutuskan untuk ke tempat itu, siapa tahu kucingku berada di sana.


Setelah menyusuri beberapa rak buku dan mengitari kursi-kursi baca, akhirnya Aku menemukan keberadaannya. Khansa duduk di pojok ruangan. Sosoknya akan sulit terlihat bagi orang yang tidak benar-benar mencarinya. Perasaan kesal sekaligus senang menjadi satu. Kenapa Aku menjadi seperti ini?


Aku berjalan ke arah Khansa dan menarik kursi di depannya. Aku duduk sembari menyilangkan tanganku.


"Jadi di sini persembunyianmu?"


"Ke-kenapa Kamu bisa tahu Aku di sini?" Wajah Khansa terlihat gugup.


"Oh, Aku bertanya pada beberapa anak. Ada yang melihatmu di sini. Gimana? Sudah benar-benar paham dengan materinya?"


"Eh, oh... Materi matpel Fisika? Su-sudah bisa..."


"Yakin?"


"Iya."


"Coba Aku test." Aku mengambil buku Khansa dan memberinya beberapa soal. Sebenarnya mengujinya seperti ini bukan tujuan utamaku. Aku ingin tahu mengapa dia menghindariku beberapa hari ini.


"Khansa..."


"Ya?"


"Kenapa beberapa hari ini Kamu menghindariku? Apa Aku berbuat salah?" Khansa tampak gelagapan mendapatkan pertanyaan seperti itu.


"Nggak... Kamu nggak pernah salah. Aku hanya ingin belajar sendiri saja. Aku pikir tidak baik selalu bergantung padamu. Aku ingin lebih mandiri."


"Maksudmu?" tanyaku bingung. Tidak biasanya Khansa berbicara seperti ini padaku.


"Aku ingin melakukan semuanya sendiri. Kamu tidak perlu peduli lagi. Terima kasih untuk semua kebaikanmu. Aku harap kedepannya Kita tidak perlu berkomunikasi lagi." Khansa merapikan buku-bukunya, kemudian berlalu dengan cepat dari hadapanku.


***


Perasaan marah, kecewa, sedih dan menyalahkan diri sendiri berputar di dadaku. Berpikir, apa kesalahanku hingga membuat Khansa berkata seperti itu. Hal itu membuat moodku jelek selama berhari-hari.


Aku mengacuhkan Diana dan teman yang lain. Berkali-kali Diana datang ke rumah, namun Aku tidak menggubrisnya. Pada akhirnya Diana lebih sering bertemu dengan Mama dan kakakku.


Bisa melihat, tanpa bisa menyapanya, sungguh perasaan yang berat. Khansa tidak mau berkomunikasi denganku lagi. Aku bisa apa selain mendiamkann dan memperhatikannya dari jauh?


Hari ini pun begitu. Mataku tidak bisa lepas darinya. Dia terlihat tidak sehat. Wajahnya pucat. Apa dia baik-baik saja?


Khansa berdiri sekitar belasan meter dari tempatku. Aku bisa melihat keringat dingin dan wajah pucatnya yang tampak menahan kesakitan. Perasaanku menjadi tidak enak. Tanpa sadar langkah kaki membawaku untuk lebih dekat dengannya.


Khansa sedang melakukan ancang-ancang untuk mengikuti perlombaan lari. Ketika aba-aba dari guru olahraga keluar, dia segera berlari sekuat tenaga.


Tanpa berpikir, Aku juga ikut berlari di pinggir lapangan. Perasaanku sungguh tidak enak melihatnya seperti itu. Dan... dugaanku benar adanya.


Aku melihat tubuh Khansa semakin limbung. Pelan dan pelan mulai berangsur-angsur menjejak ke tanah. Aku berlari sekuat tenaga mendekatinya. Sebelum tubuh itu benar-benar jatuh ke tanah, Aku menangkapnya.


"Khansa!!" Khansa berada dipelukanku. Dia pingsan. "Khansa!!" Aku berteriak-teriak sembari menepuk-nepuk pipinya, berusaha membuatnya tersadar, tapi mata itu tidak mau terbuka. Perasaan khawatir, cemas, kalut menjadi satu.


"Khansa!! Bangun!! Sadar Khansa!! Khansa!!" Aku mengguncang-guncang tubuhnya. Sementara teman lain sudah mengerubungi Kami. "Siapa saja!! Panggilkan ambulan! Cepat panggilkan!! Khansa!! Khansa!!"


"Alex, tenang... Tidak perlu memanggil ambulan. Bawa dia ke UKS."


"Tapi Pak..."


"Percayalah. Dia tidak apa-apa. Bawa dia ke UKS. Dokter di sana pasti bisa menanganinya." Pak Riswan menepuk bahuku, meyakinkanku bahwa Khansa baik-baik saja.


Dengan sekali gerakan Aku mengangkat tubuh Khansa dan mulai berlari, membawanya ke ruang UKS.


BRAK!! Aku membuka pintu ruang UKS dengan kakiku.


"Dokter!! Dokter!! Dimana dokternya?!"


"Hei ada apa ini? Kenapa ribut sekali?"


"Anda dokternya?! Te-temanku pingsan. Dia baru saja berlari dan pingsan. Apa yang harus Aku lakukan?!" Aku tidak mengenal diriku sendiri. Biasanya Aku selalu bisa mengontrol emosi dan melihat situasi dari segala sisi. Tapi menyangkut gadis ini, Aku tidak bisa! Aku terlalu emosional untuk berpikir dengan tenang.


"Tenang. Jangan terlalu khawatir. Letakkan dia di sana." Dokter yang bernama Nina itu menunjuk salah satu ranjang di UKS. Aku segera beranjak kesana dan membaringkan tubuh Khansa dengan hati-hati.


"La-lalu bagaimana Dok?"


"Kamu diam di sini. Aku akan memeriksanya." Dokter Nina menarik tirai, hingga menghalangi pandanganku untuk melihat Khansa.


Semenit, dua menit, lima menit berlalu. Aku sudah mulai tidak sabar. Aku ingin membuka tirai itu dan menanyakan bagaimana keadaan Khansa. Sebelum Aku melakukannya, dokter Nina melakukannya lebih dulu.


SREK (bunyi tirai dibuka)


"Ba-bagaimana keadaannya Dok?"


"Dia baik-baik saja. Sepertinya dia dismenore dan anemia. Dia sedang menstruasi sekarang."


***


Happy Reading 🤧


NB : Yalord, akhirnya selesai juga nulis 1k. Maafkeun dirikuh semuanyah, karena tidak bisa update rutin lagi. Doakan agar nulisnya selalu lancar, agar bisa update setiap hari. Terimakasih buat yang sudah bela-belain vote meskipun novel ini belum update. Terima kasih buat yang masih setia menunggu AlKhans. Aku cinta kalian semua 🤧😚🤗